Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
111. Panik


__ADS_3

"Kakak!" Azlina sedikit berbisik mengucapkannya, takut jika perkataannya terdengar orang lain.


Tangan Azlina terulur memberi bantuan Alvaro agar lelaki itu bisa masuk ke dalam kamarnya. Begitu kaki Alvaro berhasil menapak ke lantai kamar Azlina, segera direngkuhnya tubuh perempuan itu ke dalam dekapan.


Alvaro memeluk Azlina erat, begitu erat, lalu menciumi kedua pipi serta kening Azlina berkali-kali. Dia teramat rindu dengan perempuan itu, tak bisa mencegah perasaannya untuk bertahan tetap di rumah.


"Kangen, Zi," bisiknya lirih sembari mengeratkan pelukannya di tubuh sang istri.


"Ehmm, aku juga." Azlina menenggelamkan wajah di dada lelaki itu, melingkarkan tangannya di punggung Alvaro.


Rasanya begitu senang, bahagia ketika berpelukan seperti ini. Azlina mengembangkan senyum meskipun hantinya ingin menangis. Sungguh sulit sekali menyatukan dua keluarga untuk menghadirkan sebuah hubungan yang bahagia dan penuh cinta.


"Maaf, Kakak mengganggu tidurmu. Kakak enggak bisa tidur sama sekali malam ini. Kepikiran kamu terus."


Mereka masih berdiri di dekat jendela, belum berpindah tempat karena terlalu khusuk dalam melepas rindu.


"Kakak naik apa ke sini?"


"Naik taksi. Kakak juga sembunyi-sembunyi keluar dari rumah. Malam ini, Kakak nginep di sini, ya?"


Warna merah merekah membias di wajah Azlina, tak terlalu kentara sebab lampu kamar sudah dimatikan, hanya menyisakan lampu tidur yang remang-remang. Dia mengangguk dengan menyunggingkan senyum. Sebelum Azlina menjawab dengan kata-kata, dia sedikit terhenyak karena merasakan tubuhnya tiba-tiba melayang.


Alvaro menggendongnya, membawa perempuan itu ke atas ranjang. Tatapan lelaki itu tak sedikit pun beralih dari wajah sang istri. Dipuas-puaskanlah mematri dan menikmati wajah kemerahan Azlina, yang menurutnya begitu menggemaskan dan membuatnya kecanduan.

__ADS_1


"Kamu makin cantik. Kakak jadi kangen terus sama kamu."


Bersamaan dengan kalimat itu terucap, tangan lelaki itu mengusap pipi merona Azlina, lalu menundukkan wajah, mencium sang istri penuh rindu.


Malam yang dingin, bersamaan dengan daun jendela yang bergerak tertiup angin lantaran terlupa untuk menutupnya kembali. Dua insan yang memiliki perasaan cinta dan kerinduan yang menggebu itu saling menumpahkan rasa, melepas rindu.


Angin yang masuk melewati jendela kamar menyelimuti tubuh yang mulai berpeluh, keduanya larut dalam perasaan dan terbuai akan kenikmatan yang tiada berujung.


Rasa cinta, rindu itu kini melebur menjadi satu, membuat malam yang dingin menjadi hangat seketika. Suara lenguhan yang tak bisa tertahan menjadikan malam itu kian panas, menggelora di antara keduanya. Tak bisa dipaksakan karena semuanya luruh sudah bersamaan keringat yang membanjiri permukaan tubuh.


Hingga ketika semuanya telah hampir mencapai titik tertinggi, suara gedoran di pintu kamar Azlina mengganggu acara keduanya.


"Kak, ada yang datang."


"Bentar, Sayang. Nanggung!"


Tubuh berpeluh itu segera dipakaikan dengan pakaian, meski kurang lengkap karena terburu-buru. Azlina segera mengambil pakaian Alvaro yang tergeletak di lantai, memberikan kepada lelaki itu yang berwajah masam karena dipaksa berhenti di tengah jalan. "Kak, sembunyi, gih!"


"Gak mau!"


Azlina semakin panik, tangannya membantu Alvaro mengenakan pakaiannya kembali. Meski lelaki itu sedikit kesal, tetapi menurut saja pada akhirnya.


"Nanti dilanjut lagi," bujuk Azlina sembari mengecup bibir sang suami.

__ADS_1


"Janji, ya?"


Anggukan dilakukan Azlina, menanggapi perkataan Alvaro. "Buruan, Kak!"


"Eh, sembunyi di mana?" Lelaki itu menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu melihat ke bawah. "Di kolong aja!"


"Jangan! Tempat tidurnya enggak ada kolongnya." Azlina mencari-cari di mana tempat yang aman. "Masuk lemari aja, Kak!"


Tanpa berpikir panjang, Alvaro menuruti perkataan Azlina. Lelaki itu memasukkan dirinya ke dalam lemari pakaian yang sempit karena terhalang baju-baju Azlina.


"Sempit, Sayang."


"Untuk sementara. Tahan dulu, ya, Kak! Nanti dapat jatah dobel-dobel, deh," bujuknya lagi seraya menutup pintu lemari.


Fiuh, Azlina mengembuskan napas lega. Dia melangkah ke arah pintu, berniat membuka pintu kamarnya. "Iya, sebentar!"


Namun, kakinya terjerat sesuatu dan membuat dirinya hampir terjatuh. Dia menunduk, memastikan benda apa yang sedang diinjak olehnya.


"Ya ampun."


Azlina sedikit terkikik geli, mendapati cèlàna dalam Alvaro di sana. Dia memungutnya segera, lalu membuka pintu lemari pakaian dan memasukkan celànà dalam tersebut dengan cepat. Tanpa disengaja, lemparan Azlina mengenai wajah Alvaro.


"Astaghfirulloh, begini amat nasibku." Alvaro berkata setelah mendapati pakaian dalam miliknya mengenai wajahnya.

__ADS_1


(Gak panas2, ya. Nulis gini aja, takut kebawa pikiran. Hahaha, othornya lg puasa malah nulis adegan ranjang 😂)


Selamat membaca, semoga terhibur. 😁


__ADS_2