
"Hai!"
Lulu tiba-tiba menepuk bahu Azlina yang berjalan menuju kelas. Temannya itu seperti hantu yang tiba-tiba muncul tanpa suara, lalu mengagetkan ketika dirinya sedang tak siap.
"Kau mengagetkanku saja!" Azlina berucap kesal seraya memukul bahu Lulu.
Gadis itu terkekeh, sikap usilnya itu sudah biasa dia lakukan terhadap Azlina.
"Makanya, jangan melamun! Eh, kamu diantar lagi sama Om-om tampan itu?" Lulu tampak menelisik kepada Azlina. Rasa ingin tahunya begitu besar teekait hubungan Azlina dengan pria dewasa yang menurutnya sangat tampan dan hot.
"Eheem, memang kenapa? Ada yang salah?"
"Kalian beneran sepupu, kan? Jangan-jangan kalian pacaran!" Lulu kembali menanyakan hal yang begitu privasi, membuat Azlina kesulitan hanya untuk menjawab. Dia tak mungkin membongkar rahasia terbesarnya itu meski kepada Lulu sahabatnya sendiri.
"Mana mungkin, sih, pacaran dengan sepupu sendiri. Lagian usia kami terpaut jauh. Dia juga sudah punya gebetan. Enggaklah!"
"Eh, kenapa kamu menjelaskan sedetail itu." Lulu terkekeh karena pancingannya berhasil. "Tapi aku lihat kalian lama di mobil. Memang kalian ngapain di sana? Kenapa enggak turun-turun?" Lagi-lagi sahabatnya itu kepo. Mungkin ketika jadi ibu rumah tangga nanti, Lulu sejenis emak-emak rempong yang selalu kepo terkait info terkini kehidupan tetangganya.
__ADS_1
"Ngapain lagi. Dia hanya ngebantu masangin ini!" Azlina menunjukkan plester di leher yang dipasangkan Alvaro. Dan pastinya Lulu yang sering bergonta-ganti pacar sudah memikirkan hal lain melihat plester menempel di leher Azlina. Dia tertawa kemudian.
"Tuh, kan! Kamu pasti kena cu-pang! Ish, gitu masih menyangkal kalau enggak ada hubungan!"
"Apa? Cu-pang?" tanya Azlina terkejut.
"Iya, cu-pang. Dia mencium kamu di leher, kan? Ayo ngaku?" Lulu kembali menggoda Azlina. Wajah Azlina tampak memerah lantaran hal vulgar yang disebutkan oleh Lulu. Hingga dia memukul ringan lengan sahabatnya itu.
Lulu tertawa setelah melihat ekspresi Azlina yang lucu. Dia tahu bahwa temannya itu begitu polos terkait percintaan. Lulu sangat kenal dengan Azlina karena mereka berteman sejak SMP. Hingga ketika SMA mereka masuk di kelas yang sama membuat Lulu begitu mengenal Azlina.
__ADS_1
"Ingat! Kita nanti malam kita ke pestanya Elang. Dandan yang cantik biar cepet punya pacar!" Lulu berucap dengan nada sedikit berbisik, membuat Azlina seketika melotot ke arahnya.
Obrolan mereka terhenti ketika sudah memasuki ruang kelas. Azlina meletakkan tasnya di atas meja, lalu duduk di bangku dengan menyangga dagunya menggunakan kedua tangan yang ditekuk di atas meja. Perkataan Lulu terkait ciuman di leher mengganggu pikirannya.
Semalam dia masih sangat mengingat akan posisi Alvaro yang menindihnya. Dia bahkan merasa sempat dipeluk seseorang dari belakang tubuhnya, memberi kehangatan yang terasa begitu nyaman hingga terasa merasuk di tidur lelapnya.
Azlina menghela napas kemudian, mencoba mencerna apa yang mungkin terjadi malam itu. Apakah benar tanda itu Alvaro pelakunya? Tetapi mana mungkin? Bahkan lelaki itu sampai saat ini hanya menganggapnya sebagai anak kecil. Akan tetapi, jika itu benar, untuk apa Alvaro melakukan itu kepadanya? Karena pernikahan mereka bukanlah pernikahan sesungguhnya, melainkan hanya sebuah pernikahan di atas kertas.
Azlina menggelengkan kepala, mengusir pikiran buruk terkait Alvaro. Mungkin memang ada serangga yang tanpa sengaja menggigitnya tadi malam, tetapi dia tak menyadarinya dan tak tahu jenis serangga apa itu. Mungkin nanti dia akan meminta turun ke minimarket terdekat untuk membeli obat penyemprot serangga agar bisa membasmi serangga nakal yang telah berani menggigit lehernya.
Azlina kembali fokus setelah mendengar suara bel masuk sekolah berbunyi nyaring. Masalah serangga, akan dia pikirkan lagi nanti.
__ADS_1
》Oke, lanjut!