
Sore itu, Azlina mengecek banyak sekali notifikasi pesan baik melalui Whatsapp ataupun media sosial yang memberi ucapan selamat ulang tahun kepadanya. Gadis itu masih termenung di atas balkon kamarnya, berdiri dengan sedikit membungkuk menyangga tangannya pada pagar terali.
Sinar jingga keemasan mentari yang mulai turun dari batas cakrawala menerpa wajah Azlina. Embusan angin sore pun tampak mengibarkan helaian rambut gadis itu. Dia masih menunggu Alvaro pulang. Entah kejutan apa yang disiapkan oleh lelaki itu, membuat jantung Azlina berdebar lebih kencang. Dia tak bisa menyembunyikan kegugupannya menunggu malam nanti.
Sementara di tempat lain, Alvaro masih melakukan meeting penting dengan beberapa tim marketer terkait pemasaran produk terbaru mereka. Lelaki itu terlihat serius memaparkan berbagai gebrakan untuk meningkatkan penjualan dengan trik-trik marketing yang beberapa hari ini dia pikirkan.
Semua tim mengangguk-angguk begitu Alvaro angkat bicara, mengulas secara gamblang tanpa ada yang ditutup-tutupi.
"Maaf, Pak. Untuk desain terpilih sepertinya belum semuanya masuk."
Alvaro menyunggingkan senyum mendengar hal itu. Dia juga tidak menyangka desain sederhana Azlina ternyata ikut terpilih tanpa campur tangan dirinya. Hingga lelaki itu merasa bangga karena memiliki istri yang mempunyai daya kreatifitas tinggi. "Itu pengecualian, karena tidak diperjualbelikan."
Meeting telah usai dengan wajah puas dari setiap pesertanya. Alvaro cukup ideal sebagai pemimpin yang mampu memaparkan strategi marketing unik dan berbeda dengan apa yang biasa perusahaan lakukan. Keunikannya itu tak membuat produk mereka dinilai buruk, tetapi tetap berkelas dan berkualitas di mata Customer.
Para marketer dan staf marketing tampak keluar satu per satu dari ruangan itu dan tinggallah Alvaro sendiri di sana. Lelaki itu mengecek kembali ponselnya. Dia menghubungi pengrajin khusus yang membuat cincin pernikahan dengan desain Azlina.
Alvaro akan memberikan itu sebagai hadiah ulang tahun Azlina nanti malam. Sebuah kejutan manis kepada sang istri sebagai ungkapan cintanya yang telah lama dipendam setelah berbagai pemikiran panjang akhirnya berakhir nanti malam. Alvaro sudah tak sabar menanti malam itu tiba, menjadikan Azlina sebagai istri yang sesungguhnya.
"Jadi, belum selesai juga?" Lelaki itu terlihat geram mendengar jawaban dari orang di seberang sana. "Kapan berlian itu datang? Jangan diganti dengan berlian yang lain, karena akan berbeda artinya!"
Terdengar helaan napas berat dari bibir Alvaro. Wajahnya pun tak bisa menutupi rasa kecewa karena pesanan yang seharusnya malam ini dia berikan kepada Azlina tak kunjung selesai. Berlian berwarna merah jambu yang akan dipasangkan di atas cincin itu dipastikan belum siap karena nilai mineral yang begitu tinggi membuat beelian itu sulit untuk disesuaikan ukurannya. Tidak semua pengrajin memiliki kemampuan untuk melakukannya sehingga mereka menyewa jasa khusus dengan menerbangkan berlian itu ke negara asalnya.
__ADS_1
Lantas, apa yang harus Alvaro berikan kepada Azlina jika hadiah itu belum selesai juga?
Lelaki itu memijit pangkal hidungnya untuk berpikir sejenak. Dia kemudian menoleh ke arah pintu ketika suara seseorang memanggilnya.
"Maaf, Pak Al. Ada sesuatu yang harus kita bahas hari ini."
Alvaro menilik jam yang berada di pergelangan tangannya, hampir pukul lima sore. Sebenarnya dia harus segera pulang. Namun, terlihat ada hal yang harus segera diselesaikan membuatnya harus memundurkan jadwal pulangnya. Dia mengangguk menyetujui. "Baiklah, ayo segera selesaikan!"
