
Pantas saja Azlina tak berpamitan kepadanya. Membaca surat dari perempuan itu saja sudah membuat hati Alvaro sesak, bagaimana dengan kondisi jiwa serta hati sang istri ketika dihadapkan dengan kenyataan seperti itu ditambah menerima kemarahan Mama Rani yang sampai tega mengusirnya dari rumah?
"Aaaaaarrrgggh!"
Alvaro berteriak sendiri di dalam kamarnya, merasakan hal yang tidak sepatutnya terjadi kepada Azlina. Bahkan, dia belum sepat membahagiakan perempuan itu, membuatnya senang dengan pernikahannya, tetapi semua tragedi memilukan telah terjadi di luar kendalinya.
Ke mana dia harus mencarinya?
Apakah di rumah mertuanya?
Tapi, apa yang harus dia katakam kepada mereka? Apa?
Alvaro menarik rambutnya sendiri menggunakan kedua tangan, mencengkeramnya, seperti seseorang yang telah kehilangan akal. Segala yang telah terjadi sungguh di luar kendalinya, hingga ia memikirkan satu hal.
Almeera, ya, dia harus mencari Almeera terlebih dulu. Perempuan itu harus mendapatkan pelajaran pertama agar bisa menghargai orang lain. Sejak awal pertemuannya dengan Azlina, Almeera bersikap terlalu arogan. Alvaro sebelumnya tak pernah memusingkan sikap buruk Almeera karena dia dibutakan oleh cinta serta kecantikan perempuan itu, tetapi saat ini ketika matanya terbuka lebar dengan apa yang terjadi, dia menyesal telah membuat Almeera merasa di atas angin.
Azlina menjadi korban ketika dirinya tak sanggup melindungi. Ini adalah kesalahannya karena tak bertindak cepat untuk segera menyelesaikan hubungannya dengan Almeera. Akan tetapi, apa yang perlu diselesaikan, sementara Alvaro dan Almeera belum memiliki hubungan apa-apa.
Mungkin, Alvaro harus mempertegas perasaannya kepada perempuan itu karena pada saat itu dirinya sempat mengutarakan cinta kepada Almeera yang hanya ditanggapi dengan penolakan yang nyata. Dan ketika dirinya telah bisa menerima pernikahannya sendiri, Almeera datang menyambut cinta yang sempat ditolak saat lalu. Sungguh cinta terlalu membingungkan pemiliknya, hingga sang pemilik hati harus bisa dengan jeli memilih dan memilah hubungan yang benar-benar didasari oleh cinta atau hanya obsesi semata.
Alvaro segera mengenakan pakaiannya, mengambil kunci mobil dan beberapa pakaian sebagai persediaan mencari Azlina. Jika memang perempuan itu berada di rumah mertuanya, dia bisa menginap beberapa hari di sana sambil membujuk sang istri agar mau kembali bersamanya.
Persetan dengan kemarahan keluarga Azlina, terutama kakak iparnya yang seperti monster itu. Tak menhapa jika memang dia akan mendapatkan pukulan dari lelaki itu asalkan Azlina mau kembali bersamanya. Dia tak bisa jika hidup tanpa perempuan itu, tidak sanggup berpisah terlalu lama, apalagi harus bercerai.
Alvaro buru-buru menggelengkan kepala ketika kata perceraian tebersit dalam kepalanya sesuai dengan apa yang diucapkan oleh Mama Rani. Berjauhan sebentar dengan Azlina saja dia merasa tak sanggup, bagaimana mamanya bisa menyruhnya bercerai?
__ADS_1
Dengan sikap tergesa, Alvaro segera keluar dari kamarnya untuk segera mencari Azlina. Namun, sebelum mencari sang istri, Alvaro ingin menemui Almeera terlebih dulu.
Jika Azlina mengatakan cincin itu untuk Almeera, kemungkinan besar cincin itu saat ini sedang berada di tangan perempuan itu. Sebelum Almeera merasa memilikinya, dia harus segera mengambilnya dan menjelaskan segalanya sebelum terlambat.
Memasuki mobil yang ada di garasi, Alvaro segera melajukan mobilnya. Tak memedulikan kebingungan pelayan yang melihatnya baru pulang dengan kondisi pucat, lelaki itu langsung keluar melesatkan mobilnya begitu saja.
Dia menilik jam analog yang ada di dashboarb mobil. Waktu masih menunjukkan pukul sepuluh siang. Almeera pasti masih berada di kantor saat ini. Perempuan itu mengemban posisi manager keuangan di sebuah Perusahaan multinasional.
Alvaro memutuskan langsung saja ke kantor Almeera, tak ada waktu lagi untuk menunggu. Dia akan memaksa atasan Almeera untuk mengizinkan perempuan itu menerima tamu sebentar saja.
