Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
91. Membebaskan Diri


__ADS_3

Udara mulai terasa dingin ketika mobil Alvaro sudah berada di daerah dataran tinggi. Kemeja yang sedari melekat hangat di tubuhnya tak lagi bisa melindungi dari terpaan hawa dingin yang sudah menyeruak kulit. Tubuh Alvaro yang belum pulih benar tampaknya tak bisa mengimbangi serangan suhu dingin di tempat itu.


Alvaro menepikan mobilnya, rasa kantuk mulai menyerang sehingga dia memutuskan mencari penginapan terlebih dulu. Kondisi tubuhnya juga tak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan yang kurang puluhan kilometer lagi.


Dia harus menahan diri, meski hati sudah tak bisa menekan kerinduan yang teramat sangat kepada sang istri. Dia tak harus terburu-buru untuk meluapkan emosi dengan memaksa pencarian terus berlanjut karena bisa menyebabkan kejadian fatal yang mungkin akan merugikan diri sendiri.


Ya, dia akan beristirahat sejenak menunggu esok hari untuk melanjutkan pencarian Azlina. Semoga Tuhan masih memberikan kesempatan kepadanya untuk.bisa bersama dan bersatu kembali dengan sang istri.


...***...


Pagi itu, ketika matahari sudah menampakkan kuasanya, menerangi dunia dengan menghangatkan menggunakan sinarnya, seorang gadis tampak tersenyum sembari menata bunga-bunga yang dijajar dalam pot polybag kecil-kecil yang biasa digunakan sebagai bibit untuk menumbuhkan bunga baru.


Area budidaya bunga yang sejak lama dirawat oleh sepasang suami istri yang telah meminta izin pulang kampung karena ada saudara yang sedang menikah, kini tampak dipadati pengunjung.


Gadis itu masih kebingungan melihat banyaknya tamu yang datang mengunjungi tempat budidaya bunga milik keluarganya. Dia tak menyangka jika akan mendapatkan banyak tamu kendati bukan hari libur.


Beberapa orang tampak melihat-lihat koleksi bunga dan sesekali ada yang menawar bunga yang diincar.


"Tambahin dikit, dong, Om. Enggak kasihan sama saya yang sudah merawatnya dengan penuh kasih sayang." Gadis itu mencoba membujuk pelanggan untuk menaikkan harga menawarnya.


"Ah, bisa aja, Neng. Udah punya pacar, belum? Kalau belum nanti Abang tambahin dua kali lipat, deh."


Gadis itu hanya menggelengkan kepala, tak menghiraukan godaan si calon pembeli.


"Hemm, Om. Tambahin dikitlah, biar sama-sama enak."


Si calon pembeli genit itu pun mengangguk setuju.


"Bungkus, ya, Neng. Jangan lupa, selipin nomor handphone!" Dia berkata dengan nyengir. Gadis itu hanya tersenyum menanggapi, lalu segera menyiapkan tali serta kantung plastik untuk membungkus bunga yang dipilih oleh pelanggan tersebut.


"Mana temennya, Neng? Kok sendirian?" Kembali pria berusia sekitar hampir tiga puluh tahun itu mencoba mengakrabkan diri, duduk di samping gadis itu yang sedang merapikan pesanannya.


Sembari mengikat beberapa bibit bunga, gadis itu menanggapi pertanyaan customer-nya dengan sabar.


"Cuti, Om. Saudaranya menikah."

__ADS_1


"Kebetulan, dong. Abang juga siap nikah sama Eneng."


"Yee, saya mah dah punya suami, Om. Cari yang lain, deh!" Dia meletakkan bibit bunga itu di bawah setelah selesai merapikannya. "Sekalian pupuk dan tanahnya, enggak, Om?"


Bukannya menjawab pertanyaan Azlina, pria itu justru menanyakan hal yang lain. "Masak sih, Neng udah punya suami. Masih ting-ting gini."


Terdengar helaan napas berat dari gadis itu, mengibaskan tangan yang kotor, dia berkata, "Enam ratus lima puluh ribu totalnya, Om."


Pria itu akhirnya memberikan tujuh lembar ratusan ribu kepada gadis penjaga bunga yang cantik itu.


"Ambil aja, Neng, kembaliannya. Oh, ya, di lembar terkahir ada nomor telepon saya. Siapa tahu Neng berubah pikiran. Hubungi saya, ya .... Jodoh, kan, enggak ada yang tahu, Neng!" ucapnya sembari membungkuk mengambil bunga yang telah terikat rapi.


Perempuan itu terkekeh kecil, lalu menyunggingkan senyum ramah. "Makasih, ya, Om. Lain kali mampir lagi!"


"Pasti, dong! Apalagi kalau saya dihubungi duluan."


Dia hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah aneh-aneh customer yang datang pagi ini.


Cukup sibuk hari ini, membuat gadis itu bisa melupakan sejenak masalah yang akhir-akhir ini membuat dirinya tak tenang, menangis di malam hari dan melamun di kala siang. Dia tak bisa menikmati hidupnya sendiri. Dan kini, kesibukan yang jauh dari rutinitas harian dengan ditemani bunga-bunga indah dan suasana pegunungan yang selalu asri dan sejuk membuatnya menjadi lebih baik dan lebih tenang.


