
Terdengar kekehan dari bibir Alvaro menyadari sikap tak biasa Azlina. Jelas saja dia merasa lucu. Azlina ternyata takut kepadanya. "Jangan terlalu percaya diri. Aku gak minat sama kamu. Sudah, makan sana! Setelah itu minum obatmu."
Azlina masih siaga, tak terlalu percaya dengan ucapan lelaki di depannya itu. "Om, tidak menaruh obat macam-macam, kan, di minuman saya?" Efek terlalu banyak menonton drakor dan membaca novel online membuat jiwa curiga Azlina berkobar dengan situasi seperti saat ini.
Alvaro tampak mendengkus kesal. Bagaimana dia dilibatkan dengan gadis super merepotkan itu. Hingga Alvaro beranjak untuk menuju meja di mana makanan itu berada, membuktikan jika tiada obat apa pun yang dimaksudkan oleh Azlina. Alvaro meminum teh hangat jatahnya juga jatah Azlina sedikit hanya untuk membuktikan jika tidak ada obat apa pun yang dia masukkan ke dalam minuman itu. Akan tetapi, perbuatan Alvaro justru mendapat tanggapan lain dari Azlina.
"Om, itu kan punya saya. Kenapa Om juga meminumnya?"
"Bukannya kau curiga aku memasukkan sesuatu ke dalam minumanmu? Sekarang kau sudah tenang, kan, karena aku sudah mencicipi semuanya."
"Tapi bukan diminum secara langsung juga. Harusnya Om tadi mencicipinya menggunakan sendok. Kalau begini nanti kita sama dengan melakukan ciuman secara tidak langsung."
Alvaro mengembuskan napas kasar, begitu kesal sekaligus jengkel menghadapi bocil satu ini. Apa pun yang dia lakukan semuanya terlihat salah. "Jadi, kau ingin berciuman secara langsung?" Alvaro sudah mulai tak sabar menghadapi Azlina. Gadis itu sangat berbeda dengan kakaknya yang lembut dan pengertian. Meskipun kondisinya sedang sakit, tetapi Azlina masih memiliki tenaga untuk memaki-maki. "Kalau kamu ingin mencobanya, kita bisa mulai sekarang!" imbuh Alvaro dengan mendekat ke arah Azlina.
"Apa? Jangan mesum, ya, Om!" Dia bertambah gemetar seiring langkah Alvaro mendekat ke arahnya. Tubuhnya beringsut menjauh, pergi sejauh mungkin dari Alvaro. Akan tetapi, punggungnya terentak sandaran bed hingga tak bisa bergerak lebih menjauh.
Alvaro semakin mendekat, lalu menundukkan wajahnya, membuat Azlina meneguk ludah lantaran terlalu takut.
"Kau pikir aku pria macam apa, hah?! Cepat makan, sebelum kesabaranku habis!" ucap Alvaro kemudian, lalu menegakkan tubuhnya pergi menjauhi Azlina.
Azlina menghela napas lega. Sepertinya dia terlalu paranoid sehingga mencurigai siapa saja yang tidak dikenalnya dengan baik. Dan sebelum Alvaro menjauh, dia memanggilnya.
"Om, tolong hubungi orang tua saya. Saya takut mereka khawatir." Azlina benar-benar terlihat ketakutan. Takut dengan alvaro jika berbuat nekat, pun dengan reaksi keluarganya nanti. Pasti ceramah panjang dan lebar yang tak kunjung ada tamatnya akan diterima oleh Azlina setelah sampai di rumah nanti. Bukan hanya orang tuanya saja, melainkan ketiga kakaknya ikut menambah derita Azlina dan yang paling menyeramkan adalah wajah Kakak Ipar, yaitu suami Mbak Salwa yang selalu memasang ekspresi begitu dingin.
Tanpa menoleh ke arah Azlina, Alvaro menanggapi, "Ya, makan saja. Aku akan menghubungi mereka."
__ADS_1
Azlina tersenyum lega mendengar jawaban dari Alvaro. Dia melepaskan selimut yang membalut tubuhnya, lalu berjalan menghampiri meja kecil yang berada di sudut ruangan. Satu meja dengan satu kursi yang berwarna senada yang di atasnya sudah tertata menu makan malam.
Sebenarnya, Azlina enggan untuk makan, tetapi dia harus memaksa nafsù makannya membaik agar tubuhnya bisa kembali dalam kondisi fit. Tepat ketika Azlina menghabiskan makan malamnya, Alvaro segera menghubungi Papa Agus.
"Papa!"
"Di mana kamu? Apa sudah mendapatkan bunganya?" terdengar suara teriakan dari seberang sana membuat Alvaro segera menjauhkan telinganya dari benda pipih itu.
