
Tanpa diduga Soni bertepuk tangan, membuat Almeera dan Alvaro menoleh ke arah lelaki itu.
"Luar biasa. Aku tidak menyangka kau bisa menyimpulkan semuanya dengan sangat baik." Lelaki itu dengan senyum menjengkelkan justru memuji Alvaro.
Kening Alvaro berkedut, menyadari sikap aneh Soni yang tidak biasanya. Hingga dia segera menanyainya dengan mendorong dada lelaki itu, mencengkeram pakaiannya. Namun, tak sedikit pun terlihat raut ketakutan di wajah Soni. Lelaki itu masih menampilkan senyum mengejek ke arah Alvaro.
"Sudahlah, Al! Kau tidak perlu berbuat kasar kepadaku, karena kau akan menyesal karena terlalu lama berada di sini."
"Apa maksudmu?" Sebuah hantaman di dahi membuat Soni limbung di atas sofa. Alvaro merasa tak sabar dengan sikap bertele-tele Soni, sehingga tangannya yang sejak tadi mengepal dihantamkan ke wajah lelaki itu.
Darah segar keluar dari hidung Soni, membuat Almeera berteriak histeris. Lelaki itu beranjak setelah limbung, menegakkan tubuhnya yang sempat roboh akibat pukulan Alvaro.
"Lebih baik kau turuti kemauan mamamu untuk menikahi Almeera. Mamamu sangat menyukainya dan kau juga akan sangat beruntung karena memiliki istri cantik sepertinya. Sementara istrimu, biarkan dia bersamaku." Soni terus saja memancing kemarahan Alvaro, tak peduli dengan wajahnya yang memar sebab pukulan yang baru saja dia terima.
__ADS_1
"Hanya dalam mimpimu."
Tak tahan dengan sikap Soni, Alvaro mencengkeram pakaian lelaki itu, menghantam tubuh serta wajahnya tanpa ampun. Almeera semakin histeris, takut jika perkelahian mereka memakan korban. Melihat begitu beringasnya Alvaro dalam menghajar Soni, sudah bisa dipastikan siapa pemenang dalam adu fisik itu.
"Cukup, Al!"
Dia merentangkan tangan di depan Alvaro, menahan lelaki itu agar tak sampai berbuat hal yang tidak diinginkan. Dan satu kalimat yang diutarakan Almeera selanjutnya cukup membuat Alvaro terkejut tak percaya. "Berhenti memukuli ... saudaraku."
"Tidak mungkin. Dia anak tunggal!"
Almeera menggeleng. Dia hampir menangis ketika akan mengucapkannya. "Kami saudara seayah, tapi tidak seibu."
Alvaro memilih menahan diri untuk tak melanjutkan perkelahian itu, menatap Almeera dengan penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Kau tidak akan mengerti bagaimana perjuangan kami menahan cacian semua orang karena memiliki ayah yang tak bertanggung jawab. Aku sudah lelah dihina, dikucilkan, dan dianggap remeh oleh orang lain. Sehingga ketika aku sudah mencapai kesuksesan, kau datang kepadaku." Almeera mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes di sudut matanya. Bibirnya bergetar, pertanda jika kali ini dia bersungguh-sungguh mengatakannya, tiada kepura-puraan atau hanya sekadar akting belaka.
"Ya, seperti yang kau bilang bahwa dirimu telah masuk ke dalam perangkam kami. Aku ingin memilikimu untukku sendiri, membuatmu tergila-gila kepadaku. Ketika rencanaku untuk mendapatkanmu hampir berhasil, kau mengacaukan segalanya dengan menikah secara diam-diam dengan perempuan itu."
"Apa yang kau katakan kepada mamaku?" Tiba-tiba Alvaro teringat perkataan Soni sebelum dirinya merangsek masuk ke dalam rumah Almeera. Perkataan terkait akan ada perang antara orang tua dan besan, membuat Alvaro yakin jika Almeera melakukan hal yang bisa mencetuskan keributan besar. "Apa kau mengadu domba lagi?"
Tampak perempuan itu menggeleng, kaki jenjangnya melangkah sedikit mundur ke belakang. Dia yakin jika Alvaro akan murka setelah mendengar pengakuannya. "Aku hanya mengatakan jika aku dipecat karena mencintaimu."
γTerima kasih atas jejaknya.
Sekedar info. Novel ini ikut kontes "Yang Muda Yang Bercinta", jd tidak bisa dibawa pergi ke platform lain, harus kontrak di NT. Jd, akan tetap di sini dan kontrak di sini. Semoga saja bisa mendapat giliran rekomendasi agar karyanya tidak tenggelam. Terima kasih atas dukungannya, Kakak-kakak. Sy tidak bisa membalas dengan apa-apa, hanya sebuah ucapan terima kasih sebanyak-banyaknya. ππΌππΌ
up 4 bab, ya. Konflik selesai dalam beberapa bab lagi. Jangan lupa tinggalkan jejak. π
__ADS_1