
Suasana kelas itu tampak hening, bahkan embusan napas penuh ketegangan anak-anak terdengar menggema di ruangan itu. Guru dari sekolah lain yang saat ini menjadi penjaga ujian mereka tampak ketus dan garang. Bahkan, satu gerakan kecil ketika Ferdi mengambil penghapus yang jatuh di lantai tak luput dari pengamatan guru itu.
"Buset! Serem banget." Ferdi mengelus dada setelah berhasil memungut penghapus yang jatuh itu. Tak ada kesempatan untuk menyontek, pun dengan bertanya satu dua jawaban kepada teman di belakangnya.
Ya, soal ujian mereka berkode sehingga soal-soal itu tak sama antara satu teman dengan teman yang lain. Ferdi harus mencari teman yang memiliki kode soal yang sama untuk bisa menanyakan jawaban yang tidak dia mengerti. Pastinya itu semua hanya akan membuang waktu yang tinggal sedikit itu.
Ujian hampir berakhir dengan menyisakan waktu sepuluh menit lagi. Keringat bercucuran bersamaan detak jantung yang berpacu lebih cepat. Melihat jawaban masih banyak yang kosong, para siswa mencari ide untuk mengelabuhi guru pengawas.
Sebuah cermin sengaja dijatuhkan, menimbulkan suara nyaring yang membuat perhatian guru pengawas teralihkan. Anak-anak mengambil kesempatan untuk saling bertanya jawaban dan itu membuat kegaduhan dalam waktu singkat.
Hanya beberapa jawaban yang bisa mereka peroleh, tetapi langsung disambut dengan jeweran telinga di masing-masing siswa. "Jangan menyontek! Kerjakan sendiri!" Jeweran itu begitu keras, membuat mereka meringis menahan sakit.
"Iya, Bu."
Tak ada pilihan lain selain merutuki nasib. Berharap Tuhan memberikan petunjuk dengan menggerakkan pensil mereka untuk memilih jawaban yang benar.
Sampai suara bel berbunyi, menandakan waktu ujian telah selesai. "Letakkan alat tulis kalian. Cepat kumpulkan ke depan!"
Beberapa anak yang lembar jawbannya masih kosong berusaha mengisinya dengan mengarang, menghitung kancing baju atau dengan melemparkan penghapus seperti dadu yang diberi tanda A, B, C, D padahal pilihan jawaban mereka sampai E. Tiada cara lain selain menunggu keajaiban Tuhan, berharap Tuhan menunjukkan jawaban ujian dari usaha yang mereka lakukan.
Semua lembar jawaban selesai dikumpulkan. Azlina dan siswa-siswa lain tampak menghela napas lega. Seratus dua puluh menit yang begitu menegangkan dan mendebarkan, mampu membuat detak jantung mereka berpacu tidak normal.
Guru pengawas sudah keluar dengan membawa lembar soal dan jawaban yang sudah dimasukkan kembali ke dalam dua amplop besar, menandakan keributan di kelas akan terjadi.
"Gila. Contekan gue enggak ada yang keluar!" Salah satu teman laki-laki Azlina menunjukkan catatan kecil yang dilipat-lipat di saku seragamnya. Semua anak tertawa melihat betapa banyaknya yang dicatat anak itu, tetapi malah tidak ada yang keluar di soal ujian.
"Lo kurang canggih. Nih, tato gua keluar semua." Ferdi juga tak mau kalah. Cowok sengklek itu dengan bangganya menunjukkan lengan kanan dan kirinya penuh dengan rumus matematika.
"Dasar kalian tukang contek!" Lulu menggelengkan kepala. Meski dia kesulitan menjawab soal, tak sedikit pun terlintas dalam pikirannya untuk menyontek. Kalau mengarang jawaban, sih, iya.
...***...
__ADS_1
Sore itu, ketika Azlina baru sampai di rumah setelah turun dari taksi online, seorang laki-laki mengenakan jaket dan helm salah satu platform ojek online datang menghampiri. Lelaki itu membawa sebuah kotak kue yang tampaknya berisi kue baru selesai panggang jika dirasakan dari bau harum butter yang menguar.
"Rumah Pak Alvaro?" Pria itu bertanya sopan kepada Azlina yang akan memasuki gerbang rumahnya.
"Iya, benar."
"Ini ada kiriman dari Nona Almeera untuk Bapak Alvaro," ucapnya sembari menyerahkan bingkisan itu kepada Azlina.
Gadis itu menerimanya seraya tersenyum. "Terima kasih. Saya akan menyampaikannya kepada Pak Alvaro."
Pria berpakaian ojek online itu pamit undur diri setelah mengucapkan terima kasih kepada Azlina. Gadis itu menghela napas menatap bingkisan yang batu saja dia terima. Dia masuk kemudian, setelah Pak Security rumah membukakan gerbang itu untuknya.
Azlina masuk terburu-buru menuju kamar, membuka apa yang dikirimkan Almeera untuk Alvaro.