"Sudah, Pa. Hanya saja ...."
"Pa! Papa!" Alvaro menatap ponselnya yang berada dalam kondisi hitam. "Sial, dayanya habis." Dia tampak menyugar rambutnya kasar, lalu menatap ke arah Azlina.
"Sudah, jangan dipikirkan. Aku akan bertanggungjawab dengan keluargamu."
...***...
Malam itu semakin larut, dingin menyeruak, menyelimuti sekujur tubuh. Alvaro tidur di lantai beralaskan selimut dengan menggulung tubuhnya di dalam selimut tersebut seperti lontong. Dia menanggalkan pakaiannya yang basah agar tidak masuk angin dan menyisahkan celana pendek yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Sementara Azlina sudah terlelap nyaman di atas kasur empuk dengan selimut tebal yang menghangatkan tubuhnya.
Rasa kantuk itu tak bisa ditahan oleh Alvaro, sedangkan dinginnya lantai ternyata bisa menembus sampai ke dalam selimut.
Alvaro tak bisa menahan rasa dingin itu, hingga tanpa disadari dia beranjak dari tidurnya, melangkah perlahan menuju ranjang tidur di mana Azlina berada. Dia cukup mengantuk untuk menyadari itu semua. Sampai tubuhnya ditenggelamkan dalam selimut tebal yang sangat hangat menyenangkan. Alvaro terbuai dengan kehangatan itu yang sangat berbeda dengan tempat tidurnya semula, hingga dia kembali tidur dengan senyum mengembang, melanjutkan mimpi-mimpi indahnya yang sempat terganggu oleh dinginnya malam.
...***...
Kicauan burung terdengar samar-samar. Sinar mentari pagi mulai masuk di panel-panel kaca ruangan itu. Berkebalikan dengan hujan badai semalam, cuaca pagi ini tampak cerah dengan sinar mentari yang terasa hangat, mencairkan suasana dingin dan mengerikan kemarin malam.
__ADS_1
Azlina mengerutkan kening ketika jejak sinar mentari menerpa wajahnya. Kepalanya masih berdenyut nyeri, tetapi tak sesakit tadi malam.
Sepertinya Azlina telah bangun kesiangan.
Suara bising di luar ruangan menambah gangguan tidur Azlina. Dia mencoba membuka mata meskipun berat, lalu mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali, mencoba mengais kesadaran untuk dikumpulkan dalam satu titik. Akan tetapi, sesuatu yang terpampang di depan matanya membuat Azlina terkejut setengah mati.
Azlina mendapati dirinya tidur berdama Alvaro dalam posisi saling memeluk memberi kehangatan. Pakaiannya masih utuh, sementara pria itu bertelanjang dada, membuat pikiran buruk akan apa yang telah mereka lakukan semalam berputar-putar di kepala.
"Aaaaaaarrggh!" Azlina berteriak kencang. Tangannya mendorong dada lelaki yang telah memeluknya erat. Seketika itu juga Alvaro terbangun dari buaian mimpi. Dia membelalakkan mata, terkesiap dengan posisinya saat ini. Semalam dia tidur di bawah, tetapi paginya dia malah berada di atas ranjang dengan selimut yang sama dengan Azlina.
Bagaimana bisa?
Dan sebelum pikirannya tersadar untuk mengumpulkan seluruh informasi akan apa yang terjadi, pintu kamar itu terbuka secara paksa dari luar, membuat baik Alvaro dan Azlina ternganga tak sanggup mengatakan apa-apa.
"Azlina!"
Beberapa orang telah menangkap basah dirinya tidur bersama seorang pria dewasa. Azlina bingung harus berkata apa? Dia tak mengerti apa yang terjadi semalam. Sungguh dia tak merasakan dan mengingat apa-apa, tetapi apa yang harus dia katakan? Apa yang akan dia jelaskan sangat berbanding terbalik dengan apa yang telah terlihat di depan mata. Hingga Azlina memilih menunduk tak sanggup untuk memandang orang-orang yang sudah memasang wajah marah bercampur geram.
"Dasar anak tidak tahu diri!"
Seorang laki-laki paruh baya yang berdiri di antara orang-orang itu memanggil Alvaro dengan meninggikan suara, melangkah terburu-buru ke arah ranjang. Sebuah tinju keras mmendarat di pipi Alvaro, membuat lelaki itu tersungkur ke belakang.
"Papa, ini tidak seperti yang Papa pikirkan!" kilah Alvaro dengan mengusap pipinya yang terasa sakit. Dia mencoba menjelaskan kepada pria itu yang ternyata adalah papanya, tetapi tidak tahu harus menjelaskan apa.
"Lalu seperti apa, hah?! Papa tidak mau tahu, sekarang nikahi dia!"
__ADS_1