Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
84. Curiga


__ADS_3

"Kalian tidak menyalahkannya, bukan atas insiden ini?"


Bungkam. Semuanya tak bersuara begitu mendengar pertanyaan Alvaro terkait Azlina. Hingga hal itu membuat Alvaro semakin curiga dengan dua orang di depannya.


Apa yang sebenarnya terjadi?


Di saat bersamaan dengan pandangan yang menuntut akan sebuah jawaban dari sorot mata Alvaro, Mama Rani akhirnya bersuara. "Istirahatlah! Jika kau tidak segera sehat, bagaimana bisa menemui istrimu."


Alvaro merenung sejenak. Dia memang merasa lemah saat ini, kekuatan yang sebelumnya begitu besar tatkala dirinya terbangun dari pembaringan seolah-olah lenyap sudah. Lalu, dia mengangguk lemah, pikirannya masih tak lepas dari Azlina yang sebelumnya tampak sedang dalam bahaya berada di mimpinya. Perempuan itu ... sedang membutuhkannya.


Tatapan yang penuh permohonan ketika di mimpi itu terlihat nyata, seakan-akan Azlina memang begitu membutuhkan pertolongannya, hingga Alvaro memiliki tanaga ekstra untuk bangun dari alam bawah sadarnya.


"Baiklah! Aku akan menemuinya di rumah." Dia berbaring lagi kemudian, merebahkan tubuhnya yang memang kurang bertenaga.


Alvaro mengerjapkan kelopak matanya, memandang langit-langit kamar yang gelap sembari membayangkan wajah Azlina. Perasaannya sudah mulai tidak enak di saat tersadar tak mendapati perempuan itu di sisinya dan saat ini, matanya pun sulit terpejam karena Azlina tidak ada bersamanya.


...***...


Suara derit roda dari meja perawat yang didorong membangunkan Alvaro yang baru saja bisa memejamkan mata. Kunjungan pemeriksaan pasien setiap pukul lima pagi oleh perawat membuat Alvaro urung mengistirahatkan matanya kembali.

__ADS_1


Berbeda dengan Alvaro, dua orang yang sedang menjaganya tampak lelah hingga tak menyadari ada kunjungan perawat saat ini.


"Pagi, periksa dulu, ya?"


Perawat wanita itu menyapa dengan sopan, lalu mengeluarkan alat pemeriksa tekanan darah untuk dibalutkan di lengan Alvaro, lalu semakin lama akan terasa semakin mengapit dan menekan kemudian longgar kembali dalam beberapa saat. Perawat itu tampak tersenyum setelah melihat hasil dari pengecekan tekanan darah.


"Cukup baik. Sepertinya kedatangan Nona cantik kemarin menjaga Anda semalaman sangat berpengaruh dengan kepulihan kondisi Anda. Saya sarankan Anda memintanya untuk sering-sering berkunjung agar kesehatan Anda cepat pulih kembali."


Perawat itu berkata dengan sedikit menggoda, tangannya cekatan mengganti tabung infus yang hampir kosong dengan tabung infus yang baru. Dia juga menyuntikkan sesuatu di selang infus Alvaro yang merupakan obat injeksi harian yang harus diberikan ke tubuh lelaki itu.


"Nona cantik? Siapa?"


Perawat itu pun tampak salah tingkah, karena tidak sempat berkenalan dengan gadis yang dimaksudkan. "Emm, dia yang kemarin malam menjaga Anda di sini. Masih muda, rambutnya lurus dan berponi."


"Oh, begitu, ya?" Suster itu mengemasi perlengkapan medis yang tercecer di atas ranjang perawatan Alvaro untuk kemudian meletakkannya di atas meja doronyanya. "Dia sangat mencemaskan Anda. Dia semalamam menangisi Anda hingga ketika pagi, matanya sembab. Baiklah, saya permisi dulu. Silakan istirahat kembali."


Alvaro hanya mengangguk menanggapi, tangan yang terbebas dari jarum infus ia tekuk untuk menumpu belakang kepalanya. Matanya masih menatap ke atas, yaitu langit-langit kamar yang membentang di sana. Dia akan segera pulang, ingin bertemu istri kecilnya itu, melanjutkan malam yang sejak lama dia impikan.


...***...

__ADS_1


Dua hari berlalu setelah Alvaro sadar dari koma, lelaki itu tak sekali pun menanyakan tentang Azlina. Hingga Mama Rani dan Papa Agus juga tak memusingkan kepergian perempuan itu dari rumahnya.


Agak aneh memang, selama dia sadar Azlina tak pernah menjenguknya. Dia ingin bertanya, tetapi urung dia lakukan lantaran tak ingin memusingkan hal itu. Lagi pun, perawat itu mengatakan bahwa Azlina menjaganya semalaman dengan menangisinya hingga bermata sembab, sehingga Alvaro meyakini jika perempuan itu pasti sangat mencemaskan keadaannya.


Sampai ketika dia merasakan rindu yang teramat sangat kepada sang istri, membuat Alvaro segera meminta sesuatu kepada Mama Rani. "Ma, di mana ponselku?"


"Heem, ...." Mama Rani merogoh tas kecil miliknya, mengambil ponsel Alvaro untuk kemudian menyerahkannya kepada lelaki itu.


"Ini, sudah Mama isi full dayanya."


Lelaki itu mengambilnya seraya mengucapkan terima kasih.


Membuka aplikasi pesan, Alvaro mengecek satu per satu pesan di sana. Tidak ada pesan dari Azlina sama sekali, justru Almeera yang terlihat ada sepuluh notifikasi pesan, tetapi diabaikan oleh Alvaro. Biar saja perempuan itu menganggap jika dirinya belum sadarkan diri. Alvaro masih malas bertemu dengannya.


Merasa terlalu rindu, Alvaro segera menghubungi sang istri yang entah berada di mana sekarang. Mamanya mengatakan jika Azlina berada di rumah, tetapi mengapa perasaannya justru sangat mencemaskan perempuan itu. Mungkin dia terlampau gelisah karena tak mendapati sang istri di sisinya.


Tangan Alvaro menekan tombol men-dial nomor telepon Azlina kemudian. Panggilan Alvaro tak tersambung, bahkan hanya suara operator yang memberi tahu jika nomor telepon yang dituju sedang tidak aktif.


Ada apa ini?

__ADS_1


Alvaro mencobanya sekali lagi dan hasilnya tetap sama, membuat lelaki itu mengernyit heran. Dia mengempaskan ponselnya, lalu mengarahkan pandangan ke arah Mama Rani. "Ponsel Zizi tidak aktif, Ma. Apa benar dia di rumah?"


Mama Rani yang sebelumnya hanya fokus pada smartphone miliknya seketika mengalihkan perhatiannya ke arah Alvaro, wajahnya pun mendadak pasi karena tiba-tiba Alvaro menanyakan perihal Azlina yang sudah diusir dari rumah.


__ADS_2