
"Kakak, kau tidak sedang bercanda, bukan?"
Alvaro menggeleng, sorot matanya terlihat lembut dan penuh kasih. Disekanya air mata Azlina yang beberapa kali menetes di ujung mata, lalu menahan tangannya membingkai pipi Azlina lembut.
"Aku serius, Sayang. Aku tidak ingin melepaskanmu dan melepaskan pernikahan ini. Pernikahan ini terlalu berharga jika hanya disebut sebagai permainan. Tolong jangan pergi dari kehidupanku! Aku ingin kita menua bersama, menjlani hari-hari indah denganmu. Aku yakin jika kau bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kita nanti."
Meskipun air mata itu telah diseka berkali-kali tak membuat Azlina mampu menghentikan tangisnya. Kejutan yang Alvaro berikan begitu membuatnya terharu. Dia tak menyangka jika lelaki itu akhirnya memilihnya, bukan Almeera, sosok wanita sempurna di mata semua laki-laki.
"Tapi, aku tidak pandai memasak, tidak bisa membuat kue lezat. Apakah Kakak masih mau menerimaku?"
Perkataan Azlina membuat suasana romantis berubah menggelikan. Alvaro tertawa kecil mendengarnya. Menikah selama beberapa bulan dengan Azlina, sudah cukup membuatnya paham bagaimana karakter dan sifat gadis itu.
"Ya, kau juga tidak bisa menelan tablet menggunakan air, bukan?"
Azlina mengangguk dengan tersenyum malu. Dia memang tak suka obat dan tak bisa menelan obat sehingga membutuhkan pertolongan makanan lain untuk menelannya.
"Tapi, apakah kau tahu karena hal itu kita berakhir menikah secara terpaksa? Aku sama sekali tak menyesalinya. Aku tak menyesal ketika keluarga kita memergoki kita tidur bersama saat itu."
Alvaro mengeluarkan kotak perhiasan yang berisi kalung yng dibelikan Almeera. Dengan satu entakan ibu jari, kotak berwarna merah berbahan bludru itu terbuka sempurna.
"Maaf, aku terlalu sibuk hingga tak mencarikan hadiah yang lebih baik untukmu. Apakah kau mau menerima hadiah ini sekaligus perasaanku?"
Dengan wajah merona Azlina mengangguk. Dia juga merasakan hal yang sama. Tak menyangka jika pria yang selama ini dia sebut sebagai pria tua ternyata mampu mengambil separuh jiwanya. Dia bisa kesal, menangis, dan bahagia secara bersamaan karena Alvaro. Pria dewasa yang sebelumnya dia anggap aneh dan sedikit gila itu ternyata mampu mengisi ruang kosong di hatinya.
"Aku mau menjadi istrimu, Kak. Aku merasa ini mimpi karena tidak mungkin aku bisa bersaing dengan wanita sesempurna Kak Meera. Aku merasa kesal jika Kakak membicarakan wanita itu. Aku tidak suka mendengarnya. Karena aku sadar tidak pantas jika dibandingkan dengannya."
__ADS_1
Alvaro tersenyum. Rasa bahagia setelah mencurahkan segala apa yang dirasakannya membuat dirinya lega. "Dasar bodoh." Lelaki itu mengetuk ringan kening Azlina sembari melebarkan senyumnya. "Sini, aku pasangkan."
Gadis itu mengangguk, tak bisa menyembunyikan raut bahagia di wajahnya.
Alvaro mengitari Azlina, memosisikan dirinya berada di belakang tubuh sang istri. Tangannya menyibakkan rambut yang menututpi leher jenjang nan menggoda itu, membuat Alvaro harus menelan ludahnya sendiri. Mengabaikan rasa ingin menyentuh, Alvaro mengaitkan ujung kalung itu, memasangkannya dengan pas. Namun, setelah terpasang, Alvaro tidak tahan untuk tak mencium leher sang istri dan memeluknya dari belakang. "I love you."
Kalimat itu dibisikkan berulang-ulang di telinga Azlina, seolah-olah tak cukup mengatakannya jika hanya sekali saja. Gadis itu menyentuh liontin berbentuk huruf A dengan beberapa permata menempel di permukaannya. Dia tersenyum kembali, merasa bahagia.
Alvaro membalikkan tubuh Azlina untuk menghadapnya, menyentuh wajah sang istri, lalu membingkainya dengan kedua telapak tangan. Wajahnya kian mendekat dengan mata berkabut serta meredup. Dan kini, seakan dunia hanya milik berdua. Lelaki itu membenamkan bibirnya di bibir merah jambu sang istri, menikmatinya tanpa ampun.
