
Malam semakin larut, hawa dingin terasa begitu menyiksa. Alvaro tidur hanya berbalut bathrobe yang disediakan pihak hotel, tanpa selimut dan pakaian lain. Suhu Air Conditioner telah dinaikkan dalam temperatur tertentu, tetapi tak membuat rasa panasnya membekas dan merasuk ke tubuh Alvaro. Malam ini dia benar-benar merasa kedinginan.
Seharusnya dia meminta selimut extra kepada pihak hotel, tetapi Alvaro tak melakukannya. Dia mengira akan tahan dengan hawa dingin itu, sehingga memilih tidur di sofa dengan meringkuk memeluk tubuhnya sendiri. Akan tetapi, kenyataannya tubuh Alvaro tak sekuat itu. Dia kesulitan memejamkan mata dan beristirahat dengan benar lantaran hawa dingin yang terasa menusuk hingga ke tulang.
Dia melirik ke arah di mana ranjang dengan selimut tebal yang berada di sana, terlihat begitu hangat dan nyaman. Alvaro ingin ke sana, tetapi mengingat ada Azlina tidur dengan hanya mengenakan bathrobe berbahan handuk yang sama dengan apa yang dirinya kenakan, membuat Alvaro segera menepis keinginannya itu. Dia takut tak bisa mengendalikan diri untuk tidak menyentuh gadis itu.
Bagaimanapun juga, dia laki-laki normal yang bisa tergoda dan tergiring untuk melakukan hal yang di luar kendalinya.
Namun, rasa dingin kali ini memang tak sanggup dia hindari. Tanpa berpikir panjang, lelaki itu turun dari sofa, menapakkan kaki di lantai yang dingin, melangkah cepat ke arah ranjang.
Dia memasukkan tubuh ke dalam selimut yang sama dengan Azlina, menekan kuat pikiran liar yang mungkin akan membuatnya tak tidur malam ini.
...***...
Ketika tengah malam tiba, Azlina merasakan tubuhnya lebih menghangat daripada sebelumnya. Rasa hangat yang kini dirasakannya sama persis di kala malam pengantinnya saat itu. Merasakan pelukan hangat dari seseorang dengan mendekap erat dirinya seakan-akan menyalurkan hawa panas ke tubuhnya yang kedinginan. Hingga mata yang mengantuk itu memaksa untuk terbuka, mengamati akan apa yang telah terjadi.
Tepat ketika mata bulat itu terbuka sempurna, pandangan pertama langsung dihadapkan oleh dada lelaki itu. Dia menengadah, memastikan jika itu bukanlah mimpi seperti sebelum-sebelumnya.
Tidak salah lagi, Alvaro sedang terlelap sembari memeluk tubuhnya dengan erat. Lelaki itu seakan tak menginginkan dirinya menjauh. Hingga jemari Azlina mulai terulur untuk membangunkan lelaki itu. Mungkin, Alvaro sedang tak menyadari ketika memeluknya karena dianggap sebuah guling besar yang bisa menghangatkan.
__ADS_1
Tepat ketika dia menyentuhkan jemarinya, bukan tepukan di pipi untuk membangunkan Alvaro, melainkan sebuah belaian di rahang yang sedikit bertumbuh rambut itu. Perkataan Lulu tentang Om-om tampan waktu itu terngiang kembali di telinga Azlina, membuatnya merasa memiliki kesempatan untuk menatap lebih jeli wajah sang suami.
Bagaimana bisa seorang siswa SMA seperti Lulu tertarik dengan pria dewasa seperti Alvaro? Jelas saja hal itu membuat Azlina terheran, karena dalam benaknya pasti dia akan mencari yang seumuran dalam hal pasangan agar menyambung ketika diajak berbicara. Akan tetapi, saat ini apa yang berada dalam pikirannya bertolak belakang dengan apa yang sedang dia lakukan. Azlina membelai pipi itu sembari menikmati wajah Alvaro lekat-lekat.
Garis wajah tegas, hidung yang mancung dengan alis hitam lebat dengan bulu mata panjang, Alvaro memang terlihat begitu menawan sebagai seorang pria dewasa.
Apakah itu artinya Azlina merasa beruntung telah menjadi istrinya?