Dua puluh menit berlalu dengan Alvaro sudah memarkirkan mobilnya di parkiran khusus tamu. Dia segera turun dari mobil, melangkah dengan cepat menuju lobby kantor.
Dengan sopan petugas resepsionis menyambutnya, tetapi Alvaro segera meminta untuk dihubungkan dengan pemimpin perusahaan.
"Aku ada perlu dengannya. Kami sudah ada janji. Katakan saja jika aku perwakilan dari perusahaan ... Paderson." Alvaro meminjam nama perusahaan Sean Paderson karena perusahaan yang sedang dikunjunginya ini memiliki keterikatan dengan perusahaan milik kakak ipar Azlina.
Mendengar nama itu disebut, perempuan bersanggul rapi dengan senyum menawan itu tak berani bertanya lagi. Segeralah dihubungkan Alvaro dengan pemimpin perusahaan agar masalah cepat teratasi. "Ini, Tuan. Syaa sudah menghubungkan dengan pemimpin perusahaan."
Alvaro hanya tersenyum datar, tak menyangka begitu mudah mengelabuhi orang-orang di sini. Dengan sikap tenang dan sangat percaya diri, Alvaro menerima gagang telepon itu dan mulai berbicara dengan seseorang yang memiliki jabatan tertinggi di perusahaan itu.
Segala basa-basi dan hal-hal aneh disampaikan Alvaro agar bisa memaksa si lelaki berusia kepala empat itu yang merupakan pemimpin perusahaan mau menerima permintaannya untuk mengajak Almeera pergi atau berbicara empat mata. Hingga sebuah kesepakatan terjadi dan dimenangkan oleh Alvaro.
"Bagus! Suruh segera manager keuangan Anda untuk segera muncul di sini. Aku menunggunya!" Alvaro berkata dengan nada memerintah, seolah dia atasan di sana.
"Kau ... memerintahku?"
__ADS_1
"Tidak, Tuan. Aku hanya butuh bicara masalah keuangan yang keliru dengannya. Harusnya Anda sebagai pemimpin tidak membuat masalah semakin besar dengan menolak permintaanku bertemu dengan manager keuangan Anda."
Terdengar desàhan kasar dari bibir lawan bicara Alvaro, lalu sebuah keputusan baik diambilnya.
"Baiklah. Tunggu saja, dia akan datang menemuimu!"
Telepon ditutup dengan senyum lega terbit di bibir Alvaro. Dia meletakkan gagang telepon itu di tempatnya sembari berterima kasih kepada petugas resepsionis itu.
Dia duduk dengan menyandarkan punggung, tangannya bersedekap dengan mata mengawas di satu tempat, lorong.
Tidak butuh waktu lama, Alvaro sudah melihat Almeera keluar dari lift petinggi, lalu berjalan ke arahnya dengan senyum mengembang. Perempuan itu seperti biasa tampak cantik dan memesona, tetapi yang berbeda adalah perasaan Alvaro. Dia mulai membenci Almeera.
Melihat Alvaro yang sudah sehat dan malah segera menemuinya membuat Almeera kian bahagia. Dia merasa bangga dengan hal itu, karena lelaki itu telah repot-repot mengancam atasannya agar bisa bertemu dengan dirinya. Hingga ketika Almeera sudah mendekat, Alvaro berdiri menyambut perempuan itu.
Namun, siapa sangka pergerakan Almeera selanjutnya membuat Alvaro tak suka. Almeera memajukan tubuhnya untuk memeluk Alvaro sambil mencium pipi kanan dan kiri lelaki itu, tetapi dengan tegas Alvaro menahannya. "Almeera, jaga sikapmu. Ini di kantor!"
Seketika Almeera menjadi salah tingkah, tak menyangka mendapatkan penolakan dari lelaki itu. Dia masih menyunggingkan senyum meski rasanya begitu malu. "Maaf, aku hanya sangat senang ternyata kau sudah sembuh dan aku ... sangat merindukanmu."
Alvaro tidak menanggapi perkataan rindu Almeera. Tatapannya tertuju pada benda mungil yang melingkar di jari manis perempuan itu. Tidak salah lagi, itu adalah cincin yang akan dia hadiahkan kepada Azlina.
Bagaimana cincin itu bisa berada di jari Almeera?
Apa yang sebenarnya terjadi?
Lelaki itu berdehem sejenak, lalu menampilkan sorot mata tegas, penuh wibawa kepada Almeera. "Aku ingin berbicara empat mata kepadamu, Nona Almeera. Bisakah kita keluar sebentar?"
__ADS_1