Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
22. Almeera


__ADS_3

Azlina mengedarkan pandangannya ke arah luar mobil setelah menghabiskan satu cup es teh kemasan untuk menetralisir rasa pedas di mulutnya. Tampaklah di sana Alvaro sedang mendekati seorang wanita dewasa berwajah cantik dengan lekuk tubuh indah membentuk di gaun yang wanita itu kenakan.



Entah apa yang saat ini sedang mereka perbincangkan, Azlina bisa melihat Alvaro tampak berusaha menenangkan wanita cantik itu. Dia tak peduli. Memilih abai, Azlina kembali melanjutkan makan kentang gorengnya.



Hingga sebuah ketukan di kaca mobil membuat Azlina menoleh ke arah jendela di sampingnya. Dia menurunkan kaca mobil setelah menyadari jika Alvarolah yang mengetuk pintu mobil itu.



"Kamu pindah ke belakang, ya?" pinta Alvaro kemudian kepada Azlina.



"Eh, kenapa?"



Azlina bisa melihat bola mata Alvaro melirik ke arah belakang di mana wanita itu berada, membuat gadis itu mengangguk mengerti. Dia adalah Almeera, wanita yang saat ini diincar oleh Alvaro.


"Kakak itu cewek yang kamu suka?"


"Emm, iya. Kamu mau, kan, mengalah sebentar?" Alvaro tampak tak enak ketika mengatakan itu kepada Azlina. Kendati mereka tak ada perasaan, tetap saja wanita akan merasa terusir jika disuruh mengalah seperti itu.


Namun, sangat berbeda dengan pradangka Alvaro. Azlina mengangguk menyetujui, tetapi seringai di wajah gadis itu tampak tak enak dirasakan. Jangan-jangan ada udang di balik batu atas sikap menurutnya. Hingga Alvaro menyadari itu dan segera menanyakannya kepada Azlina.


"Katakan saja kau mau apa sebagai gantinya?"


Azlina tampak memamerkan deretan gigi putihnya menanggapi perkataan Alvaro. "Nanti aja deh, Kak. Belum kepikiran. Pokoknya kamu punya utang satu permintaan." Senyum sedikit nyengir dipertunjukkannya dan ditanggapi Alvaro dengan helaan napas kasar.


"Okey-okey. Aku punya utang satu permintaan kepadamu. Dah lah, pindah sana! Keburu hujan."

__ADS_1


Alvaro memundurkan tubuhnya, memberikan akses Azlina agar keluar dari mobil terlebih dulu, lalu pindah ke kabin penumpang. Di sana, wanita yang disukai Alvaro tampak maju mendekat, disusul Alvaro yang menjemputnya. Mereka bertiga naik di mobil yang sama dengan Alvaro yang sudah mulai melajukan mobil itu.


"Dia siapa, Al?" tanya wanita itu ketika sudah berada di dalam mobil, menatap ke arah Azlina.



"Oh, dia ... emm, sepupu. Kebetulan dia tinggal di rumah, jadi aku bertugas menjempuntnya pulang sekolah."



"Ooh, memang rumahnya di mana?"


Azlina yang dibicarakan hanya diam saja, berpura-pura sibuk dengan gadget-nya. Padahal, dia sudah memasang telinga lebar-lebar terkait obrolan dua orang dewasa di depannya.


"Emm, gak jauh, sih. Hanya saja orang tuanya sedang ke luar negeri. Jadi dia menginap di rumah sampai orang tuanya pulang."



"Wah, enak sekali, ya. Kamu sangat baik sebagai seorang sepupu. Tapi, menurutku jangan terlalu memanjakannya. Biar dia mandiri, sangat tidak baik untuk perkembangannya."


"Dia sangat mandiri. Hanya Mama yang nyuruh buat antar jemput. Kan dititipin anak orang mesti dijagain." Alvaro mencoba menengahi, tak membela Azlina juga Almeera. Ya, dia tak mungkin langsung membela Azlina, bisa-bisa cinta yang belum sempat terbina putus di tengah jalan. Dan sebelum Almeera menanyakan hal lain tentang Azlina, Alvaro segera menggiringnya ke topik yang lain.



