Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
134. Paris, I am Coming!


__ADS_3

Butuh sekitar enam belas jam perjalanan udara untuk bisa meencapai Bandar Udara Charles de Gaulle tanpa transit, kaerena Alvaro melakukan dua kali transit, sehingga waktu lebih lama sekitar enam jam dari seharusnya.


Senyumnya mengembang tatkala dirinya sudah menapaki lantai berbahan marmer bandara tersebut. Tinggal sebentar saja dirinya segera bertemu dengan Azlina. Rasanya sudah tak sabar lagi memeluk tubuh sang istri sembari menciumi wajahnya yang cantik itu.


Dia memutuskan pergi ke unit aparteman Azlina untuk meletakkan barang-barangnya terlebih dahulu. Melihat waktu masih menunjukkan pukul sembilan pagi, Alvaro yakin jika Azlina masih berada di kampus. Beruntung sekali dia telah mendapat informasi terkait passcodee unit apartemen Azlina, sehingga memudahkan dirinya masuk tanpa memberi tahu Azlina terlebih dulu.


...***...


Siang itu, tepat ketika Azlina akan pulang untuk menaiki bus umum, Alvaro sudah menunggu di depan kampusnya. Matanya menajam mencari satu persatu mahasiswa yang keluar dari gerbang besar tersebut.


Kampus yang terkenal sebagai pencetak desainer dunia itu tentu banyak dari golongan menengah ke atas yang tengah mengenyam pendidikan di sana. Banyak mobil-mobil mewah seperti Ferari, Lambhorgini yang mengantre menunggu si pemiliknya datang. Alvaro semakin kesulitan menemukan Azlina di kala segerombolan mahasiswi keluar secara bersamaan dari bangunan megah itu.


Namun, hati ternyata bisa menemukan muaranya karena hanya dalam sekilas pandang, Alvaro bisa menemukan Azlina tengah berjalan melewati pedestrian yang menuju halte bus terdekat.


Alvaro membuntuti Azlina. Memilih menatap sang istri yang tengah berjalan dengan teman wanitanya. Tampaknya mereka sama-sama berasal dari Indonesia melihat keakraban yang terjadi di antara Azlina dan teman-temanya.


Dia menyunggingkan senyum, begitu senang melihat Azlina lagi. Rasa rindu di dada semakin menggebu-gebu tatkala jarak mereka sudah tinggal selangkah lagi.

__ADS_1


Azlina dan kedua temannya menaiki bus yang sama, pun dengan Alvaro. Lelaki itu memilih duduk di kursi tepat di belakang Azlina. Sementara dua orang teman istrinya itu duduk di seberang.


Bus itu tak terlalu padat, sehingga Azlina duduk sendiri di sudut dekat kaca jendela. Dari kaca tersebut, Alvaro bisa melihat wajah sang istri tampak lelah, mungkin karena mata kuliah yang baru saja dilewati oleh perempuan itu.


Sayup-sayup mata Azlina sedikit meredup dan berakhir terpejam karena kantuk. Hingga ketika terdapat lonjakan di jalan beraspal, kepala Azlina hampir terbentur pinggiran bus jika tangan Alvaro tak menghalanginya.


Perempuan itu tertidur dengan telapak tangan Alvaro sebagai penyangga antara kepalanya dengan pinggiran jendela kaca bus.


Wajah polos tanpa beban itu terlihat begitu menggemaskan kendati begitu samar terlihat di pantulan kaca jendela. Alvaro kembali mengunggingkan senyum, merasa begitu nyaman hanya dengan menatap Azlina dari belakang.


Hingga ketika halte yang dituju hampir sampai, perempuan itu mengerjapkan mata, mengurai kesadaran yang sempat hilang lantaran kantuk yang tak bisa dicegah. Azlina melihat pemandangan di luar yang terlihat suram. Dia berdecak karena tak sempat menbawa payung tadi dan rasa kesalnya itu menjadi-jadi tatkala rintik hujan mulai membasahi hendela kaca bus yang ia naiki.


Tak sempat dirinya menatap sosok yang tengah membantunya karena kakinya terus melangkah agar sampai ke halte yang berada di seberang jalan.


Sampai saat mereka telah terlindungi oleh atap halte bus, Azlina baru menyadari jika yang membantunya adalah seornag laki-laki. Dia ingin berterima kasih kepada orang tersebut, tetapi siapa sangka sebelum mulutnya terbuka hendak mengucapkan rasa terima kasih, bibirnya dibungkam dengan sebuah kecupan singkat.


Azlina membelalakkan mata, terkejut. Namun, lelaki di depannya itu justru tertawa dengan melepas topi yang sejak tadi digunakan menutupi wajahnya.

__ADS_1


Dia ternganga, lalu menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. "Kakak!"


Ya, lelaki itu tak bisa menahan diri untuk tak mencium Azlina. Rasa rindunya seakan berlipat-lipat ketika mereka bertemu. Tanpa membuang waktu, dia menarik Azlina dalam dekapannya, memeluknya erat dengan sedikit mengangkatnya. Pun dengan Azlina, dia tersenyum senang, tak menyangka jika Alvaro menemuinya sampai ke sana.


"Kangen, Zi." Lelaki itu berbisik lirih tepat di telinga sang istri.


Azlina mengangguk dalam dekapan lelaki itu, "Aku juga, Kak. Aku senang Kakak datang. Ini bukan mimpi, 'kan?"


Alvaro mengendurkan pelukannya, mencolek ujung hidung Azlina gemas. "Tentu saja nyata. Ayo pulang! Kakak sudah tidak sabar buat meluk kamu sepuasnya."


Azlina sedikit terkekeh karenanya. "Tapi 'kan hujan."


Alvaro menggeleng. Dia membalikkan badan memunggungi Azlina, menekuk kakinya sedikit berjongkok, lalu mengarahkan tangannya ke belakang agar Azlina segera naik ke punggungnya. "Naiklah! Kita main hujan!"


"Apa?"


Azlina tak bisa menyembunyikan senyum bahagia di wajahnya. Tak mampu menolak, Azlina memeluk punggung Alvaro dengan melingkarkan kedua lengannya di atas bahu sampai ke bawah leher lelaki itu. Dengan gerakan cepat, Azlina bisa merasakan tubuhnya terangkat ke atas. Jaket yang sedikit basah tadi digunakan oleh Azlina untuk menutupi kepala mereka.

__ADS_1


Alvaro segera melangkah menembus derasnya hujan dengan Azlina berada di atas punggungnya. Dia memutar tubuhnya, mengayunkan Azlina yang tengah memeluknya. Mereka tertawa bersama-sama, merasakan kebahagiaan hanya dengan bermain rintik air di pedestrian menuju unit apartemen Azlina, tak menghiraukan pakaian yang sudah basah kuyup karena guyuran air hujan.


》Bosen enggak? dilanjut apa tamat ya? 😁🤭🤭


__ADS_2