Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
48. Merasa Cemburu


__ADS_3

Jelas saja Azlina bingung dengan perkataan yang terlontar dari bibir Alvaro. Dia yang sibuk belajar dan mempersiapkan diri untuk ujian, tetapi lelaki itu yang merasa tak sabar menanti kelulusan Azlina. Bukankah itu sangat aneh?


Akan tetapi, sebelum Alvaro sempat menjawab pertanyaan Azlina, seseorang mengetuk jendela kaca hitam mobil Alvaro. Itu adalah wajah Lulu yang tampak ingin mengintip apa yang terjadi di dalam mobil, seketika Azlina mendorong dada lelaki itu agar menjauh darinya.


Dia merapikan seragamnya yang sedikit lecek akibat ulah Alvaro. Sungguh lelaki itu tak kenal tempat jika ingin menciumnya. Entah mengapa seolah aktivitas itu sekarang menjadi rutinitas Alvaro sebelum mereka berpisah untuk sementara waktu.


Dengan buru-buru, Azlina menatap pantulan tatanan rambutnya di cermin, lalu menghela napas berat untuk sekadar menetralkan detak jantungnya yang sebelumnya berdegup tak beraturan. Dia mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangan Alvaro dengan cepat, karena yakin jika Lulu pasti mencurigai apa yang terjadi di dalam mobil.


"Assalamu'alaikum, Kak. Berangkat dulu."


Alvaro mengangguk tanpa mencium kening Azlina seperti biasanya. Dia terlihat masih kesal dengan teman Azlina yang tiba-tiba nyelonong ingin mencuri pandang ke dalam mobil.


Sebenarnya dia tak perlu menutup-nutupi tentang hubungannya dengan Azlina karena mereka telah sah sebagai suami istri. Akan tetapi, Alvaro tidak ingin statusnya itu membuat Azlina dibully di sekolah lantaran menikah saat masih dalam setatus sebagai seorang siswa.


Dia menatap gadis berambut panjang yang tanpa sadar telah masuk, menyelinap secara perlahan ke dalam sudut hatinya. Dari balik kaca mobil, Alvaro bisa melihat Azlina tersenyum kepada Lulu. Keduanya tampak berjalan beriringan setelah bertutur kata yang entah apa itu. Alvaro mengulum senyum di bibir. Dia merasa aneh lantaran terlalu banyak tersenyum kali ini. Ya, mungkin semua itu terjadi karena interaksinya yang cukup intens terhadap gadis itu, si bocil kesayangannya.


...***...


"Jadi, sebenarnya apa yang kalian lakukan di mobil tadi?" Lulu masih setia menunggu jawaban jujur Azlina. Gadis berpipi tembam itu tampak bersedekap dada, menuntut jawaban dari bibir sahabatnya itu.


"Enggak ada, Lu. Ish, apaan sih?"

__ADS_1


"Beneran?" Tatapannya masih menyelidik, tak begitu saja percaya dengan jawban Azlina. "Lalu, apa ini? Ayolah, Na. Ini parfum cowok. Aku yakin seratus persen jika yang tercium di tubuhmu ini parfum Om ganteng. Kalian ... pelukan atau ciuman?"


Wajah Azlina bertambah merah mendengar tebakan Lulu yang memang banyak betulnya. Sepertinya Lulu sangat berbakat sebagai penyidik atau mungkin CCTV kegiatan tetangga yang nantinya akan menjadi lanjaran perkembangan sebuah gosip terkini. Jiwa keponya benar-benar patut diacungi jempol.


"Enggak ada, Lu. Dahlah, males aku sama kamu."


Mengentakkan kaki, Azlina tampak merajuk kepada Lulu. Dia berjalan cepat meninggalkan Lulu yang masih bertahan di tempat.


"Hei, Na. Gitu aja ngambek. Aku kan cuman bercanda." Lulu berteriak sembari setengah berlari mengejar Azlina. Keduanya berakhir dengan berjalan beriringan menuju kelas.


Pandangan pertama ketika langkah kaki Azlina sudah mencapai ambang pintu kelas terpaku pada sosok yang berdiri di tengah-tengah kerumunan siswa perempuan. Sosok tampan yang sebelumnya sempat mewarnai mimpi dan jiwa halunya kini telah berada di sana. Bak sebuah bunga yang merekah indah bisa menarik perhatian para lebah.