Beberapa orang masuk setelah lelaki itu menyetujui, mengadakan rapat dadakan yang membahas perihal keputusan penting yang seharusnya dilakukan oleh Tuan Agus Cahyono. Meskipun Alvaro hanya sebagai Manager Marketing perusahaan, tetapi jika ada masalah serius yang menyangkut hal mendesak akan sebuah keputusan, Alvaro akan terlibat di dalamnya.
Hampir dua jam pembahasan itu masih terus saja berlangsung. Alvaro semakin gelisah mengingat janjinya kepada Azlina. Dia belum menyiapkan hadiahnya, sedangkan saat ini dirinya disibukkan dengan pembahasan esensial masalah perusahaan.
Di saat Alvaro bingung harus melakukan apa, lelaki itu melihat ponselnya bergetar dengan nama Almeera tertera di sana. Dia membuka pesan singkat dari perempuan itu yang menanyakan kabarnya, karena beberapa hari ini mereka tak saling bertukar kabar.
Namun, kali ini sepertinya Tuhan sedang memberikan dia kemudahan dengan mengirimkan Almeera. Alvaro membalas pesan itu dengan meminta tolong kepada perempuan itu.
Bukankah Almeera adalah seorang wanita. Dia pasti tahu apa yang disukai seorang wanita sehingga Alvaro meminta perempuan itu untuk membelikan kado sementara untuk Azlina.
[Baiklah, aku tahu kau suami yang baik. Aku akan membantumu.]
Pesan dari Almeera membuat Alvaro tersenyum lega. Setidaknya dia tak perlu mencemaskan hadiah untuk Azlina lagi, karena Almeera telah membantu menyelesaikan semuanya.
__ADS_1
[Terima kasih atas bantuanmu. Aku bisa meeting dengan tenang sekarang.]
...***...
Azlina duduk di atas ranjang dengan sesekali merebahkan tubuhnya terlentang. Hari semakin malam, tetapi Alvaro tak kunjung datang. Ponsel yang sejak tadi dia letakkan di sisinya sama sekali tak ada tanda-tanda Alvaro mengirimkan pesan untuknya. Entah ke mana lelaki itu sekarang? Apakah Alvaro terlupa jika malam ini akan merayakan ulang tahun Azlina berdua?
Apakah Azlina terlalu berlebihan menanggapi perkataan Alvaro yang mengatakan akan menghabiskan malam berdua dengannya?
Bahkan, ketika waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, lelaki itu tak kunjung pulang. Hati Azlina terasa teepukul dengan kenyataan yang ada. Ulang tahunnya akan terlewat dua jam setengah lagi. Apakah Alvaro malam ini tidak pulang?
Bukankah Alvaro tak pernah pulang selarut ini sebelumnya?
Hingga tak ada satu pun panggilan masuk yang mengabarkan kapan pulangnya lelaki itu?
Azlina mencoba menghubungi Alvaro, tetapi tak ada jawaban dan balasan meskipun panggilan itu tersambung. Entah mengapa hatinya semakin tidak enak, apakah Alvaro sedang mempermainkan dirinya? Mempermainkan perasaannya?
Sungguh tidak lucu jika lelaki itu sampai melakukannya. Seharusnya Alvaro tak perlu berjanji akan merayakan ulang tahun Azlina berdua sehingga perempuan itu tak terlalu banyak berharap. Hanya sekadar menginginkan kejutan kecil dari sang suami, tetapi mampu membuat hatinya sakit seperti ini.
Azlina keluar dari kamarnya, menatap langit malam yang tampak cerah malam ini. Sangat berkebalikan dengan hatinya yang suram. Dia termangu, berpikir dalam diam sembari memperhatikan bintang yang berpijar sendirian di atas sana, tak ada teman yang mengelilingi. Bintang itu sangat mirip dengannya, kesepian di hari ulang tahunnya.
Azlina mencoba tersenyum, meskipun hatinya terasa pilu. Apakah hari ini adalah hari ulang tahun terburuknya karena berharap pada seseorang yang sama sekali tak menganggapnya?
__ADS_1
》next!