"Apa kamu sudah baikan?" tanya Alvaro kemudian, mengalihkan pembicaraan.



"Iya, terima kasih. Mungkin nanti aku akan meminta penjelasan Ren terkait wanita itu." Almeera tampak menunduk, menyembunyikan raut sedih di wajahnya.



"Jadi, kamu belum menegurnya setelah tertangkap basah berduaan dengan cewek lain?"

__ADS_1



Almeera menggeleng, menahan bulir bening di matanya yang hampir lolos tak terbendung. Tangannya mencengkeram kuat ujung gaunnya, menahan rasa sesak di dada. Ada semacam rasa tak kuasa atau mungkin tak berdaya jika harus melakukan hal itu. Dia takut ditinggalkan, dia takut terabaikan. Begitu lemahnya status Almeera jika tengah didalami baik-baik.


"Aku enggak bisa, Al. Aku terlalu mencintainya. Dia cinta pertamaku, dan ketika dia menyatakan perasaannnya kepadaku, aku sangat bahagia. Jadi aku tak sanggup melabraknya ketika melihat itu."


Alvaro menatap iba ke arah Almeera. Begitu hebatnya kah sosok Ren di mata Almeera sampai perempuan itu tak sanggup hanya untuk menegurnya? Hingga Alvaro memilih untuk menenangkan daripada harus mengompori agar Almeera segera putus dari lelaki brèngsek itu.


"Iya, iya, masih ada waktu. Jika kau butuh bantuan, jangan sungkan menghubungiku."


Alvaro masih berusaha bersabar. Mendekati Almeera bukanlah pekara yang mudah. Dia sudah lama mengincar perempuan itu. Namun, sebelum dia sempat mengutarakan perasaan, Almeera telah jatuh dalam pelukan laki-laki lain. Akan tetapi, sebelum janur kuning melengkung dan sebelum nama Almeera bersanding dengan nama pria lain di buku nikah, dia akan berusaha keras untuk mendapatkan perempuan itu.


Sampailah mobil mereka telah berbelok ke lokasi perumahan elite, mengantarkan Almeera sampai ke rumahnya.


"Thanks, ya!" Almeera tersenyum ketika mengatakannya.


"Hubungi aku jika butuh bantuan." Ucapan Alvaro ditanggapi anggukan oleh Almeera. Perempuan itu membuka pintu mobil, lalu mengeluarkan tubuhnya dari sana. Sebuah lambaian tangan mengakhiri perjumpaan mereka. Alvaro kembali melajukan mobilnya dengan Azlina melompat berpindah posisi tanpa harus keluar dari mobil.


"Cantik, ya. Aku penasaran, pasti pacar kakak itu tadi sangat tampan."


"Tahu apa kamu?" Alvaro tampak tak menyukai perkataan Azlina. Ucapannya terdengar sinis, tetapi Azlina tak peduli.


"Ya, karena dia sama sekali tak melirikmu, Kak. Itu artinya ada sesuatu spesial yang dimiliki pacar kakak tadi, tetapi kamu tidak memilikinya."


"Apa iya? Apa yang tidak kumiliki sementara pria lain memilikinya." Jelas saja Alvaro bingung. Dia memiliki segalanya, harta yang banyak, kecerdasan, ketampanan, dia sangat sempurna menjadi seorang pria. Jadi tidak mungkin ada sesuatu yang luput dan tidak dimiliki oleh Alvaro.


"Entahlah! Aku kan belum pernah melihat pacar kakak cantik itu. Jadi belum bisa menyimpulkan."


Alvaro menoleh sekilas ke arah Azlina, lalu menghela napas perlahan. "Kamu sok tahu, ya, jadi bocil."


"Jangan salah, ya, Kak. Bocil-bocil gini lebih paham urusan wanita. Jadi jangan meremehkanku."


》Bersambung.

__ADS_1


Thanks banyak-banyak yang udah ninggalin jejak. 🤗


__ADS_2