
Di ruangan itu, di mana Alvaro masih terbaring di sana. Mama Rani masih setia menjaga putra semata wayangnya dengan sabar. Perempuan itu tak sekali pun melepaskan pengawasan dari sosok yang belum juga membuka mata hingga detik ini.
Dokter mengatakan jika siang ini pengaruh obat penenang yang disuntikkan kepada Alvaro akan habis, sehingga perempuan itu memutuskan terus saja berada di samping Alvaro, berharap ketika putranya terbangun, dirinyalah seseorang yang pertama dilihat oleh lelaki itu.
Waktu terus bergulir, mentari pun tergelincir meninggalkan singgasananya. Sampai senja berubah menggelap, tak ada tanda-tanda Alvaro membuka mata, membuat Mama Rani kian frustrasi. Apa yang harus dia lakukan agar anaknya itu segera membuka mata?
Perempuan itu kian merutuk seorang Azlina yang telah membuat putranya menjadi seperti ini, tak berdaya dan hanya bisa terbaring lemah di atas ranjang. Alvaro adalah kebanggaannya, kesayangannya, tak pernah sedikit pun mengecewakannya. Namun, kali ini lelaki itu telah memawa perempuan yang salah untuk dijadikan istri.
Air matanya mengalir pedih, menanti pengharapan sia-sia akan kesadaran putranya, mengharap mata yang telah tertidur cukup lama itu terbuka menatapnya, meminta sesuatu kepadanya. Dia berjanji akan mengabulkan apa pun permintaan lelaki itu jika terbangun nanti.
Waktu berlalu begitu cepat, hingga petang datang membentang di keheningan malam. Ruangan itu cukup redup karena cahaya dari lampu utama telah dimatikan untuk menyamankan indra penglihatan yang sedang mengistirahatkan diri sejenak, sehingga tak perlu silau akan pendaran lampu yang terlalu terang. Tersisalah cahaya lampu tidur yang terletak di sisi tengah bagian atas dinding dekat ranjang pasien.
Di sana, sosok yang terbaring di atas ranjang itu tampak mengernyitkan dahi, seolah-olah mengalami mimpi buruk di alam bawah sadarnya. Tangannya mengapal kuat, hingga memutih buku-buku jarinya. Peluhnya bercucuran membasahi pelipis serta kening, dan mata itu ... ya, mata itu tiba-tiba tebuka sempurna bersama teriakan yang keluar dari mulutnya.
__ADS_1
"Zizi ....!" Suara itu berteriak lantang, membangunkan sepasang manusia yang sedang tertidur di ranjang khusus penunggu.
Mereka terkejut dengan teriakan yang ada, tanpa sempat mengucek kedua mata, dua orang itu mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara. Terlihatlah di sana Alvaro sedang terduduk dengan napas tersenggal. Keduanya segera beranjak dari tidurnya, berjalan setengah melompat mendekat ke arah ranjang anaknya.
"Panggil dokter, Pa. Putra kita siuman." Mama Rani menarik-narik ujung kaus Papa Agus begitu menyadari jika Alvaro telah sadar.
Tanpa menanggapi perkataan sang istri, Papa Agus segera menekan tombol emergency yang berada di atas ranjang Alvaro beberapa kali, merasa tak sabar akan mengetahui kondisi sang putra yang tiba-tiba duduk dari pembaringan.
Tak selang berapa lama, seorang dokter diikuti perawat di belakangnya datang dengan sedikit tergopoh. Ruang dokter memang tak jauh dari ruang Alvaro, karena di satu lantai memiliki beberapa dokter jaga khusus yang menangani pasien pengguni ruangan VVIP.
"Kondisinya sangat stabil. Tolong ambilkan pasien minum."
Perawat di belakangnya segera menuangkan air di teko kaca ke dalam gelas bening dengan porsi separuh, lalu memberikannya kepada Alvaro. "Minumlah, Tuan. Ini untuk menenangkan perasaan Anda."
__ADS_1
Tatapan Alvaro masih nyalang, dipenuhi ketakutan yang nyata. Matanya menatap gelas berisi air itu, lalu beralih kepada perawat yang sedang menyodorkan minuman kepadanya. Sejenak dia hanya diam, lalu memilih menerima gelas itu untuk ditenggaknya.
Pikiran Alvaro masih berkabut, antara halusinasi dan juga kenyataan. Ekor matanya menyapu ke segala penjuru sembari mengumpulkan pecahan ingatan barang sepenggal demi sepenggal untuk kemudian dirangkainya menjadi satu untaian memori yang menjelaskan berbagai kejadian sebelum dia kehilangan kesadaran.
"Pihak keluarga silakan menemani pasien. Kami undur diri dulu." Dokter itu berucap sopan sebelum pada akhirnya keluar dari ruangan itu.
Pintu telah tertutup setelah dokter dan perawat keluar dari ruangan Alvaro. Lelaki itu menoleh ke arah Mama Rani dan Papa Agus secara bergantian. "Di mana Zizi?"
Mama Rani yang melihat raut penuh kecemasan di wajah Alvaro, berusaha menenangkan lelaki itu.
"Tenanglah! Dia ada di rumah." Tidak mungkin bukan mengatakan jika Azlina telah diusir olehnya. Dia akan mengatakan yang sebenarnya bagaimana kelakuan Azlina di belakang Alvaro setelah anaknya itu sembuh dari perawatan.
"Dia baik-baik saja, 'kan?" Kali ini Alvaro menatap ke arah Papa Agus, yang tentu saja memiliki ekspresi berbeda dengan Mama Rani.
__ADS_1
"Dia baik-baik saja, Sayang. Dia sedang kelelahan menjagamu, sehingga Mama memaksa dia segera pulang untuk beristirahat." Mama Rani kembali menyela, takut jika suaminya keceplosan dengan mengatakan yang sejujurnya.
"Benarkah? Tapi ... perasaanku mengatakan, bahwa dia tidak baik-baik saja." Alvaro menatap lekat wajah sang papa, lalu melanjutkan kalimatnya. "Kalian tidak menyalahkannya, bukan atas insiden ini?"