
"A-apa?" Azlina ikut melihat ke bawah, dan jelas saja tidak menemukan tangga di sana karena semalam Ahsan telah memindahkan tangga tersebut di tempat lain agar tidak digunakan lagi oleh pencuri. "Pasti Bang Ahsan yang mindahin. Lalu, Kakak bagaimana keluarnya? Lewat depan saja, Kak. Siapa tahu sudah tidak ada orang."
Usulan Azlina ditanggapi gelengan oleh Alvaro. Dia sudah hafal jika di rumah Azlina sudah berlalu-lalang orang jika waktu subuh telah tiba, sehingga tidak memungkinkan untuk keluar lewat pintu depan. Hingga sebuah keputusan diambil Alvaro membuat sang istri tercengang.
"Kamu ikut eskul pramuka, 'kan?"
Azlina mengangguk mengiakan, tetapi keningnya tampak berkerut belum mengerti mengapa Alvaro tiba-tiba menanyakan hal tersebut.
"Ambilkan tali pramuka. Kakak mau turun pake tali itu."
"Apa? Jangan, berbahaya!" Jelas saja Azlina tak setuju. Turun dari lantai dua hanya bermodalkan tali pramuka merupakan ide yang buruk, tingkat keamanannya sangat jauh dari kata aman. Bagaimana jika Alvaro tiba-tiba terpeleset dan jatuh? Pasti dirinya sangat menyesal setelah meminjami lelaki itu tali pramuka miliknya.
__ADS_1
Melihat raut cemas di wajah Azlina, hanya ditanggapi senyuman oleh Alvaro. Lelaki itu mengusap perlahan kepala Azlina seraya mengatakan, "Kakak sudah terbiasa melakukannya. Jangan cemas, ya?"
Meskipun ada rasa khawatir, tak urungnya Azlina mengambilkan tali pramuka miliknya. Sedikit ragu tangannya mengulurkan tali itu kepada Alvaro, takut jika hal buruk terjadi dengan sang suami.
Azlina melihat bagaimana Alvaro mengenakan tali itu di tubuhnya, mengikat kuat dengan beberapa kali lilitan. Dia memasangkan tali itu di kusen jendela kamar, mengikatnya dengan simpul mati.
Rasa waswas juga cemas Azlina terlihat begitu kentara di wajahnya, apalagi saat ini Alvaro sudah mulai menaikkan kakinya di atas jendela.
"Kak ...." Azlina menggelengkan kepala, tanda tak setuju dengan keputusan Alvaro yang akan terjun dari lantai dua rumahnya menggunakan seutas tali pramuka.
"Kaaak, ... tidak lucu." Azlina meneriaki Alvaro dengan langgam, berharap lelaki itu lebih serius lagi.
__ADS_1
Sayangnya, Alvaro justru menanggapi kekhawatiran Azlina dengan candaan. Azlina benar-benar takut jika sikap nekat Alvaro malah bisa mencelakai lelaki itu sendiri. Akan tetapi, satu kecupan di bibir membuat Azlina sejenak melupakan rasa cemas itu.
"Kakak balik, ya. Assalamu'alaikum!"
Kejadian itu begitu cepat, hingga Azlina belum sempat membalas salam suaminya, lelaki itu sudah turun dengan menjejakkan kedua kakinya di dinding layaknya seorang atlet panjat tebing yang sedang turun dari ketinggian. Azlina tak menyangka jika Alvaro ternyata begitu piawai dalam hal manjat-memanjat. Rasa cemas yang sebelumnya membelenggu di hati serta pikirannya telah musnah seiring menyaksikan lelaki itu berhasil turun dari lantai dua rumahnya.
Namun, begitu Alvaro berhasil menapakkan kakinya ke tanah, Bu Darmini yang hendak pergi ke surau memergokinya. Wanita paruh baya itu menatap ke atas, melihat Azlina sedang berdiri di depan jendela yang terbuka. Dan jelas saja dia bisa menyimpulkan apa yang telah terjadi di antara mereka.
"Alvaro!" panggil Bu Darmini dengan sedikit berteriak mendapati Alvaro baru turun dari lantai dua yaitu kamar Azlina.
Sontak lelaki itu hampir terlonjak karena dia telah ketahuan sembunyi-sembunyi menemui Azlina.
__ADS_1
"Ibuk ...." Alvaro berucap dengan meringis, memamerkan deretan gigi putihnya kepada Bu Darmini.
***