
"Aku hampir kenyang gara-gara melihat caramu makan." Jawaban Alvaro begitu jujur, membuat Azlina malu karenanya.
"Ah, benarkah? Apakah makanku tampak rakus?" Dia menggaruk-garuk kepalanya yang mendadak gatal tanpa sebab. Sedikit malu dengan tata cara menikmati makanan. Dia sudah sangat lapar, sehingga tak memedulikan sekitar untuk menikmati makanan itu.
"Sudahlah, habiskan sana!"
"Ehmm, Kakak juga."
Azlina menyelesaikan makannya terlebih dulu. Gadis itu menyapukan tisu di bibirnya, menghapus noda kuning bekas soto lezat yang baru saja mengenyangkan lambungnya. Dia masih menunggu Alvaro menghabiskan makanannya dengan cara elegan. Ah, lelaki itu sama sekali tak meninggalkan adab makan meskipun mereka sedang makan di pinggir jalan.
"Kak, apakah aku boleh minta sesuatu?"
Alvaro hanya mengangguk menanggapi karena mulutnya masih penuh dengan makanan.
"Aku mau ngambil motorku di rumah. Aku membutuhkannya untuk pergi ke acara teman nanti malam. Apakah boleh?"
"Siapa?" Alvaro meminum es teh melalui pipa sedotan berwarna putih yang ditekuk bagian atasnya setelah selesai dengan makanannya.
"Maksud Kakak?"
"Acara siapa?"
"Emm, acara teman sekolah, Kak. Nanti aku berangkat bareng Lulu." Azlina begitu berhati-hati ketika mengatakannya. Jika sebelumnya dia mencoba mencari cara agar mendapatkan izin dari orang tua, sekarang dia harus berjuang untuk mendapatkan izin dari suami.
"Siapa namanya? Apakah laki-laki?"
Azlina mengangguk. "Boleh, kan, Kak?"
__ADS_1
"Tidak boleh!" Alvaro berkata tegas, membuat gadis itu murung seketika. Dia ingin sekali ikut ke pesta itu. Perkataan Elang yang mengatakan bahwa dia menunggu kehadiran Azlina membuat gadis itu bersemangat untuk menghadiri acara itu. Akan tetapi, penolakan dari Alvaro memupuskan segala harapannya.
"Kau tidak boleh ke mana-mana sendiri. Aku sudah berjanji kepada orang tuamu untuk menjagamu. Jadi, aku yang akan mengantarkanmu."
"Sungguh?"
Alvaro bisa melihat raut bahagia di wajah Azlina. Dia tersenyum ketika menyadari sesuatu yang tak biasa.
"Heem. Apakah kau sangat menyukainya?"
"Apa, Kak?"
"Menyukai temanmu itu. Kau ingin pergi bukan sekadar karena ingin berkumpul dengan teman-temanmu, kan?"
Wajah Azlina tampak bersemu. Dia menggigit bibir bawahnya, merasa malu kepada Alvaro karena tak mampu menutupi perasaannya. "Apa sangat kelihatan?"
"Namanya Elang. Dia ... kapten tim basket sekolah. Kami tidak begitu dekat, hanya sebatas kenal." Azlina menundukkan wajah, menautkan jemarinya agak salah tingkah. "Dia memintaku datang secara langsung. Jadi, aku ... tidak ingin melewatkannya, Kak."
"Dasar, Bocil." Alvaro tertawa melihat tingkah lugu Azlina. Gadis itu tampak malu-malu ketika bercerita, mengingatkannya pada Salwa, wanita yang sempat dicintainya dulu. "Aku akan mengantarmu. Tenang saja, aku hanya mengantar, tidak akan merusak acara kalian."
"Terima kasih, Kak." Azlina mengucapkannya dengan tulus, tak menyangka jika Alvaro begitu baik mau mengantarkannya pergi ke pesta Elang.
Setelah menyelesaikan pembayaran, Alvaro dan Azlina segera meninggalkan tempat. Mobilnya sudah mulai melaju untuk segera mengantar Azlina pulang. Namun, lagi-lagi ada halangan yang menghadang. Ponsel Alvaro tiba-tiba berbunyi nyaring, membuat lelaki itu segera menepikan mobilnya. Dia mengangkat panggilan dengan menggeser layar, lalu menyematkan *earpiece* di telinga. Alvaro mulai melajukan mobilnya lagi.
Lelaki itu tampak sibuk menyetir seraya berbincang serius dengan seseorang di seberang sana. Dia mengernyitkan dahi kemudian berdecak. Melihat arah putar balik, Alvaro memutarkan mobilnya ke sana.
