Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
57. Pengintaian Part 2


__ADS_3

Di meja makan itu hanya diisi oleh dua anggota keluarga. Azlina dan Alvaro hanya menghabiskan makan malam mereka tanpa ada perbincangan sedikit pun. Gadis itu enggan menatap atau pun sekadar membuka suara untuk mencairkan suasana. Dia merasa begitu lebih baik sampai kedua orang tua Alvaro kembali ke Indonesia dan mengakhiri hubungan aneh yang telah mereka lakukan.


"Aku mau pergi." Akhirnya Azlina bersuara setelah mengusap bibirnya menggunakan sapu tangan.


"Ke mana?"


"Bertemu Elang." Tanpa menatap ke arah Alvaro gadis itu mengucapkannya. Pandangannya hanya lurus ke depan, tak ingin sedikit pun melihat Alvaro.


"Aku antar."


"Tidak perlu. Aku bisa berangkat sendiri"


Azlina bangkit, tak memedulikan wajah geram Alvaro. Dia merasa tak perlu lagi berbasa-basi atau bersikap lembut kepada lelaki itu. Bukankah memang pernikahan mereka tinggal menghitung minggu dan memang tampaknya sudah tidak ada yang perlu diperbaiki lagi?


Rasa kesal dengan perasaan sakit yang sempat ditorehlan Alvaro kepadanya sudah cukup membuat Azlina tak ingin menoleh ke belakang lagi. Lebih baik baginya untuk segera pergi, menghindar dari lelaki itu. Lelaki yang ternyata tanpa disadari merasuk begitu dalam di sudut hatinya yang tak tersentuh.


Sebelum rasa itu timbul dan menularkan virus menjalar ke seluruh hatinya, Azlina harus secara tegas menolaknya, menghentikannya. Hingga ketika Alvaro memanggil namanya untuk pertama kali, ada rasa nyeri yang terselubung di sanubari.


"Zi!"


Panggilan pertama Alvaro kepada Azlina justru membuat luka lebih mendalam di hatinya. Azlina menghentikan langkah tanpa membalik badan, menunggu kalimat apa yang Alvaro ingin katakan kepadanya. Namun, tampaknya lelaki itu tak berniat melanjutkan perkataannya sehingga Azlina segera pergi dari ruang makan itu.


Kini tinggallah Alvaro seorang diri, memukul meja sebagai pelampiasan, tetapi tetap saja tak memengaruhi keadaan yang ada.


Mengapa semuanya berubah seperti ini? Dia hanya ingin melakukan apa yang sudah mereka sepakati sebelumnya. Dirinya mengejar Almeera dan Azlina mengejar Elang. Bukankah semuanya sudah sesuai rencana? Namun, mengapa sikap dingin Azlina yang ditunjukkan kepadanya membuat lelaki itu tak senang.


Ada suatu hal yang hilang ketika Azlina tak lagi menatapnya, tak lagi berbicara lembut kepadanya. Bahkan, gadis itu tak ingin disentuh oleh dirinya sedikit pun, meski hanya mencium keningnya saja.


Alvaro merasa ada sesuatu yang terkelebat dan kasat mata menghilang dari tempatnya. Akan tetapi, semakin dia mencoba mencari, semakin tak mengerti apa itu. Wajah cerah yang setiap hari ditampilkan dari raut mukanya seolah-olah lenyap menyisakan kehampaan yang nyata. Dia merasakan itu, tetapi tak tahu bagaimana harus menyikapinya.

__ADS_1


Derit-derit engsel pintu yang telah kehilangan pelumasnya, menimbulkan bunyi-bunyi yang tak layak untuk sekadar didengar. Pun dengan Alvaro yang kini telah kehilangan keceriaan yang sejatinya bisa dia dapatkan sebelum keputusan itu dia ambil.


Alvaro hanya bisa menatap kepergian Azlina yang tampak cantik dengan balutan pakaian sederhana. Gadis itu terlihat bagai peri pengantar kebahagiaan yang kini sedang berusaha pergi darinya.


Azlina tak banyak mengaplikasikan make up di wajahnya, tetapi tetap saja Alvaro merasa tidak rela jika Azlina melakukan itu untuk bertemu pria lain. Hingga dia memutuskan untuk membuntuti Azlina, tanpa sepengetahuan gadis itu tentunya.


Tampak di sana Azlina tengah menghentikan taksi yang sepertinya telah dipesan lewat aplikasi online. Azlina memasukkan tubuhnya ke dalam mobil itu, dan dengan secepat kilat Alvaro segera melajukan mobilnya.


Meskipun dalam agama dia berhak melarang Azlina pergi, tetapi dia dalam posisi bersalah. Almeera tiba-tiba datang bertandang ke rumahnya, membawa masalah pribadinya karena telah dikhianati oleh Ren. Perempuan itu tengah rapuh dan Alvaro merasa saat itulah kesempatan menawarkan sandaran untuk Almeera. Namun, ketika Azlina menatapnya penuh kekecewaan, Alvaro merasakan sebuah luka nyeri di relung hatinya yang terdalam.


