Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
60. Perasaan yang Mengusik


__ADS_3

Di sana Alvaro masih duduk bersandar di depan pintu kamar mandi, menunggu Azlina yang terdengar mengucurkan air di tubuhnya. Tangis itu sudah mereda tergantikan suara gemericik air yang kini memenuhi indra pendengaran Alvaro. Dia tampak mengembuskan napas lega, setidaknya sang istri sudah tidak menangis lagi.


Hingga ketika pintu kamar mandi terbuka, Alvaro yang bersandar di sana hampir terjungkal ke belakang. Dia mendongakkan wajah, mendapati Azlina keluar dengan rambut basah, mata sembab sembari mengenakan bathrobe membalut tubuhnya.


Pandangan mereka saling bertemu meskipun posisi Alvaro masih setengah tertidur di lantai. Lelaki itu buru-buru menegakkan tubuh, lalu berdiri memberi jalan Azlina agar bisa keluar dari kamar mandi.


Senyap. Tiada tegur sapa lagi. Hanya ada keheningan yang nyata.


Mengabaikan Alvaro, Azlina melangkah ke arah lemari pakaian, mengambil pakaian tidur untuk dikenakannya.


Tatapan Alvaro masih tak berpindah dari gadis itu. Hatinya ingin memeluk tubuh itu, tetapi dia sadar jika itu hanya memperburuk keadaan. Hingga lelaki itu memilih membiarkan Azlina tenang, tak mengganggunya sampai waktu yang tepat untuk berbicara lagi.

__ADS_1


***


Hening memang tak bisa dihindari, rasa tidak nyaman menyelimuti keduanya ketika tubuh berada di atas ranjang yang sama, selimut yang sama, tetapi hati berada di tempat yang berbeda.


Alvaro melirik punggung Azlina yang tidur membelakanginya. Dia menyadari jika bukan hanya dirinya saja yang tidak bisa tidur, melainkan Azlina juga dilihat dari tubuh gadis itu yang menegang. Lelaki itu menatap langit-langit kamar, memikirkan akan apa yang terjadi. Ternyata diabaikan oleh gadis di sampingnya itu membuatnya tidak nyaman.


Alvaro merasa ada sesuatu yang hilang. Keceriaan, kedamaian, dan kenyamanan, semuanya telah lenyap setelah kebungkaman terjadi di antara mereka. Dia tak bisa seperti itu terus, semua terasa tidak benar. Hingga lelaki itu memutuskan berdamai dengan keadaan.


"Maaf, aku sudah melukai perasaanmu. Aku tidak menyadari perilakuku membuatmu terluka. Dan sekarang aku ingin kau jujur kepadaku." Lelaki itu memiringkan tubuhnya menghadap Azlina yang masih dalam posisi memunggunginya. "Apakah kau benar-benar ingin mengakhiri pernikahan ini?"


Azlina hanya diam, tak mengelak ataupun mengangguk. Dia juga bingung dengan keputusannya. Di lain sisi dia merasa nyaman dengan Alvaro, tetapi Azlina sadar jika hati lelaki itu bukanlah untuknya. Jadi, untuk apa semua dipaksakan?

__ADS_1


"Aku sudah memutuskan ... untuk mengakhiri semua. Bukankah sejak awal memang begini rencana kita. Oh, tidak. Bukan rencana kita, melainkan hanya rencanamu. Dan aku menyetujuinya tanpa berpikir panjang." Azlina tampak menghela napas panjang setelah mengatakannya, lalu melanjutkan kalimatnya. "Kau tahu, ada satu hal yang aku sesalkan akan pernikahan ini."


"Apa?"


"Ikatan yang telah disaksikan dan diaminkan oleh Tuhan membuatku begitu menghormatinya. Aku melibatkan perasaan di dalam hubungan yang kau anggap sebuah permainan. Aku memercayaimu sebagai penjagaku dan pelindungku, tetapi aku sadar jika semua itu hanyalah sebuah kegilaan."


"Kau mencintaiku?"


"Aku tidak tahu. Dan sepertinya hal itu sudah tidak penting lagi." Azlina memejamkan matanya kemudian. Dia merasa sudah tak ada lagi yang perlu diperbincangkan karena setiap perkataan yang akan dia ucapkan akan menambah luka di hatinya.


***

__ADS_1


》Nwxt, ya!


__ADS_2