Tidak, pernikahan yang mereka lakukan bukanlah pernikahan sesungguhnya. Alvaro bahkan mendukungnya ketika dia menceeitakan tentang Elang sang kapten basket sekolah. Tiada gurat cemburu atau kesal di wajah Alvaro ketika itu, layaknya seorang suami yang mencintai istrinya. Tidak ada. Dan hal itu cukup membuktikan jika Alvaro sungguh-sungguh dalam perkataannya, yaitu pernikahan mereka hanya sebuah ikatan di atas kertas.
Azlina harus membentengi hatinya agar tidak jatuh cinta kepada pria dewasa itu. Mungkin, menganggap Alvaro sebagai seorang Kakak lebih baik bagi Azlina untuk melindungi hatinya agar tidak terluka. Bagaimanapun juga, hati tetaplah hati. Sekeras apa pun Azlina membentenginya, memberikan perisai kuat agar tidak tersentuh oleh pesona Alvaro, pasti suatu saat akan benteng pertahanan itu akan luruh juga.
Alvaro tersenyum simpul, mentertawai tingkah Azlina yang begitu polos. Jelas saja dia tahu bahwa sejak tadi gadis itu sudah terbangun dan membelai wajahnya dalam waktu lama. Ada rasa senang yang menguar, lalu menjalar dan melingkupi hatinya. Entah perasaan apa itu, hingga lelaki itu memilih menggelengkan kepala. Dia semakin mengeratkan pelukan, membawa gadis itu ke dalam dekapannya untuk sekadar saling menghangatkan.
...***...
Rasa canggung kini mulai melanda Azlina. Gadis itu masih terduduk dalam balutan bathrobe menunggu pakaiannya datang. Alvaro telah memesankan pakaian ganti untuk mereka berdua menggunakan jasa personal shopper yang nanti akan mengantarkannya langsung ke kamar.
Alvaro duduk di sofa panjang, ponselnya telah mati total, pun dengan ponsel Azlina yang telah tercebur dalam kolam. Entah di mana ponsel itu berada sekarang, mungkin masih berada di dasar kolam di mana dia hampir tenggelam kemarin malam.
__ADS_1
Sebuah ketukan di pintu segera mengalihkan perhatian Alvaro. Dengan gerakan cepat, Alvaro membuka pintu itu. Namun, bukan personal shopper yang datang, melainkan Almeera. Dia terpaku di tempat setelah melihat Almeera datang sepagi itu. Pun dengan perempuan itu. Almeera melongo dengan sorot mata menatap ke arah Alvaro yang masih mengenakan bathrobe.
"Ada apa ini?" pikir Almeera. Dia mencoba mencari tahu apa yang terjadi dengan sedikit mengintip ke dalam. Dan apa yang dia lihat terlalu sulit untuk dicerna oleh akal sehat.
Alvaro dan Azlina sama-sama mengenakam bathrobe sepagi ini? Apakah mereka telah ....
"Kalian tidur bersama?" tanya Almeera, setelah sempat menahan rasa penasaran di hatinya.
Alvaro mundur ke belakang, memberi akses Almeera memasuki kamarnya setelah perempuan itu sedikit merangsek dengan paksa untuk melihat kondisi ruangan itu. Dia menatap Alvaro dan Azlina secara bergantian, memandang dengan raut muka tak percaya juga penuh tuduhan.
Apa-apaan ini? Dua orang yang mengaku sepupu tidur seranjang dengan tanpa mengenakan pakaian lengkap?
"Ini tidak seperti yang kau bayangakan." Alvaro mencoba menjelaskan, kendati dia tahu jika sebetulnya itu tak perlu karena mereka tidak memiliki hubungan apa pun. Akan tetapi, nama baiknya dan Azlina akan memburuk di mata orang lain, sehingga hal itu mewajibkannya untuk menjelaskan terkait dengan apa yang terjadi.
"Aku membayangkan apa, Al? Apakah yang kau maksudkan bahwa kau meniduri sepupumu sendiri?" Almeera tersenyum sinis, menatap dengan jijik juga kecewa dengan perilaku dua orang di depannya itu.
Memang apa yang dilakukan dua orang pria dan wanita dalam satu kamar tanpa mengenakan pakaian, hanya berbalut jubah handuk seperti itu, selain melakukan hal yang tak patut.
"Kalian menjijikkan!"
__ADS_1