Sorot mata Azlina merefleksikan sebuah kesedihan yang tak bisa diungkapkan oleh lisannya. Mungkin Azlina juga bingung akan perasaannya, sama dengan dirinya yang merasa kalang-kabut ketika gadis itu tak lagi memandangnya dan justru ingin menemui pria lain selain dirinya.


Sepenggal kisah terkait sebuah penyesalan akan berartinya seseorang setelah mereka pergi, tampaknya berlaku bagi Alvaro. Dia merasa Azlina hanyalah orang asing yang kebetulan berada dalam satu lingkaran takdir dengannya. Dia tak menyangka jika takdir itu telah mampu menjungkirbalikkan hatinya. Hingga kini sikapnya yang membuntuti gadis itu sudah cukup membuktikan betapa berharganya sosok Azlina dalam kehidupannya.


...***...


"Om, pegangin!"


Entah ini ide siapa, alih-alih menonton film romantis, Azlina dan Elang justru menonton film Tom and Jerry. Hal itu membuat Alvaro terpaksa ikut menonton film absurd itu meski hatinya menolak keras.


Harga dirinya sebagai pria dewasa yang cool dan tampan rusak total jika ada yang memergokinya menonton film seperti itu.


"Jangan lempar-lempar pop corn!"


"Hussst!" Teriakan Alvaro langsung diserbu oleh ibu-ibu yang sedang membawa anaknya menonton film tersebut. Entah mengapa dia sesial itu, melihat dari jauh Azlina tertawa riang bersama Elang membuat hati Alvaro mendadak dongkol.


Harusnya dia yang di sana, bukan cowok sok keren itu. Tanpa disadari karena menahan kesal pop corn dan cola yang ada di tangan telah habis dimakan oleh Alvaro, membuat anak nakal yang tadi menitipkan makanannya kepada Alvaro berteriak.


"Om, kenapa dihabiskan! Itu kan punyaku."

__ADS_1


Suara anak-anak itu membuat keributan, berhasil membuat mata semua orang menatap Alvaro dengan tatapan kesal, seolah-olah Alvaro tak bisa menenangkan anak-anaknya. Hingga lelaki itu panik, membungkam mulut dua anak nakal itu. "Jangan teriak! Om belikan setelah ini."


Alvaro meringis ke semua orang yang sedang menatapnya. Dia seperti sedang mengancam dua anak pembawa keributan itu dan menjadi pihak tertuduh.


Mulut kedua anak itu akhirnya bisa tenang ketika Alvaro menjanjikan uang dua ratus ribu kepada mereka. Dasar anak zaman sekarang, mata duitan!


Film itu selesai diputar dengan cahaya ruangan yang mendadak terang. Alvaro menyembunyikan wajahnya dengan menutupi menggunakan brosur yang dibagikan oleh sales perumahan di depan pintu masuk.


Matanya tak beralih sedikit pun dari tangan Azlina yang digandeng oleh Elang. Sungguh menyebalkan. Alvaro merasa kesal melihat kedekatan Azlina dengan cowok sok kegantengan itu.


Dia ingin membuntuti Azlina lagi, tetapi dua orang anak nakal itu segera menghadangnya. "Mana dua ratus ribu buat kami, Om?"


"Cih, masih inget juga!" Alvaro tampak menggelengkan kepala melihat tingkah anak zaman sekarang yang berani memalak orang dewasa.


"Jelas, dong, Om! Sini, Om, buruan!"


Dengan wajah kesal, Alvaro mengeluarkan dua ratus ribu dari dompetnya, lalu diberikan kepada dua orang anak itu.


"Kok cuma segini, Om? Harusnya masing-masing dua ratus ribu, kan. Ini uangnya kurang!"


Alvaro ingin mendebat, tetapi dia teringat akan Azlina. Hampir saja dia kehilangan jejak gadis itu gara-gara dua anak nakal yang kini sedang meminta uang kepadanya. Tak ingin banyak membuang waktu, Alvaro terpaksa mengeluarkan dua lembar ratusan ribu lagi dari dompetnya.


Matanya masih mengedar mencari ke mana Azlina dan Elang pergi. Tampaknya dua orang itu keluar dari area bioskop menuju ke pusat perbelanjaan.


Alvaro masih mengintai, tak ingin kehilangan jejak sang istri. Di sana Azlina terlihat bahagia dengan senyum mengembang ketika berbincang dengan Elang. Hal itu cukup membuat hati Alvaro terluka. Dia tak pernah melihat tawa Azlina lepas sejak kejadian itu.


Apakah memang Azlina terluka karena sikapnya? Bukannya sebelum itu, Azlina adalah sosok ceria yang pernah Alvaro kenal, tetapi setelah kedatangan Almeera ke rumahnya, Azlina berubah menjadi dingin dan kasar.


Dari balik manekin yang berada di depan Alvaro, dia bisa melihat Azlina mencoba berbagai macam aksesori wanita, tetapi tak berniat membeli. Hanya mencoba-coba saja sudah membuat hati gadis itu senang. Sungguh Alvaro ingin sekali membelikan semua yang dicoba oleh Azlina hari ini. Dia terlupa selama dirinya menikah, tak sekali pun mengajak Azlina pergi jalan-jalan atau sekadar berbelanja. Untuk saat ini Alvaro merasa dia telah jahat sebagai seorang suami.

__ADS_1


》Next!


__ADS_2