
Suapan terakhir sudah berhasil masuk dengan baik di mulut Alvaro. Ini adalah makanan pertamanya setelah empat hari dia menolak makan. Hanya minuman yang mengisi perutnya membuat lelaki itu lemas karena kurang asupan nutrisi. Bubur tanpa rasa dari rumah sakit telah menjadi pemasok energi pertamanya. Dia semangat untuk sembuh karena sebentar lagi akan bisa membawa pulang sang pujaan hati.
Bibirnya tak henti-henti menyunggingkan senyum, membayangkan setiap malam pasti ada drama di kamarnya. Terbayang sudah di kepalanya, bagaimana dia menggoda sang istri setiap malam. Sikap manja dan menggemaskan perempuan itu membuat dirinya merindu. Dia tak sabar untuk membawanya pulang, memeluk perempuan itu sepuas-puasnya.
Mama Rani pun turut bahagia melihat perubahan Alvaro. Wajah lelaki itu telah berubah lebih ceria dan bersemangat. Bahkan, pagi ini Alvaro meminta mencukur kumis dan jambang yang katanya membuat kadar ketampanannya berkurang. Dia ingin menjemput Azlina dalam kondisi tampan dan menawan, berharap sang istri kecilnya itu jatuh cinta setengah mati kepadanya.
"Ma, ponsel Varo mana?"
Mama Rani mengangguk, dicarinya Smartphone tersebut untuk diberikan kepada putranya. Dia sudah mengisi dayanya menggunakan Powerbank yang selalu dibawa di dalam tas jinjing bermerk asal Paris tersebut.
"Ini, Mama sudah men-charge-nya!"
Smartphone itu sudah beralih ke tangan Alvaro. Dengan senyum mengembang, lelaki itu berkirim pesan kepada Azlina. Tadinya dia ingin menghubungi langsung via panggilan video, tetapi urung dilakukan karena pasti akan membuat Azlina cemas lantaran melihatnya mengenakan pakaian rumah sakit.
[Sayang, lagi apa?]
Pesan singkat itu dikirim ke nomor telepon Azlina. Senyumnya mengembang kian lebar ketika pesan itu berhasil terkirim. Degup jantungnya tak bisa dikondisikan lagi, Alvaro seperti seorang remaja yang sedang kasmaran, menunggu dengan tak sabar balasan dari sang pujaan hati.
Dilihatnya berkali-kali pesannya itu berubah warna menjadi biru, karena sejak tadi centangnya masih abu-abu.
Kenapa lama sekali?
__ADS_1
Karena tak sabar, lelaki itu kembali mengetikkan pesan singkat.
[Kakak kangen banget sama kamu.]
Pesan itu terkirim lagi, dan dalam beberapa saat tanda centang abu-abu itu sudah berubah menjadi biru pertanda jika Azlina telah membuka pesannya. Tambah berdebarlah degub jantung Alvaro, menanti balasan sang istri akan pesan yang telah dia kirimkan.
Bunyi ponsel itu berdenting, Alvaro tanpa banyak membuang waktu segera menggeser layar sentuh Smartphone-nya. Senyum sumringah itu berubah redup tatkala melihat balasan yang dia terima.
[Sayang, sayang, pala lo peyang! Ini siapa?]
Tidak mungkin kan jika Azlina tidak mengenalinya? Begitu cepat lelaki itu membalas pesan tersebut. Kedua ibu jarinya bergerak lincah mengetikkan satu per satu huruf untuk membalas pesan itu. Dia tidak terima jika Azlina tak mengenalinya.
[Ini Kakak, Sayang. Suamimu]
[Sialan! Gue bukan Gay. Gue cowok normal. Kalau lo suka jeruk sama jeruk, mending cari korban lain sono! Dasar homo!]
Ya ampun, apakah Alvaro salah mengirim pesan?
Tidak, tentu saja dia yakin seratus persen jika itu adalah nomor Azlina. Lantas, apa yang sedang terjadi?
Merasa tak sabar lagi dengan drama yang terjadi, Alvaro segera melakukan panggilan video ke nomor tersebut. Sekali, dua kali dia lakukan panggilan dan semua panggilannya ditolak, membuat lelaki itu mengeram kesal. Tak tinggal diam, dia segera mengulangi panggilan video tersebut dan kali ini ternyata berhasil tersambung.
__ADS_1
Begitu panggilan terjawab, wajah seseorang yang muncul pertama kali di layar digitalnya membuat Alvaro semakin kesal saja.
"Kau!"
Pantas saja balasan pesannya tadi begitu menyebalkan, ternyata seseorang yang sedang membalas pesannya adalah Alfatih, kakak Azlina.
Pria itu meringis menanggapi perkataan Alvaro yang menatapnya tajam bercampur kesal. Sehingga dengan tak sabar Alvaro menanyainya, "Kenapa ponsel istriku ada padamu? Di mana dia? Cepat kembalikan! Mengganggu orang saja!"
Namun, perkataan Alvaro hanya dibalas dengan kedikan bahu pertanda tak tahu oleh Alfatih. Lelaki itu seolah-olah tak peduli dengan wajah Alvaro yang penuh tuntutan kepadanya.
"Di mana dia? Aku mau bicara dengannya!" Alvaro mengulang pertanyaannya kali ini dengan nada sedikit berteriak.
Bukannya takut, Alfatih justru mengajukan satu tawaran kepadanya. "Panggil aku Kakak Ipar, Kakak Ipar yang paling tampan."
"****!" Alvaro mengumpat. "Ogah! Pantang nyebut bocil kayak kamu dengan panggilan Kakak," imbuhnya kemudian.
"Baiklah, aku tutup teleponnya." Alfatih berkata dengan nada santai, membuat Alvaro semakin emosi saja.
"Eh, eh, eh, ...." Belum sempat Alvaro menanggapi, panggilan video itu ditutup sepihak oleh kakak iparnya yang menyebalkan itu. Dia mendengkus kesal, menatap layar digitalnya sudah beralih dengan gambar wallpaper fotonya bersama Azlina sedang berpelukan.
"Astaghfirulloh, sabarkan hambaMu dalam menghadapi ujian rindu," gumamnya dengan menggelengkan kepala dan mengelus dada.
__ADS_1
》 》