
Alvaro keluar dengan menggunakan van putih yang jarang sekali dipakai. Dia menggunakan mobil tersebut hanya untuk berkamuflase menjadi orang lain, karena Almeera sangat hafal dengan mobil yang biasa ia gunakan. Tujuannya kali ini hanya untuk memata-matahi Almeera, berusaha mencari kebusukan perempuan itu yang selama ini ditutupi dengan sikap anggun dan lemah lembutnya.
Topeng yang selama ini dia pakai sangat berguna untuk menutupi hal buruk yang telah dilakukan, sehingga semua orang terperdaya akan dan menganggap dirinya sosok sempurna yang tanpa cacat. Hingga hari ini semua itu terungkap tanpa bisa dia tutup-tutupi lagi.
Alvaro menghentikan mobilnya tepat di jalan arah rumah Almeera, menunggu perempuan itu pulang setelah tragedi pemecatan yang dilakukan perusahaan terhadapnya. Informasi yang dia dapatkan dari seseorang terpercaya mengatakan Almeera pulang begitu keluar dari perusahaan, dijemput oleh sebuah mobil hitam yang tak jelas siapa pemiliknya.
Alvaro masih menunggu perempuan itu dengan memarkirkan mobilnya di bawah naungan pohon angsana yang tampak teduh karena lebat dedaunannya. Sinar terik matahari yang menerpa jalanan terasa menghangat jika berada di bawah pohon itu. Cukup lama lelaki itu menunggu, tetapi Almeera tak kunjung datang seperti dugaannya. Mungkin perempuan itu pergi ke suatu tempat terlebih dulu, sebelum memutuskan untuk kembali pulang ke rumahnya.
Alvaro menghela napas kasar. Sepertinya pengintaiannya hari ini tak membuahkan hasil. Dia memutuskan untuk segera menyudahinya dan kembali ke rumahnya. Akan tetapi, tepat ketika dia hendak menyalakan van putih itu, sebuah mobil hitam melintas di depannya.
Tidak salah lagi, mobil itu berhenti tepat di depan rumah Almeera, sehingga Alvaro urung untuk kembali pulang. Lelaki itu menajamkan matanya untuk melihat siapa yang sedang bersama Almeera. Sosok misterius yang tidak terjangkau pikirannya sampai seorang Sean Paderson menyuruhnya untuk mencari tahu.
__ADS_1
Tepat ketika pintu mobil itu terbuka, Almeera keluar dari mobil tersebut dan disusul pria bertopi dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya. Posturnya tampak familiar, tetapi Alvaro belum bisa memastikan siapa itu. Kedua orang itu tanpa rasa canggung masuk ke dalam rumah Almeera, sepertinya pria itu sudah terbiasa melakukannya, yaitu keluar masuk rumah Almeera.
Alvaro semakin penasaran dengan hubungan Almeera dengan pria itu. Apakah pria itu kekasih Almeera atau teman dekatnya? Akan tetapi menagapa Almeera justru menerima ajakan Mama Rani untuk menikah dengannya?
Hingga Alvaro tak kuasa menahan rasa penasaran yang membelenggu di hati. Lelaki itu perlahan turun dari Van putih miliknya, berjalan dengan mengendap-endap agar tak ketahuan jika sedang membuntuti. Segenap rasa keingintahuan yang sejak beberapa waktu lalu penuh sesak di pikirannya, kini sedikit terobati dan hampir menemukan jawaban begitu kakinya berpijak pada lantai marmer rumah Almeera.
"Apa rencanamu?" Lelaki yang duduk membelakangi Alvaro terdengar berbicara, suaranya begitu dia kenal, dan pastinya membuat darah Alvaro berdesir deras.
"Setidaknya air mataku tadi sanggup membuat Tante Rani semakin murka dengan perempuan itu. Aku tidak akan membiarkan orang-orang yang telah meninggalkanku dan menghinaku hidup dalam kebahagiaan, tidak akan pernah." Suara Almeera terdengar lantang, Alvaro hanya bisa mendengar suaranya karena tak mampu melongok ke dalam.
Alvaro semakin menajamkan telinga, berharap mendapat banyak informasi yang belum dia ketahui.
__ADS_1
"Ha-ha-ha ...." Lelaki itu tertawa. Suaranya melengking ke udara, membuat Alvaro semakin ingin menghajarnya, tetapi hal itu tentu dia urungkan karena masih ingin mendengar perbincangan mereka. "Kau membuat kegaduhan antara mertua dan menantu, atau antara besan dan orang tua?"
Almeera menanggapi dengan tegas, terdengar dari nada suaranya. "Aku yakin, pertengkaran dua orang tua akan menjauhkan dan memperburuk hubungan Alvaro dengan perempuan itu. Kau tertarik dengannya, bukan?" Almeera menatap wajah lelaki itu yang ditanggapi senyuman olehnya.
"Yaa, aku juga kesal dengannya. Karena dia aku kehilangan pekerjaan. Tapi aku masih terbayang ketika memergoki Alvaro berciuman dengannya. Aku jadi ingin mencicipinya juga."
Almeera tergelak, dia tak menyangka lelaki itu hanya terobsesi dengan bibir seorang wanita. "Kau akan mendapatkannya, beruntunglah karena Alvaro belum sempat menyentuhnya."
Brak!
Suara gebrakan pintu itu mengagetkan keduanya. Telinga Alvaro sudah memanas sejak tadi mendengar pembicaraan dua orang itu. Kini kesabarannya sudah berada di luar batas. Dua orang itu tidak bisa dibiarkan bersenang-senang di balik perjuangan dan penderitaannya dengan Azlina.
__ADS_1
Seketika Almeera berdiri, matanya tampak membeliak melihat kedatangan Alvaro yang tiba-tiba.
》Scroll lgi 😁