Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
113. Waktunya Kembali


__ADS_3

"Kak, mau subuh. Bangun, gih!" Azlina menengadah, menepuk-nepuk pipi Alvaro. Lelaki itu masih setia memejamkan mata, bergeming dari posisinya dengan tangan memeluk tubuh Azlina. "Kak, buruan bangun! Bentar lagi Ibuk pasti datang ngetuk pintu."


Terdengar gumaman dari bibir Alvaro, tetapi matanya enggan untuk membuka. Lelaki itu begitu lelah karena semalam terlalu banyak menghabiskan tenaga.


"Ngantuk, Zi."


Tak peduli dengan sikap cemas Azlina, Alvaro malah menutup matanya kembali yang beberapa saat lalu sempat terbuka sedikit. Pelukannya pun tak mengendur sedikit pun dari tubuh Azlina, membuat perempuan itu mencebik kesal karenanya. Dia takut jika ibunya tiba-tiba mengetuk pintu dan mendapati dirinya bersama Alvaro tidur seranjang.


"Kak, buruan! Kita belum mandi, ingat kamar mandinya ada di lantai bawah."


Dengan malas Alvaro akhirnya menuruti Azlina. Matanya terbuka meskipun terasa berat, tetapi dia harus berusaha melakukannya. Berdekatan dengan Azlina ternyata membuat kualitas tidurnya sangat baik, begitu lelap sampai kesulitan untuk bangun.


Berbeda dengan apa yang Alvaro alami beberapa hari terakhir tatkala tidur sendiri di kamarnya yang luas. Dia kesulitan untuk sekadar memejamkan mata sehingga membutuhkan obat tidur agar kantuk segera menyapanya. Dan kini, dia bisa tersenyum senang karena begitu matanya terbuka langsung disuguhkan wajah cantik yang teramat dia rindukan.


Satu kecupan ringan dihadiahkan Alvaro di kening Azlina. "Selamat pagi."


"Pagi! Buruan, Kak!" Tepat di saat Azlina berkata, suara ketukan terdengar dari luar bersamaan teriakan Bu Darmini memanggil Azlina.

__ADS_1


"Azlina, bangun! Sudah subuh."


Sedikit terkejut, Azlina segera menjawab panggilan ibunya. "Iya, Buk. Sudah bangun."


Tampaknya Bu Darmini telah berlalu dari depan kamar Azlina karena suara ketukan itu berhenti setelah Azlina menjawab teriakannya.


Kini, dia masih bergulung dalam dekapan lelaki itu. keduanya tersenyum lega karena Bu Darmini hanya berniat membangunkan Azlina tanpa memeriksa keadaan kamar putri bungsunya itu.


Alvaro memindahkan tangannya dari tubuh Azlina. Begitu pelukan Alvaro terlepas, perempuan itu segera bangkit, memunguti pakaian yang kembali tercecer di lantai karena ulah sang suami semalam, lalu mengenakannya.


"Zi, Kakak balik dulu, ya?"


Azlina mengangguk, senyum tipis terbit di bibirnya. Hatinya merasa tak rela jika harus berpisah secepat ini, tetapi tak ada yang bisa keduanya lakukan sebelum semua masalah selesai ditangani.


"Heem, Kakak enggak mandi dan salat dulu?"


"Nanti Kakak mandi di jalan saja. Daripada ketahuan, kita enggak bisa ketemu lagi." Alvaro menangkup wajah Azlina dengan kedua telapak tangannya, mencium kening sang istri sebagai tanda perpisahan. "Bulan depan, kamu periksa ke dokter, ya?"

__ADS_1


"Ke dokter? Kenapa?"


Alvaro meletakkan telapak tangannya di perut Azlina yang tertutup pakaian tidur, lalu mengusapnya perlahan. "Siapa tahu kamu sudah hamil."


Meskipun takut dengan kata melahirkan, tetapi Azlina berusaha tersenyum demi membahagiakan Alvaro. "Iya, kita akan periksa ke dokter."


Rasa tak ingin berpisah kembali datang, menyelimuti dua insan manusia yang saling mencintai, tetapi dipaksa untuk berpisah karena suatu keadaan. "Jaga diri baik-baik. Semangat belajarnya. Jika butuh apa-apa, hubungi Kakak. Jangan minta bantuan yang lain! Nanti pasti Kakak usahakan waktu buatmu."


"Heeem, Kakak juga."


Azlina mengusap rahang Alvaro yang penuh dengan rambut. Lelaki itu sengaja tak mencukur jambangnya agar terkesan tak terurus dan tak terawat sebab dipaksa berpisah dengan sang belahan jiwa. Berharap Mama Rani menyadari bahwa kebahagiaan putranya hanya ada pada Azlina, bukan Almeera ataupun perempuan lain yang mamanya anggap pantas dan sederajat dengan keluarganya.


Pelukan itu telah terurai setelah dirasa cukup karena waktu juga terlampau sedikit. Alvaro ditemani Azlina menuju jendela kamarnya, berniat keluar lewat jendela dengan menuruni tangga yang sudah dia pasang semalam. Namun, tepat ketika jendela itu terbuka dengan Alvaro melongok ke bawah, dia tak menemukan tangga yang dia gunakan kemarin malam. Hal itu cukup membuat Alvaro kebingungan.


"Zi, tangganya hilang."


》 Lah, hilang. 😁

__ADS_1


__ADS_2