
Paris, kota yang terkenal akan keindahan dan keromantisannya kini sedang ia pijaki. Ini adalah mimpinya, melanjutkan kuliah di negara Perancis yang dijadikan kiblat trend fashion dunia, berharap mendapatkan banyak ilmu sebagai bekal masa depannya.
Dia tak sendiri, karena seseorang yang diyakini sebagai adik angkat Sean Paderson telah mendampinginya selama di sana. Lu Leon, pria matang berwajah Chinese ditugaskan oleh Sean mengurus keperluan Azlina di sana.
"Sudah selesai?" Lelaki itu bertanya setelah melihat Azlina keluar dari unit apartemennya.
Perempuan itu menganguk, lalu mencoba menyapa lelaki di depannya itu. "Uncle ...."
"No, no, no! Just Leon, right!" Panggilan paman menurutnya terlalu tua. Mana mungkin seorang Leon mau dipanggil sebagai paman. "Kita berangkat sekarang!"
Azlina menurut, mengekor di belakang lelaki bernama Leon tersebut. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya, Salwa, jika Leon sudah menyiapkan segala sesuatu keperluan Azlina selama di Paris. Mulai dari apartemen yang terdekat dengan kampus, rute perjalanan yang dia ajarkan ketika berada di negara tersebut, juga segala administrasi kampus.
Sebagai adik angkat yang juga pernah menjadi kaki tangan Sean dalam menyiapkan segala keperluan lelaki berdarah Kanada itu membuat Leon begitu cekatan jika hanya ditugaskan mengurus keperluan Azlina selama di negara tersebut.
"Jadi, aku akan memberimu pelajaran pertama selama di negara ini. Dengarkan baik-baik, ingat, dan pelajari!"
Azlina hanya mengangguk-anggukkan kepala ketika mereka telah memasuki salah satu angkutan umum yang akan membawa mereka menuju kampus.
__ADS_1
Itu adalah salah satu kampus Mode terkenal dunia dan sudah berhasil mencetak desainer profesional yang karyanya diakui dunia.
"Tidak semua orang di sini bisa berbahasa Inggris, jadi kau harus sedikit-sedikit belajar bahasa Perancis. Right?"
Kembali anggukan dilakukan oleh Azlina. Perempuan itu mencatat dalam memori otaknya apa saja yang dikatakan Leon kepadanya.
Beberapa obrolan umum bahasa Perancis sudah diajarkan oleh Leon dan dicatat Azlina dalam buku catatan kecil sewaktu berada di bus umun. Lelaki itu sudah seperti seorang tour guide yang tahu segalanya.
"Leon, tunggu!" Azlina berusaha menyejajarkan langkahnya dengan langkah lelaki itu, takut jika dirinya tersesat karena nanti pasti akan kesusahan sendiri lantaran dia belum bisa menggunakan bahasa lokal.
Foodcourt itu cukup ramai meskipun belum memasuki jam makan siang karena letaknya yang sangat strategis dan berdekatan dengan kampus. Pasti banyak mahasiswa yang mencari sumber nutrisi dengan membeli makanan di tempat ini. Dan yang paling menarik, di sana ada menu makanan khas Indonesia yang biasa dijajakan keliling. Apalagi kalau bukan bakso.
"Kau muslim? Hati-hati mencari makanan di sini, sebaiknya kau memilih makanan dari Indonesia saja." Leon kembali mengingatkan dan ditanggapi anggukan oleh Azlina.
Lelaki itu memesan dua mangkuk bakso daging sapi ukuran jumbo, karena penasaran dengan rasanya. Apakah sama dengan meatball yang biasa dia rasakan di negaranya? Dia kembali duduk dengan menghampiri Azlina di meja pelanggan.
Perempuan itu tampak canggung, duduk berdua dengan seseorang yang asing seperti Leon. Gelagatnya pun diketahui oleh lelaki itu, sehingga dia mengulas senyum penuh arti.
__ADS_1
"Aku tahu kau sudah menikah. Sean sudah menjelaskan semuanya. Tenang saja, meski aku belum punya pasangan, aku tidak akan menggodamu." Dia mengedipkan sebelah matanya, membuat Azlina terkekeh ringan.
"Aku tahu. Om Sean pasti menyuruh orang yang tepat untuk menjagaku."
"Yeah, aku tidak berani macam-macam. Aku bisa kehilangan nyawaku jika terjadi apa-apa denganmu. Dia itu ... menyeramkan." Leon menutup sebelah mulutnya ketika mengatakan hal itu.
Bahkan, seorang Leon saja takut mendebat Sean. Anehnya, lelaki itu bisa takluk dengan kakaknya yang justru begitu lembut, tak banyak bicara.
Azlina hanya meringis saja, karena apa yang Leon ucapkan benar adanya. "Aku juga takut. Tapi, dia baik. Dia penolong keluarga kami. Dia ... sangat menyayangi keluargaku. Apa saja yang berhubungan dengan Mbak Salwa, dia selalu ikut andil. Kami seperti menemukan permata ketika Mbak Salwa membawanya ke rumah. Aku ... masih mengingatnya."
Leon menyangga dagunya dengan kedua tangan, menatap Azlina yang sedang berbicara. Perempuan itu tampak cantik, bibirnya mungil dengan poni yang dibiarkan menutupi dahi. Ada sedikit lesung pipi yang muncul sekilas ketika dia sedang tersenyum atau bebicara, membuat Leon tak fokus dengan perkataan Azlina. Dia hanya fokus ke wajah perempuan itu. Hingga suara denting ponsel di sakunya, membuat Leon mengalihkan perhatiannya.
Sebuah pesan suara dikirimkan Sean Paderson kepadanya. "Jangan menatapnya seperti itu, jika matamu ingin tetap aman!" Sean mengatakannya dengan menggunakan bahasa Perancis, tetapi tetap saja sudah membuat Leon tersenyum kecut.
》Catatan :
Leon bukan karakter baru, ya! Tokoh ini sudah ada di buku-buku sebelumnya.
__ADS_1