
Tangan itu membelai rambut panjang Azlina, menatap wajah yang masih terjaga.
"Bagaimana hubunganmu dengan Elang?"
Gadis yang kini sedang membenamkan pipinya di atas guling itu mengangguk. "Semuanya berjalan lancar. Kami sudah berpacaran."
"Benarkah? Cepat sekali dia bergerak?"
"Hem, dia sangat baik. Tidak ada alasan untuk menolaknya."
Perkataan Azlina mampu mengusik pikiran Alvaro. Lelaki itu terdengar menghela napas panjang, lalu menanyakan sesuatu. "Apakah kau sangat menyukainya?"
Sejenak Azlina terdiam, menanyakan hal itu kepada hatinya sendiri. Namun, dia pun tak mengerti bagaimana perasaan yang dirasakannya terhadap Elang.
"Entahlah, Kak. Aku tidak tahu. Aku dulu mengaguminya. Mungkin hanya sekadar kagum, aku tidak merasakan hal lain lagi."
Sama, Alvaro pun merasakan hal yang sama dengan Almeera. Dia tak lagi merasakan euforia ketika Almeera dekat dengannya dan lebih perhatian kepadanya, berbeda dengan dulu ketika pernikahan itu belum terjadi. Alvaro begitu menggebu-gebu ingin mendapatkan Almeera meskipun dia tahu jika hati perempuan itu hanya ada nama Ren seorang. Alvaro menunduk, menatap Azlina sembari mengusap pucuk kepala gadis itu.
"Ingat, jangan macam-macam ketika berpacaran! Jangan berciuman apalagi hingga menyerahkan dirimu kepada laki-laki yang bukan suamimu."
"Kalau dengan Kakak?"
Alvaro tertawa kecil mendengar pertanyaan Azlina, mengetuk kening gadis itu. "Aku serius. Jangan tergoda dengan bujuk rayu laki-laki." Tangannya menyelipkan anak-anak rambut yang menutupi wajah Azlina, lalu mengulas senyum di bibir. "Jangan mau diajak berciuman ketika masih berpacaran. Jika dia serius, dia akan menjagamu sampai dia menikahimu."
"Tapi Kakak sudah melakukannya. Itu ciuman pertamaku." Dengan bersungut-sungut Azlina mengatakannya.
__ADS_1
"Hei, kita sudah menikah. Jadi tidak apa melakukan itu."
"Tapi menikah untuk diceraikan. Aku akan jadi janda di usia sembilan belas tahun."
Wajah Azlina mendadak murung ketika mengatakannya. Ada rasa tidak rela ketika kata perpisahan itu terjadi, tetapi jika semua dibiarkan berlarut-larut maka tidak baik untuk hatinya juga. Rasa nyaman yang selama ini dia rasakan ketika lelaki itu dekat dengannya membuat Azlina tak bisa mengontrol rasa yang mulai tumbuh di hati tanpa disadari. Dia ingin segera menghapus rasa itu dengan menerima rasa yang lain sebagai penggantinya.
"Itu tidak benar. Jika kamu masih menginginkan pernikahan ini, aku tidak akan mengakhirinya."
Azlina menggeleng. Buat apa dipertahankan jika hati dan perasaan masih terpaut pada orang lain. "Kau tidak perlu melakukannya, Kak. Aku tidak ingin menjadi penghalang hubunganmu dengan Kak Meera. Mungkin kalian memang berjodoh. Aku senang jika Kakak berhasil mendapatkan cinta Kak Meera."
Kata senang yang terucap dari bibir Azlina sama sekali tak selaras dengan sorot matanya. Alvaro merasa ada hal yang terselip, menyelinap, dan disembunyikan oleh gadis itu.
"Sudahlah! Tidak perlu dibahas lagi. Apa rencanamu setelah lulus nanti?"
"Kenapa? Cita-citamu bagus. Kenapa harus diubah?"
Azlina menggeleng, menekuk wajahnya ke dalam. "Aku tidak ingin membebani orang tua dan kakak-kakakku lagi. Sebaiknya aku melanjutkan kuliah di sini saja."