"Percobaan pertama. Semoga suka ❤"
Kartu ucapan dengan gambar hati tertulis di atasnya. Harum butter dan keju memenuhi indra penciuman Azlina. Kue itu masih hangat hingga membuat perut yang lapar tergoda untuk mencicipi. Akan tetapi, Azlina tampak tak berselera melihatnya. Apalagi kartu ucapan itu jelas menggambarkan perasaan Almeera yang mulai berpaling dari Ren dan beralih kepada Alvaro.
Gadis itu memotret kue itu beserta kartu ucapannya sekali. Lalu, tanpa berpikir panjang dia mengirimkan gambar itu ke nomor Alvaro.
15.30 [Dari yang tersayang 😒] 》Send Kakak Mesum
Alvaro yang baru saja selesai rapat dengan divisi marketing menegakkan punggungnya, bersandar di kursi putar sembari mengecek pesan masuk dari Azlina. Dia tersenyum kemudian, membalas pesan singkat itu.
15.32 [Makanlah!] 》Send Bocil Kesayangan
15.32 [Enggak mau. Pahit.] 》Send Kakak Mesum
15.33 [Mana ada kue keju pahit. Bilang aja cemburu. 😘] 》Send Bocil Kesayangan
15.33 [PeDe!] 》Send Kakak Mesum
__ADS_1
15.34 [Lebih baik begitu daripada memungkiri perasaan] 》Send Bocil Kesayangan
"Ish, apaan sih." Azlina melempar ponselnya, memilih mengabaikan pesan Alvaro. Memungkiri perasaan, memang apa maksudnya?
Siapa yang memungkiri perasaan? Azlina menghela napas kemudian, membiarkan hal itu tetap menjadi sebuah pertanyaan.
Hingga gadis itu memutuskan mandi terlebih dulu sambil menunggu Alvaro pulang bekerja.
...***...
Di tempat lain, Alvaro tersenyum ketika pesannya tak kunjung dibalas oleh Azlina. Dia yakin jika gadis itu sedang kesal kepadanya.
Itu adalah kue yang sengaja dipesan Alvaro dengan mengatasnamakan Almeera. Dia meminta dikirim via ojek online tepat ketika Azlina sudah pulang dari sekolah. Rencana Alvaro tampak berhasil setelah membaca pesan penuh kekesalan yang dikirim Azlina untuknya.
Bukan tanpa alasan Alvaro melakukannya. Melihat Azlina sangat dekat dengan Elang dan mengatakan mereka telah berpacaran membuat Alvaro mencari cara lain untuk mengetahui perasaan Azlina yang sesungguhnya.
Jika memang gadis itu sudah benar-benar menikmati hubungannya dengan Elang, dia tak akan terganggu dengan kue pemberian Almeera. Namun, itu semua tak terjadi. Azlina mengirimkan pesan yang sarat akan kekesalan kepada Alvaro setelah kue itu sudah berada di tangannya.
Alvaro mulai mencari desain cincin yang Azlina daftarkan di event perusahaan. Cukup bagus, sesuai jiwa muda yang tampak menggelora di sana.
Alvaro berniat mengambil desain itu untuk dirinya sendiri. Ya, sepasang cincin yang didesain Azlina akan mewakili perasaannya kepada gadis itu. Dia akan memasangkan cincin itu di hari ulang tahun Azlina. Cincin yang berliannya ia pesan khusus di salah satu kolektor terkemuka di Indonesia.
Alvaro mulai menyadari jika cintanya kepada Almeera bukanlah cinta yang sesungguhnya. Dia terbiasa melihat Almeera bersama pria lain, tetapi berbeda dengan Azlina. Di saat gadis itu dekat dengan pria lain, hatinya tak terima. Seolah-olah gadis itu terlalu istimewa jika dimiliki oleh pria lain. Bagaimana juga Azlina belum pernah terjamah oleh pria lain selain dirinya.
Mungkin inilah yang dialami seorang Sean Paderson kepada Salwa. Dia merasa memiliki perempuan itu setelah menyadari bahwa dirinyalah pria pertama yang menyentuh Salwa. Dan kini, Alvaro juga mengalami hal yang sama, merasa memiliki gadis itu karena menjadi yang pertama.
Rasa nyaman yang dia dapatkan ketika bersama Azlina telah mengalahkan rasa cintanya kepada Almeera. Dia menyadari itu setelah berulang kali bertemu dengan Almeera, tetapi wajah Azlina yang muncul di hadapannya. Bahkan, wajah kecewa Azlina ketika melihat dirinya dipeluk oleh Almeera saat itu masih terbayang-bayang menghantui dirinya.
Alvaro merasa kesepian ketika Azlina tak mau bicara dengannya. Alvaro merasa sunyi ketika Azlina tak mau menatapnya. Dia tak bisa tidur, bahkan sekadar mengistirahatkan pikirannya di saat Azlina tak berada di sisinya. Hingga dirinya memutuskan untuk mengakhiri permainan gila itu di hari ulang tahun Azlina.
》Tinggalin jejak, lanjut, ya
__ADS_1