Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
82. Memulai Hidup yang Baru


__ADS_3

"Hai, ada apa?"


Azlina yang baru saja masuk ke dalam rumah terlihat sangat berantakan. Lulu bisa menerka kejadian buruk yang telah terjadi terhadap Azlina meskipun perempuan itu telah menutupi matanya menggunakan kacamata berbingkai bulat.


"Semua sudah selesai." Hanya itu yang bisa terucap dari bibir Azlina, tak bisa menyembunyikan sesak dhatinya terhadap apa yang baru saja terjadi dengannya.


Tekanan psikis yang dilakukan oleh mertuanya terlalu berat untuk dia pikul. Kendati dirinya berusaha menahan ujian itu untuk tetap bertahan, menguatkan diri agar terus berjuang, tetapi dia baru menyadari bahwa dirinya bukanlah wanita yang setangguh itu.


Dituduh tukang selingkuh, murahan dihadapan semua orang, bahkan Airin sekalipun membuat Azlina tak sanggup menunjukkan wajahnya lagi. Usianya baru sembilan belas tahun, tetapi dia sudah mendapat julukan istri durhaka dan tukang selingkuh.


Sungguh ironi. Di saat hatinya baru merasakan kebahagiaan sebuah pernikahan, justru cobaan secara bertubi-tubi datang menghampiri. Bahkan, dia sampai saat ini tak bisa mencari dukungan dari keluarganya karena takut akan memengaruhi kesehatan bapaknya yang memiliki riwayat penyakit jantung.


Pelukan sahabat cukup mengurangi sedikit kesedihan. Tubuh Azlina masih berguncang karena tangis sesenggukan yang belum juga selesai diakhiri. Dia merasa sudah kalah, berjuang sendiri ternyata cukup melelahkan. Namun, tujuan untuk bersama Alvaro masih terlalu besar bersemayam di jiwa.


"Jadi, kau ketahuan dan mereka mengusirmu?"


Pertanyaan Lulu hanya dijawab anggukan oleh Azlina. Tampak di sana perempuan itu mengusap air matanya dengan tisu yang disediakan Lulu di atas meja ruang tamu. "Dan Airin sudah tahu semuanya. Dia berencana melakukan sesuatu di sekolah." Azlina tertawa bodoh kemudian, lalu mengulum bibir bawahnya yang menyisakan sedikit tangis.

__ADS_1


"Na, lupakan tentang Airin. Apa pun yang akan dia lakukan nanti sama sekali tak akan memengaruhi apa pun. Kalian menikah dengan cara yang benar, tidak ada masalah dengan itu. Lagipun Om itu sama sekali belum meminta haknya kepadamu, bukan? Jadi, apa yang salah? Kau pernah melakukannya pun tidak jadi soal karena agama tidak melarangnya. Jangan terlalu memikirkan tentang Airin."


Azlina mengangguk. Sepertinya Lulu bisa menjadi bijaksana jika dihadapkan dengan permasalahan yang serius. Mungkin keceriaan dan sikap bar-bar yang selama ini ditunjukkan oleh Lulu hanyalah topeng belaka untuk melindungi dirinya, karena dia benar-benar hidup sendiri.


"Sebaiknya aku harus segera pergi dari sini, Lu. Aku tidak ingin terlalu lama merepotkanmu."


Lulu menggeleng, "Apanya yang repot? Bukannya selama kamu tinggal di sini aku sudah tidak pernah belanja. Kamu yang membayar belanjaan dan ini ...."


Lulu menunjuk makanan yang dibeli Azlina dari restoran. "Kamu juga selalu membawakanku makanan. Sebenarnya aku yang harusnya berterima kasih karena kamu sudah mengurangi biaya harianku."


Azlina menunduk sambil tersenyum tipis. Dia menggerakkan kepala dengan menggeleng setelahnya. "Karena hanya itu yang bisa aku lakukan. Tapi, aku benar-benar harus pergi. Aku ... ingin menenangkan diri."


"Hemm, aku tidak bisa mencegahmu untuk masalah itu. Jangan lupa kunjungi aku setelah kau membutuhkan teman ngobrol!"


"Makasih, Lu. Aku yakin akan sangat merindukanmu."


"Ehemm, ...." Lulu menggeleng dengan menggerakkan kedua ibu jarinya ke kanan dan ke kiri. "Sepertinya bukan aku yang akan kau rindukan, tetapi Om Tampan. Kau sangat merindukannya, bukan."

__ADS_1


Azlina kembali memeluk Lulu. Perkataan Lulu memang benar, hingga dia tak bisa menyembunyikan tangisnya itu. Dia kembali menangis, merasakan kerinduan yang teramat sangat kepada Alvaro, tetapi dia tak bisa berbuat apa-apa untuk mengurangi rasa rindunya itu selain ... menjauhinya.


...***...


Azlina sudah menyeret koper miliknya dibantu oleh Lulu. Tak semua barang dia bawa, hanya beberapa pasang pakaian, dalaman, dan buku-buku penting yang nantinya akan dia gunakan belajar untuk mengikuti tes peneriman mahasiswa baru.


Azlina juga sempat menghubungi kedua orang tuanya, bahwa dirinya dan Alvaro tidak bisa berkunjung dalam waktu dekat ini lantaran pekerjan yang belum bisa ditinggalkan. Tentu tak ada hal yang mencurigakan oleh kedua orang tuanya, karena mereka sangat memercayai anak dan menantunya itu.


Sampailah di saat sebuah taksi online yang dipesan Azlina telah sampai di depan rumah Lulu, keduanya berpelukan. "Semangat, ya, Na. Aku pasti akan sangat merindukanmu."


"Heem, kau sahabat terbaikku, Lu."


Keduanya menguraikan pelukan itu setelah mengucapkan salam perpisahan.


Azlina menghela napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Dengan langkah pasti, perempuan itu kembali menyeret kopernya untuk diserahkan kepada sopir taksi yang sudah menantinya sejak tadi. Dia memasukkan tubuhnya ke dalam mobil berwarna dominasi biru muda itu, menyandarkan punggung mencari posisi ternyaman.


Azlina melambaikan tangan kepada Lulu ketika taksi itu telah membawanya pergi. Tangannya menurun perlahan diiringi tatapan kosong setelah kendaraan yang ditumpanginya berbelok di persimpangan menuju jalan raya. Dia merasa inilah awal dari kehidupannya, karena perjalann kehidupan yang sesungguhnya dimulai saat ini.

__ADS_1


》Next, ya, Kak. 😊


__ADS_2