Alvaro mengangkat wajah Azlina dengan meletakkan ibu jari dan telunjuknya di dagu gadis itu. Tatapannya begitu hangat dan penuh sayang membuat siapa saja akan merasa terpana jika dipandang seperti itu. "Kau tidak akan merepotkan mereka, karena aku yang akan membiayai kuliahmu. Raihlah mimpimu, aku akan mendukungmu."
Lagi, Azlina menggeleng, tak menyetujui perkataan Alvaro. "Kau tidak perlu melakukannya. Aku tidak enak dengan Kak Meera. Jika kalian menikah dan Kakak masih membiayai pendidikanku, pasti akan mengganggu hubungan kalian."
"Aku tidak peduli." Alvaro mengusap pipi gadis itu. "Aku menyayangimu, Zi. Aku ingin kau menjadi wanita sukses. Aku tidak mau kau dimanfaatkan oleh laki-laki karena kepolosanmu. Kau membutuhkan seseorang yang bisa menjagamu. Aku akan melakukan itu sampai kau mendapatkan pria yang tepat."
Azlina tampak tak mengerti dengan apa yang Alvaro katakan. Lelaki itu akan melindunginya, menjaganya, tetapi dia berniat menikahi Almeera? Bagaimana bisa seperti itu? Dia juga seorang wanita, mana mungkin Azlina tega membuat hati seorang istri terluka karena sang suami justru memedulikan wanita lain. Dia sudah pernah merasakan itu, meskipun tiada cinta di antara mereka, tetap saja rasa sakit itu ada.
__ADS_1
"Kak, aku bisa menjaga diriku sendiri. Kau akan kehilangan Kak Meera jika terlalu peduli denganku. Aku tidak mau merusak rumah tangga orang lain. Aku tidak ingin menjadi pihak ketiga."
"Aku akan menunggumu."
"Apa?" Pandangan Azlina tampak bingung dengan mata melebar penuh tanda tanya, tetapi hal itu justru ditanggapi lain oleh Alvaro.
"Jangan membuatku ingin memakanmu karena tatapanmu itu. Sudahlah, jangan dipikirkan! Sekarang tidurlah! Kau butuh banyak istirahat." Alvaro menghadiahi kecupan di dahi Azlina, lalu mengusap kepala gadis itu.
Azlina bisa melihat lelaki itu tersenyum. Entah apa sebenarnya yang diinginkan Alvaro, Azlina masih belum juga memahami lelaki itu. Di satu sisi Alvaro ingin berpisah, tetapi di sisi lain lelaki itu ingin tetap bersamanya sehingga membuat Azlina bingung menanggapinya.
Hingga ruangan itu telah gelap karena Alvaro sudah mematikan lampu tidurnya, menyisakan cahaya rembulan yang masuk melalui sela-sela tirai yang menutupi kaca jendela. Azlina bisa merasakan lengan lelaki itu memeluknya, merapatkan diri dengan pembatas guling di tengah mereka.
...***...
"Semoga berhasil, ya. Semangat!" Alvaro mengepalkan tangannya yang ditekuk kepada Azlina, memberi semangat sang istri untuk menyelesaikan ujian pertamanya.
"Iya, terima kasih. Aku akan berjuang keras." Azlina mencium punggung tangan Alvaro kemudian dengan lelaki itu mengecup kening Azlina sebagai tanda perpisahan. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Azlina segera keluar setelah salamnya dibalas oleh Alvaro. Dia melambaikan tangan setelahnya, sesuatu yang sangat jarang, bahkan tidak pernah mereka lakukan sebelumnya. Entahlah, waktu bersama yang makin sedikit itu justru membuat hubungan keduanya semakin membaik. Hingga Azlina tak mengerti apakah dia mampu berpisah dan melupakan Alvaro setelah segala sesuatu yang sudah mereka lalui bersama.
...***...
lanjut, ya. Tinggalkan jejak dulu
__ADS_1