Gadis itu termenung beberapa saat, setelah para pengunjung sudah mulai sepi. Di keheningan seperti ini, bayangan lelaki itu muncul kembali. Rasa rindu yang sejak lama ditahannya kini mulai menerpa lagi, merayap hingga ke relung hati yang terdalam. Dia menitikkan air mata ketika merasakan rindu itu tak mungkin bisa diluapkan. Dia akan menahan rindu itu sendiri, sampai Tuhan mau mencabutnya dari hatinya.


Lamunan Azlina berakhir ketika sebuah suara mengejutkannya.


"Hai, Cantik!"


Azlina segera mengusap air mata yang hampir mengering di sudut matanya. Dia mengalihkan perhatian kepada pengunjung yang sepertinya tak ada niat untuk membeli itu.


"Nyari apa, Bang?" Azlina memasang wajah ketus dengan bersedekap dada. Dia sendirian, terkadang hal seperti ini membuatnya takut untuk berjaga di tempat budidaya sendiri.


"Nyari kamulah." Lelaki itu mendekat sembari menoleh ke kanan dan ke kiri. "Apin sama Asri enggak ada, ya? Kebetulan sekali." Senyumnya terlihat menjijikkan.


"Jangan dekat-dekat, deh! Saya udah menikah, Bang! Udah Abang pergi aja! Bang Apin enggak ada." Azlina mendorong tubuh lelaki itu, tetapi tenaganya tak sekuat itu sehingga dorongannya tampak sia-sia belaka.


"Mana suaminya? Enggak ada, 'kan? Neng, janda, ya? Kebetulan sekali, pasti butuh anget-anget, dong!"

__ADS_1


"Apaan, sih! Pergi enggak?!" Azlina berteriak, tetapi tetap saja pria mesum itu tak peduli. Kakinya semakin mendekat, membuat Azlina kian memundurkan langkahnya.


Sial! Tidak ada yang bisa dimintai pertolongan. Kebetulan tiada pengunjung sama sekali, sehingga pikiran sadar Azlina merasa lelaki di depannya ini sangat membahayakan.


"Ayolah, Neng! Pasti butuh yang anget-anget, 'kan? Jangan munafik, deh!" Dia terkekeh, membuat Azlina semakin ketakutan.


Azlina ingin berlari masuk ke dalam rumah, lalu menguncinya, tetapi tangannya segera ditahan oleh pria itu. "Lepaskan! Brengsék!"


"Jangan teriak, Neng! Enggak ada yang denger. Yuuk, kita maen di dalam aja." Pria itu menarik tangan Azlina, mengajak gadis itu masuk ke dalam rumah.


Dengan sekuat tenaga, Azlina berontak sambil berteriak meminta tolong. Namun, tak ada seorang pun di sana. Tetangga yang tinggal di belakang kebun bunganya juga tampak tak mendengar teriakannya membuat gadis itu kian frustrasi.


Lelaki itu semakin menguasainya dengan menarik tangan serta pinggang Azlina.


Tidak, tidak boleh terjadi. Air mata itu mengalir tiada henti dengan tubuh beberapa kali dientakkan mencoba berontak dari dekapan pria itu.


Pria itu tetap saja memaksa Azlina, menarik tangan perempuan itu agar segera masuk ke dalam rumah. Namun, Azlina masih berusaha mempertahankan diri. Berada di dalam rumah dengan pintu terkunci justru akan semakin sulit melarikan diri dari cengkeraman pria gila dan tidak tahu diri itu.


"Lepaskan! Tolooooong!" Azlina masih berusaha berteriak berharap ada seseorang yang mungkin tanpa sengaja mendengar teriakannnya. Akan tetapi, seolah tempat di mana dia berada adalah kawasan terisolasi, Azlina tak mendapati tanda-tanda seseeorang datang menolongnya.


Dia hampir putus asa ketika lelaki kurang ajar itu sempat memeluk tubuhnya. Bayangan Soni, seorang pria yang sempat melakukan hal ini kepadanya waktu itu kembali terbayang di kepalanya. Dia semakin takut dan histeris di saat pria itu hampir menjamah tubuhnya.


Hingga seseorang yang tiba-tiba berlari dari arah pintu masuk, melayangkan pukulan ke wajah pria hidung belang itu.


"Bajìngan! Berani sekali kau menyentuhnya!"


Hanya sekali pukulan di wajah, cekalan di tangan Azlina terlepas dengan pria itu tersungkur ke tanah. Lelaki itu tak membiarkan pria hidung belang itu terlalu lama bersantai di atas tanah. Dengan murka dia menghajar pria biadab itu berkali-kali. Setiap pukulan yang dia daratkan merupakan perwakilan dari air mata serta teriakan tak berdaya Azlina. Lelaki itu benar-benar marah, hingga dia tak bisa lepas kendali dengan apa yang telah dia lakukan.


Azlina menatap seseorang yang tengah membantunya, dia menggeleng seakan tak percaya melihat siapa yang ada di depan mata. Air matanya masih berderai tak bisa berhenti. Tangan yang masih berbalut sarung tangan itu mengusap kasar air matanya.


Dia tidak salah orang, bukan?


Dia tidak sedang bermimpi?


Lelaki itu masih menghajar pria yang sudah berbuat kurang ajar itu tanpa ampun, tetapi Azlina segera melerainya, merasa pria itu sudah tak berdaya lagi.

__ADS_1


"Kakak, hentikan!" Dia memeluk lelaki itu, memeluk erat sembari menangis dengan membenamkan wajahnya di dada lelaki itu.


__ADS_2