Sayangnya istilah itu tak hanya berlaku pada sosok wanita, tetapi bisa disematkan kepada seorang pria. Siapa lagi yang bisa menarik perhatian banyak siswa perempuan di sekolah itu selain Elang, sang kapten basket sekolah.


Azlina bingung harus bagaimana menanggapi. Dia memang menyukai dan mengagumi Elang, tetapi entah mengapa Elang tak semenarik dulu saat dia belum mengenal Alvaro. Seolah-olah pesona cowok itu mulai memudar di hati Azlina. Apakah karena Alvaro telah mengambil ciuman pertamanya itu? Bukankah memang sesuatu yang pertama sangat membekas di hati hingga sulit untuk terlupakan, bahkan tergantikan?


Azlina memilih duduk di bangkunya, meletakkan ransel yang berisi buku-buku itu di atas meja. Dia sama sekali enggan berbaur dengan para siswi yang sedang mengerumuni Elang bak lebah pejantan. Namun, sepertinya kedatangan Azlina menarik perhatian sang kumbang. Elang tampak berjalan ke arah Azlina dengan meninggalkan kerumunan siswa perempuan itu.


Dia berhenti tepat di samping meja Azlina, lalu menyapa gadis itu. "Hai! Aku menunggumu."


Azlina menoleh seketika. Wajahnya langsung berhadapan dengan wajah cowok itu. Dia buru-buru menunduk, takut jika jantungnya kembali berdebar. "Eh, benarkah. Aku tidak tahu."

__ADS_1


Elang memosisikan diri dengan duduk di kursi yang ada di depan meja Azlina. Kursi itu kebetulan masih kosong karena si pemiliknya tampak belum berniat menggunakannya. Cowok berbadan atletis itu duduk di sana dengan menghadap Azlina. Siapa pun yang melihat bagaimana Elang menghampiri Azlina pasti akan merasa iri dan dengki. Pun begitu dengan Airin yang semenjak Azlina memasuki ruang kelas, mimik mukanya berubah menjadi kesal.


"Tidak apa. Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Maaf, ya, aku tidak bisa menjagamu waktu itu." Elang berkata yang sarat akan perhatian, Azlina bisa menyadari akan hal itu. Hingga ekspresi malu di wajahnya tampak jelas terlihat.


"Bukan kewajibanmu menjagaku, El. Kita ... tidak mempunyai hubungan apa-apa."


"Bukan tidak ada. Tapi belum ada." Elang mengoreksi kalimat Azlina.


"Apa?!" Azlina masih belum mengerti dengan maksud perkataan Elang. Akan tetapi, sebelum cowok berwajah di atas rata-rata itu melanjutkan perbincangan mereka, suara bel masuk berbunyi nyaring membuat semua siswa mulai memasuki kelas masing-masing.


"Lain kali kita ngobrol lagi, ya?" Elang berkata sambil mengedipkan sebelah matanya. Cowok itu segera berdiri dari duduknya karena si pemilik bangku sudah menunggu untuk menempatinya.


...***...


Seperti rutinitas harian, Alvaro sudah menunggu di depan gerbang sekolah Azlina. Pria itu sepertinya lebih bersemangat menjemput sang istri dari hari ke hari. Bahkan, saat ini dia sudah tidak sabar melihat Azlina keluar dari gerbang sekolah.


Sembari mengetuk-ngetuk gagang setir mobil, Alvaro memindai satu per satu siswa yang baru saja keluar dari sana dan pandangannya mendadak berubah kesal ketika melihat Azlina berjalan beriringan dengan seseorang siswa laki-laki dengan sesekali tersenyum malu-malu.


Entah mengapa Alvaro merasa tidak suka jika Azlina tersenyum seperti itu dengan pria lain. Meskipun dia tahu jika memang gadis itu menyukai sosok yang saat ini sedang berbicara dengannya, Elang. Alvaro merasa terganggu, tidak terima, dan kesal. Senyuman itu biasa ditunjukkan Azlina ketika mereka selesai berciuman. Harusnya, hanya Alvaro yang mendaoatkan senyuman malu dan sedikit manja itu. Bukan pria lain.


Namun, Alvaro tak bisa berbuat banyak. Kesepakatan konyol yang sempat dia katakan kepada Azlina telah menjadi bumerang baginya. Dia harus menekan kuat rasa cemburu itu karena ulahnya sendiri. Sehingga, tiada yang bisa Alvaro lakukan selain menunggu Azlina agar memutuskan pilihannya sendiri.

__ADS_1


...***...


Masih ada satu bab lagi. Ditunggu ...


__ADS_2