__ADS_1
"Eh, Kak. Kita enggak jadi pulang?" Azlina bertanya dengan bingung, menyadari jika itu bukan jalan ke rumah mereka.
"Enggak, kamu ikut ke kantor, ya!"
Gadis itu hanya mengangguk saja tanpa berdebat. Lagi pula besok adalah hari minggu sehingga tidak perlu mencemaskan tugas sekolah di saat *weekend*.
Hampir lima belas menit berlalu, akhirnya mereka sampai di kantor pusat. Mobil itu memasuki area parkir perusahaan utama "Emas Tambang Jaya" yang salah satu produk terkenalnya merupakan pemegang merk dagang "*Auntum Jewelry*".
Sebuah perusahaan pertambangan emas sekaligus pengolahan emas mentah menjadi emas batangan juga berbagai macam perhiasan. Area pertambangan memang terletak di Kalimantan, tetapi perusahaan pusat yang mengelola bahan mentah itu berada di pulau Jawa.
Alvaro sebagai Manager pemasaran yang tentunya berkiprah sebagai ujung tombak perusahaan telah diberi tanggung jawab besar oleh Presiden Utama, Agus Cahyono, ayahnya sendiri.
Papa Agus memang memberikan posisi itu kepada Alvaro sebelum pada akhirnya dia yang akan menduduki sebagai CEO menggantikannya. Menurut Papa Agus, dengan mengetahui bagaimana jalannya perputaran uang dan mengetahui target pasar yang benar, maka Alvaro bisa mengambil alih perusahaan dan mengaturnya dengan baik. Karena pada dasarnya ujung tombak sebuah perusahaan, selain pada kualitas produk dan manageman di dalamnya, juga pada sistem pemasarannya. Sehingga Alvaro harus bisa menguasai itu semua sebelum mendapatkan jabatan yang lebih tinggi.
Azlina mengekor di belakang Alvaro. Lelaki itu berjalan tegap di depan sang istri sembari menatap lurus ke depan.
Alvaro masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan yang akan membawa mereka ke lantai lima puluh, yaitu di mana ruangan Alvaro berada.
Tepat ketika denting lift berbunyi dengan pintu berwarna silver itu terbuka, Alvaro dan Azlina segera melangkah keluar. Atmosfer ruangan besar itu berubah seketika dengan banyak pasang mata yang melihat sosok gadis berseragam sekolah yang berjalan di belakang Alvaro.
Dari balik kubikel mereka, desas-desus mulai terdengar. Azlina bisa merasakan jika dirinya saat ini menjadi sumber perhatian. Dia menoleh ke arah kanan dan kiri ketika melewati jalan yang diapit oleh dua kelompok kubikel departemen pemasaran dan hubungan masyarakat.
Hingga kakinya telah berhenti karena kepalanya tertabrak punggung Alvaro. Azlina mengusap-usap keningnya yang terbentur, sementara lelaki itu membuka ruangan di depannya.
"Masuk saja dulu. Aku ada pertemuan dengan seseorang." Alvaro berkata datar dengan tangan mempertahankan kenop pintu di tangan.
"Heem. Eh, Kak. Apakah di dalam ada toilet. Aku mau pipis."
"Ada. Kau juga bisa mandi jika kau mau. Sudah, masuk sana. Aku hampir terlambat menghadiri pertemuan."
"Siap, Bos!"
Azlina segera memasuki ruangan itu dengan Alvaro menutup pintu dari luar karena akan pergi menemui seseorang Client penting perusahaan.
Dia mengedarkan pandangannya ke arah karyawan staf di mana sedang sibuk dalam kubikelnya masing-masing. Hingga dia berdehem sedikit keras membuat perhatian semua orang teralihkan.
"Apa yang kalian lihat! Perhatikan saja pekerjaan kalian. Jangan mencampuri urusan orang lain!"
Tampaknya Alvaro menyadari sikap para karyawan yang menggunjing di belakangnya.
Mereka semua mengangguk takut. Belum sempat nyinyir sudah terkena ultimatum, hingga semua orang tampak menyibukkan diri dengan pekerjaan masing-masing. Bahkan para operator customer service berpura-pura menerima panggilan kendati tiada panggilan yang masuk.
__ADS_1
Alvaro beranjak pergi setelah memberikan peringatan itu, memasuki lift kembali untuk menuju lantai di mana Client sudah menunggu.
》Next, ya ...