Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
118. Dipecat


__ADS_3

Almeera melangkah dengan gontai, ketika kakinya mulai meninggalkan kantor tempatnya bekerja. Dua tahun yang dia lewati dengan langkah tegap dan dagu terangkat ternyata berakhir mengenaskan seperti saat ini.


Matanya sembab dengan tangan terkepal mengingat penghinaan yang dilakukan oleh Sean Paderson kepadanya. Dia terpaksa mengakui semua sebelum ancaman penjara datang kepadanya. Setidaknya dia masih memiliki Mama Rani yang saat ini tengah berpihak kepadanya. Dia belum kalah, karena kartu As pernikahan Alvaro dan Azlina berada di pihaknya.


Kedua orang yang meraup untung besar akan diangkatnya Almeera sebagai Manager Keuangan telah diserahkan kepada pihak yang berwajib. Dengan kesaksian Almeera yang menjadi saksi mata atas apa yang dilakukan oleh Direktur Keuangan dan salah seorang staf kantor yang ternyata sepasang kekasih, membuat Mr. Richard mudah mengungkap kasus korupsi yang selama bertahun-tahun terjadi tanpa terendus dirinya.


Beruntung Sean datang dan menunjukkan banyak barang bukti akan hal yang tak dia ketahui. Sehingga, meskipun terlambat mengetahui, setidaknya perusahaan telah terbebas dari sosok manusia serakah dan tamak akan harta dan jabatan. Tentunya manusia-manusia seperti itu hanya akan menjadi duri dalam daging yang siap menggerogoti perusahaan yang menjadi inangnya.


Langkah Almeera terhenti begitu ada sebuah mobil yang berhenti tepat di depannya. Sosok laki-laki yang sangat dia kenal telah membukakan pintu mobil dari dalam untuknya.


"Masuk!"

__ADS_1


Tanpa banyak perpikir, Almeera segera memasuki mobil tersebut dan menutup pintunya kembali. Mobil hitam itu segera pergi dari area kantor tersebut dengan membawa Almeera bersamanya.


"Kau dipecat?" Suara itu membuat Almeera malas menanggapi. Dia mendèsah lesu, mengiakan pertanyaan dari orang itu. "Kau sudah kalah, Almeera. Kau tidak akan bisa melawan Sean Paderson. Jangankan kau yang berurusan dengan suami iparnya, pastilah dia tidak akan tinggal diam. Sementara aku yang hanya tak mengenali Salwa sebagai istrinya saja, membuatku tidak bisa masuk ke perusahaan itu."


Almeera semakin kesal mendengarnya. Dia mengepalkan tangannya erat, lalu meneriaki lelaki di sampingnya itu. "Aku belum kalah. Aku tidak terima dengan semua penghinaan ini. Sudah cukup penghinaan yang aku terima di masa lampau. Aku tidak akan menolerir penghinaan lain di masa sekarang. Ingat itu!"


...***...


Menuruni anak tangga dengan terburu, Alvaro berpapasan dengan Mama Rani. Perempuan itu begitu gembira melihat putra semata wayangnya telah keluar dari kamar. Sudah lima hari lamanya dia tak bertemu dan bertegur sapa dengan Alvaro, dan siang ini lelaki itu turun dalam kondisi rapi meskipun wajahnya tak sebersih biasanya.


"Alvaro, akhirnya kamu keluar, Nak!"

__ADS_1


Mama Rani mendekat ke arah Alvaro, tetapi lelaki itu tampak menghindar. Sikap menjauh Alvaro cukup membuat hati Mama Rani terluka. Anaknya sendiri tak ingin bertemu dengannya meski mereka tinggal seatap. Sungguh itu melukai batin seorang ibu.


"Kamu tidak mau bertemu dengan Mama? Apakah semua ini karena perempuan itu? Al, jangan jadi anak durhaka kamu!" Mama Rani mulai berteriak, tak tahan dengan kebungkaman Alvaro yang menurutnya sudah sangat keterlaluan.


Seakan tak peduli, Alvaro menulikan telinga, tak menghiraukan perkataan Mama Rani. Lelaki itu terus saja melangkah untuk kemudian keluar dari rumahnya. Dalam benaknya kali ini, dia hanya ingin semuanya terungkap dan menunjukkan betapa rendah seorang Almeera sesungguhnya. Tinggal sedikit lagi dia bisa membawa Azlina kembali, hidup bersama dengan wanita yang dicintainya.


Namun, Alvaro tak menyadari jika sikap dinginnya itu justru membuat Mama Rani semakin membenci Azlina. Azlina semakin disalahkan karena perilaku Alvaro yang berubah. Sehingga perempuan paruh baya itu bersemangat untuk segera menyingkirkan Azlina dan meminta Almeera untuk menggantikan posisinya.


...***...


Lanjut beberapa bab lagi.

__ADS_1


__ADS_2