
Perjalanan yang mereka lakukan dengan begitu lambat akhirnya sampai juga di depan kampus megah yang konon bukan hanya yang terbaik di negara itu, melainkan juga termasuk salah satu yang terbaik di dunia.
Azlina turun dari motor, melangkah sedikit ke depan menghampiri sang suami. Rutinitas yang dulu sering dia lakukan ketika diantar oleh lelaki itu ke sekolah terulang lagi, tetapi kali ini mereka melakukannya dengan hati yang berbeda. Bukan lagi kepura-puraan atau sekadar melakukan peran dengan hati yang terpaksa, tetapi penuh kerelaan dan ketulusan.
Dikecupnya kening Azlina setelah perempuan itu mencium punggung tangannya. Sudah tidak ada lagi keisengan mencium bibir perempuan itu dengan mencari banyak taktik, karena setiap malam dan setiap berduaan, Alvaro tak perlu melakukan banyak drama untuk bisa mendapatkannya sebab Azlina pasti dengan senang hati memberikannya.
Ya, ternyata menjadi suami istri tak perlu mengumbar kemesraan di depan umum, karena di dalam rumah sudah bisa melakukan apa saja tanpa ada yang menentang atau melarang.
"Nanti Kakak jemput, ya? Enggak usah nunggu bus umum. Kita jalan-jalan setelah kamu pulang." Lelaki itu mengusap kepala Azlina setelahnya, tersenyum dengan pandangan melembut, menatap wajah yang sudah bersemu sejak tadi.
...***...
__ADS_1
Ruangan itu dibuat berundak-undak. Di bagian depan dibuat lebih tinggi sekitar tiga puluh sentimeter, sementara tempat duduk mahasiswa semakin ke belakang, semakin tinggi. Ada layar proyektor besar yang membentang di bagian depan dengan cahaya laser berfokus sebagai penunjuk ketika sang dosen menjelaskan.
Mereka menggunakan bahasa Perancis dan Inggris secara bergantian, sehingga Azlina harus menggunakan earpiece penerjemah bahasa di telinganya guna mendeteksi apa yang dijelaskan sang dosen. Meskipun saat ini dia mulai menguasai sedikit demi sedikit kosakata bahasa lokal di negara tersebut karena kerja kerasnya, tetapi Azlina harus tetap menggunakan earpiece itu sebagai jaga-jaga apabila ada hal yang tidak dia pahami..
Bukan hanya masalah desain dan mode yang menjadi pembelajaran. Azlina juga diajarkan cara menggambar untuk memvisualkan imaginasi, serta manageman bisnis untuk mendatangkan banyak proyek ketika mereka berkecimpung di dunia kerja sesungguhnya. Begitu profesional ilmu-ilmu yang didapat, pantas saja banyak yang menjadi desainer terkemuka yang meiniti karier bermula di sini. Tak salah jika kiblat fashion dunia masih dipegang oleh Paris hingga saat ini.
Kelas dimulai secara bergantian dan beruntun dengan ruangan berbeda-beda sesuai konteks pelajaran yang akan diberikan oleh pengajar. Azlina dengan teman sesama dari Asia timur, yang kebetulan berada di kelas dan jurusan yang sama kini sedang menyelesaikan catatannya di sebuah laptop. Mereka memang lebih banyak menggunakan tulisan digital daripada tulisan fisik. Tulisan fisik berlaku jika mereka sedang dalam tahap membuat desain dan beberapa hal yang berhubungan dengan mode serta gambar.
Azlina mengangguk, setelah mematikan komputer tersebut, lalu memasukkannya ke dalam tas ransel miliknya. Mereka bertiga akhirnya keluar dari ruangan itu untuk segera pulang setelah semua kegiatan kelas telah usai.
Sesuai permintaan Alvaro, Azlina tak lagi mengikuti kedua temannya untuk pergi ke halte bus, karena lelaki itu sudah menunggunya di sana. Di seberang jalan dengan membawa motor ... matic. Oh, bukan, Alvaro tak lagi menaiki motor matic, karena lelaki itu sekarang sudah merubah penampilan dengan tak lagi mengenakan motor matic, melainkan Harley Davidson berjenis sport.
__ADS_1
Azlina ingin segera menyeberang untuk menemui Alvaro setelah pandangan mereka bertemu, tetapi lelaki itu mencegahnya dengan isyarat tangan agar tetap di tempat. Azlina mengangguk menurut, memilih berdiri agak menepi dari jalan raya, berdiri di atas trotoar. Di sana dia melihat Alvaro mulai menghidupkan mesin motornya, lalu melaju untuk berbalik arah menjemput Azlina langsung tepat di depan gerbang kampusnya.
"Pakai ini!" Alvaro mengangsurkan helm model wanita kepada Azlina, tetapi perempuan itu tak langsung menerimanya. Dia sedikit mengernyit melihat tampilan sang suami saat ini. Mengenakan jaket kulit, sarung tangan kulit seta celana jins dengan helm sport yang sudah terpasang gagah di kepala.
"Kakak dapat dari mana semua ini?"
Alvaro membuka kaca helmnya, lalu tersenyum menanggapi kecutigaan Azlina. "Punya teman. Ayo berangkat! Kita pacaran dulu!" ucapnya dengan menarik tangan Azlina agar segera menaiki motornya.
...***...
》Ke bawah lagi. 🤭😁
__ADS_1