Azlina yang biasanya hanya pasrah, kini tampak melingkarkan kedua lengannya pada tubuh Alvaro. Rasa bahagia yang ternyata begitu indah telah dirasakan keduanya, tak menyangka selama ini mereka hanya menunggu hal yang sia-sia karena cinta sejati ternyata sudah berada di depan mata.
Tubuh Azlina tiba-tiba merasa melayang, di saat tangan kekar itu menggendongnya. Alvaro mengajaknya masuk karena hari sudah terlalu larut, angin pun terasa lebih dingin menyeruak kulit. Menutup pintu dengan tungkai kaki, Alvaro melangkah ke arah ranjang, merebahkan Azlina di sana. Bibir keduanya tampak belum saling melepas, seolah-olah hal ini telah menjadi bukti cinta mereka yang sedang meletup-letup.
Kedua tangan Alvaro menyangga tubuhnya yang berada di atas tubuh sang istri, melepaskan bibir yang telah basah dan lembab. Rona merah jambu tampak membias di pipi Azlina menyadari jika dia terbawa suasana dan menikmatinya.
Pandangan Alvaro tak sedikit pun beralih dari wajah sang istri, bibirnya menyunggingkan senyum kepuasan. Hingga dia merasa sudah saatnya menjadikan Azlina istri yang sesungguhnya, tangannya mencoba melepaskan kancing depan Azlina perlahan.
Jantung Azlina berdetak semakin cepat ketika tangan itu telah berhasil melepaskan satu per satu buah bajunya. Apakah ini sudah waktunya bagi dia menyerahkan segalanya untuk sang suami?
Bukankah ini adalah ibadah yang seharusnya mereka lakukan jauh-jauh hari sebelumnya?
Namun, ketika tangan itu telah berhasil melepaskan kancing baju yang terakhir, dengan bagian yang ada di bawah sana mengeras meginginkan sebuah pelampiasan, Azlina menahan kepala Alvaro yang hendak mengecup tubuhnya.
"Ada apa? Apa kau takut? Aku berjanji akan melakukannya dengan perlahan dan hati-hati." Dia berkata dengan suara terdengar parau, menahan sesuatu yang sudah bergejolak tak terkendali dalam diri.
__ADS_1
Bagaimana tidak, dia sudah menahannya sejak beberapa bulan yang lalu, membiarkan sang istri tak tersentuh padahal mereka telah sah secara agama.
Azlina menggeleng, matanya masih tak beralih memandang wajah suami, tetapi dengan malu-malu dia mengatakan, "Aku ... sedang datang bulan, Kak."
"Apa?!" Alvaro terkejut dengan perkataan Azlina, merasakan di sana mulai melemas sendiri, putus harapan ingin memadu kasih. "Kenapa mendadak? Suruh tunggu sebentar!" Wajahnya tampak kesal ketika mengatakannya.
"Mana bisa, Kak. Ini sudah hari kedua."
Tubuh Alvaro menegak setelah menutupi tubuh Azlina dengan selimut. Dia harus lebih bersabar lagi, menunggu kondisi berpihak kepadanya. "Berapa hari lagi biasanya?"
"Tidak tentu. Biasanya lima hari atau enam hari, bisa juga seminggu."
"Bisa dipercepat tiga hari, enggak?" Alvaro berkata asal, membuat Azlina tertawa karenanya. "Kau senang sekali mentertawakanku." Dia kembali memerangkap tubuh Azlina, membenamkan wajahnya di leher sang istri. "Aku tidak tahan lagi. Aku ingin segera melakukannya. Aku tersiksa setiap hari ketika tidur denganmu, tetapi tak bisa menyentuhmu."
Bibir Azlina mengembang ketika mendengar pengakuan Alvaro. Selama ini, dia mengira Alvaro tak pernah tertarik kepadanya. Lelaki itu selalu bersikap biasa saja jika mereka sedang tidur berdua. Azlina selalu merasa dianggap sebagai guling oleh Alvaro, bukan layaknya seorang wanita yang tidur seranjang dengan seorang pria. Dia memeluk kepala Alvaro kemudian, membelai rambut itu dengan menyelusupkan jemarinya. "Aku akan menunggu saat itu, menjadi istrimu sesungguhnya."
"Heem, aku akan mengeceknya tiap hari. Aku ingin mengenalkanmu dengannya, secepatnya. Ia sudah tak sabar bertemu denganmu."
"Siapa?" Azlina mengerutkan kening ketika menanyakannya.
"Kau akan tahu nanti, setelah kau siap bertemu dengannya."
Azlina menggeleng, tak ambil pusing dengan perkataan Alvaro. "Kalau begitu, kita makan kue saja, ya. Sayang kuenya dianggurin."
"Suapin!"
__ADS_1
"Iya, Kakak."
Keduanya tertawa kemudian, menikmati malam membentang dengan merayakan ulang tahun Azlina yang sudah terlewat waktunya.