
Pandangan lelaki itu mengarah pada sosok yang membentaknya. Dia segera melepaskan tangan Azlina yang sedari tadi ditahan olehnya.
Lelaki berpakaian formal, kemeja berwarna biru nude yang selaras dengan kebaya yang dikenakan Azlina, berwajah tampan, hidung mancung dengan garis rahang yang tegas, begitu berbeda dengan ciri-ciri pria yang disebutkan Airin sebagai mantan suami Azlina. Mata lelaki itu menunjukkan keberangan yang nyata, melihat Elang yang saat ini tampak kesulitan menelan ludah.
Lelaki itu adalah Alvaro. Dia telah datang di acara wisuda Azlina sebagai wali dari perempuan itu.
Tatapan semua orang yang sebelumnya begitu sinis dan merendahkan terhadap Azlina, sedikit demi sedikit berubah melihat sosok Alvaro yang ternyata begitu tampan. Jika Azlina adalah gadis murahan, mungkin bukan sosok seperti Alvaro yang menikahinya, melainkan pria kaya tua, perut gendut juga berkepala botak. Ya, setidaknya usianya pasti di atas empat puluh, bahkan lima puluh tahun ke atas.
Namun, sosok di depan mereka bukanlah seperti itu. Siapa pun pasti mau jika dipasangkan dengannya, sehingga seketika mereka merasa iri kepada Azlina akan keberuntungan nasib perempuan itu.
Alvaro memungut kertas yang tercecer di lantai yang mana sebelumnya kertas-kertas tersebut dilepas oleh Azlina dari mading. Geraham lelaki itu mengeras menahan marah, membaca setiap rentetan huruf yang berada di kertas tersebut. Patutlah dia melihat Azlina hampir menangis, wajah istrinya itu sudah memerah menahan air mata yang hampir lolos dari pelupuk matanya.
"Siapa yang membuat semua ini!" Teriaknya lantang, menatap satu per satu orang yang sedang menonton kejadian langka itu.
Mereka semua hanya diam, tak berani mengucapkan sepatah kata. Mata Alvaro tertuju kepada Elang, melemparkan kertas itu mengenai wajahnya. "Kau yang melakukannya?"
Tangannya sudah bersiap mencengkeram kemeja Elang, sorot matanya pun menajam menusuk ke kedalaman mata lelaki itu. Hingga Airin yang semula bisa tersenyum kini berubah pasi.
Bukan sebatas cengkeraman di kemeja, lelaki itu justru mencekik leher Elang dan membuat semua orang histeris karena tingkahnya.
Azlina segera bertindak, menahan tangan Alvaro agar tak menyakiti Elang. Pikirannya masih waras untuk tidak membuat keributan di sekolahnya. Dia ingin semuanya tenang, tak ada sebuah pertengkaran, bahkan perkelahian sekalipun.
__ADS_1
"Kak, sudah! Tidak perlu ditanggapi. Aku tidak apa-apa."
Tangan Alvaro ditahan oleh Azlina, memeluk lengan itu agar tak menyakiti siapa pun. Amarah yang sempat memuncak karena harga dirinya dan sang istri direndahkan sedikit surut karena Azlina berusaha meredamnya.
Alvaro melepaskan leher Elang, membuat lelaki itu terbatuk-batuk. Beruntung Azlina dengan cepat bereaksi, sehingga Elang tak sampai kehabisan napas.
Alvaro menoleh ke arah Azlina kemudian, menatap manik bulat hitam berkilauan yang hampir meneteskan air mata.
Dia menghela napas, mencoba menetralkan amarah dan gemuruh di dada. Namun, sepertinya hal itu tak berlangsung lama, karena begitu tatapannya mengarah kepada wajah Azlina, bekas tamparan di pipi perempuan itu masih terlihat jelas.
Alvaro mengusap pipi kemerahan yang memar tersebut perlahan, menciptakan rasa nyeri di wajah perempuan itu, sehingga Azlina sedikit mengernyit dan mendesiskan menahan sakit. "Siapa yang memukulmu? Katakan!"
Airin semakin takut, dia beringsut mundur. Sinyal melarikan diri di kepalanya mulai beraksi. Akan tetapi, seolah-olah kakinya telah terpaku di sana, di mana lantai yang sedang dia pijak menahan kaki itu untuk melangkah.
"Kak, aku tidak apa-apa.Aku ... ingin kita pergi dari kerumunan ini. Aku mulai pusing." Azlina menahan Alvaro untuk tak membuat gaduh. Sudah cukup pembuktian bahwa apa yang disebarkan oleh Airin merupakan sebuah kebohongan. Tanpa harus melakukan kekerasan, semua orang tahu siapa yang bermasalah di sini.
Alvaro melepaskan pelukan tangan Azlina di lengannya, beralih melingkarkan tangannya di pinggang perempuan itu, membuat semua orang yang menatap mereka menjadi iri. Pasangan yang begitu serasi, mampu membuat orang lain berdecak kagum karena sikap lembut Alvaro kepada Azlina.
Sebelum lelaki itu melangkah pergi bersama Azlina, dia menatap semua orang satu per satu secara bergantian dengan penuh ketegasan. Aura kedewasaan Alvaro terlihat jelas di saat ini, menghadapi anak-anak sekolahan yang masih memiliki pikiran labil dan tak bisa membedakan kebenaran dan kesalahan.
"Dengar kalian semua! Azlina adalah istriku. Ya, kami memang hanya menikah secara agama sebab usianya masih belum cukup untuk melakukan pernikahan yang sah di mata hukum. Karena dia begitu istimewa sehingga aku suaminya mengikatnya dengan cara seperti itu. Asal kalian tahu, menaklukkannya begitu sulit, aku berjuang keras untuk mendapatkan hatinya. Jadi, apabila ada seseorang yang berani menghina atau bahkan melukainya, dia tidak akan pernah hidup tenang sebelum mendapatkan balasan yang setimpal."
__ADS_1
Setelah kata itu terucap dengan membuat Airin semakin gelisah, ketakutan, Alvaro mengajak Azlina untuk pergi dari kerumunan itu menuju ke tempat aula di mana acara wisuda sekolah akan dilangsungkan.
...***...
"Kenapa harus di hotel, Kak? Kalau hanya handuk dan air hangat di klinik sekolah juga ada."
Alvaro hanya terkekeh melihat kebingungan Azlina. Mencari alasan untuk berduaan, lelaki itu mengajak sang istri ke hotel hanya untuk mengompres pipi Azlinaa yang memar akibat tamparan Airin.
"Di sini lebih enak. Lebih sejuk AC-nya."
Alasan yang tidak logis diucapkan oleh Alvaro cukup membuat Azlina mengernyit heran.
"Sudahlah, sini Kakak obatin memarnya!"
Perlahan lelaki itu mengusap pipi Azlina yang memar menggunakan handuk yang telah dibasahi oleh air hangat. Azlina merasa begitu nyaman ketika sapuan handuk hangat itu menerpa kulit pipinya.
Azlina memejamkan mata, menikmati pijatan lembut di pipi, tetapi sikapnya itu membuat Alvaro tak tahan lagi. Ya, dia memang sudah tak tahan sejak tadi dengan posisi begitu dekat, mengusap pipi Azlina yang lembut dengan sesekali meniupnya. Sikapnya itu cukup meresahkan dirinya, menahan rasa gelisah yang telah dirasakan sejak tadi.
Hingga ketika Azlina membuka mata, satu pergerakan Alvaro membuat perempuan itu membulatkan mata dengan sedikit berteriak.
"Kakak!"
__ADS_1
》Hayoo, ngapain kira-kira? 🤭