
Seperti biasa, Azlina menyiapkan pakaian Alvaro untuk lelaki itu bekerja. Dengan cekatan jemarinya memasangkan kancing kemeja itu satu per satu dengan tatapan datar. Hingga dasi itu ia kalungkan ke leher Alvaro, memasangkannya dengan benar.
"Aku hanya ingin menjadi istri yang baik di sisa-sisa waktu pernikahan kita. Setidaknya aku tidak akan merasa menjadi istri durhaka ketika kita telah berpisah nanti."
Alvaro hanya diam dengan mengamati wajah sendu itu. Wajah yang sebelumnya selalu tersenyum ceria, kini berubah semakin pendiam dan tertutup. Hingga lelaki itu melabuhkam ciuman di kening Azlina, menekan bibirnya di kening gadis itu cukup lama. Hanya ciuman di kening, tetapi menimbulkan rasa yang tak biasa.
Alvaro menikmatinya dengan memejamkan mata, pun dengan Azlina yang ikut memejamkan mata ketika bibir itu tak kunjung pergi meninggalkan dahinya. Seolah-olah itu adalah ciuman kening terakhir mereka.
"Biarkan aku menjalani peranku sebagai suami sampai saatnya tiba." Dia berbisik kemudian.
Setelah ciuman di kening itu terlepas, Alvaro memeluk tubuh Azlina erat, sangat erat tanpa ingin melepaskannya. "Aku akan sangat merindukan ini, memelukmu seperti ini."
Azlina hanya diam tak menjawab, dia ikut merasakan pelukan itu. Pelukan yang tentunya lebih hangat dan membuatnya sangat nyaman. Dia hampir terlena, tak ingin melepaskan karena tangan kokoh itu yang selalu memeluknya dalam tidur, memberi belaian di punggung, juga memberi kenyamanan ketika dirinya ingin bersandar. Namun, sejurus kemudian dia tersadar, menghentikan lamunan dan keinginan agar tetap berdiam, segera menyingkirkan perasaan yang sepertinya tumbuh semakin subur.
"Kak, ayo kita berangkat!"
Alvaro mengangguk, sembari melingkarkan tangan di bahu Azlina, keduanya keluar secara beriringan. Bagai sepasang suami istri yang sedang berbahagia, penuh kasih dan sayang serta tak terpisahkan.
...***...
"Na, akhirnya kamu datang."
Elang yang sejak tadi menunggu kedatangan Azlina segera berlari menemui gadis itu ketika melihat Azlina turun dari mobil. Lelaki itu langsung meraih kedua tangan Azlina, menunjukkan rasa kekhawatiran yang nyata.
Alvaro melihat pemandangan dua pemuda pemudi itu dengan perasaan kesal. Bagaimana Azlina hanya tersenyum ketika tangannya disambar oleh lelaki itu tanpa ingin menolaknya.
Mereka berjalan bersisian dengan tangan Elang melingkar di bahu Azlina. Begitu mesra dan memanaskan hati yang tengah dibakar api cemburu.
"Maaf, aku kemarin tiba-tiba sakit perut. Jadi langsung ke toilet tanpa memberi tahumu."
Azlina mencoba mencari alasan agar Elang tidak curiga.
"Lalu, sekarang bagaimana? Apakah masih sakit?"
Azlina menggeleng dengan menampilkan senyum terbaiknya. "Semuanya sudah baik-baik saja. Maaf sudah membuatmu cemas."
__ADS_1
"Tidak, aku yang minta maaf. Aku pikir kau marah karena aku ... menciummu."
Wajah Azlina merona seketika. Dia tak menyadari jika mereka sempat akan berciuman saat itu. Dia menunduk, menyembunyikan rona merah di wajah.
"Woy, pacaran terus! Tuh, jadwal ujian sudah keluar. Buruan cek, gih!"
Lulu tiba-tiba merusak suasana, membuat keduanya segera mengalihkan perhatian ke arah gadis itu.
"Benarkah?" Azlina mengangguk kepada Elang, meminta izin untuk pergi. "Aku mau lihat jadwal dulu, ya!"
Elang mengangguk, melepaskan genggaman tangannya di bahu Azlina. "Iya, hati-hati! Nanti aku telepon."
Wajah merona yang tertutup sedikit anak-anak rambut itu mengangguk, lalu segera pergi menyusul Lulu.
Jadwal ujian memang sudah keluar, mengingat Senin depan ujian sudah dimulai sehingga siswa kelas tiga diharapkan untuk fokus kepada pelajaran.
Azlina dan teman-temannya mengadakan belajar kelompok yang mana dilakukan di kelas usai jam pulang sekolah hanya untuk membantu anak-anak yang kurang mengerti dengan pelajaran yang ada.
Ujian memang suatu hal yang sakral, semua yang mereka lewati selama tiga tahun hanya ditentukan dengan beberapa hari mendatang saja. Sehingga semua murid tampak berusaha mati-matian agar bisa mendapatkan predikat lulus.
Alvaro yang saat itu baru pulang bekerja tampak bersemangat ketika kakinya sudah memasuki pintu rumah. Tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri, lelaki itu segera masuk ke kamarnya. Dia yakin jika Azlina sedang sibuk belajar di kamar. Dan benar saja, begitu dia masuk ke dalam kamar, Azlina terlihat ketiduran di atas meja belajar dengan buku-buku yang masih terbuka.
Alvaro melangkah mendekat, mengusap kepala gadis itu yang sudah terbuai di alam mimpi. Wajah Azlina tampak lelah, tetapi tak mengurangi kecantikan alaminya. Ya, Alvaro merasa semakin hari istri kecilnya itu makin cantik dan memesona, membuatnya tidak rela jika benar-benar melepaskannya.
Menahan diri, Alvaro masuk ke kamar mandi terlebih dulu untuk membersihkan diri. Ya, dia merasa tubuhnya lengket dan bau jika harus menggendong Azlina dalam kondisi seperti itu. Sehingga lelaki itu memilih mandi, lalu memindahkan Azlina setelahnya dengan tubuh yang harum.
Tak perlu banyak membuang waktu, Alvaro sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang dililit di pinggang. Lelaki itu mengusap-usap rambutnya yang basah dengan handuk kering yang lain, tubuhnya sudah segar dengan harun sabun, tiada bau keringat yang lengket dan busuk. Bibirnya tersenyum simpul melihat Azlina belum juga terbangun, membenamkan wajah dengan posisi miring di atas satu tangan yang berada di atas meja.
Perlahan dia menggendong tubuh ramping itu untuk segera dipindahkan ke ranjang. Namun, tepat ketika Alvaro membawa Azlina dalam gendongannya, mata lelaki itu tertuju pada ponsel Azlina yang sedang berkedip.
Wajah Alvaro mendadak kesal melihat nama yang tertera di ponsel Azlina. Itu adalah panggilan video dari Elang Atmadja.
Sepertinya hubungan Elang dan Azlina kian membaik juga banyak kemajuan. Hal itu cukup membuat hati Alvaro tak tenang.
Namun, kesepakatan itu tetaplah kesepakatan. Jika Azlina memang memilih Elang sebagai pendampingnya kelak, dia bisa apa? Lagi pula, Almeera sekarang lebih sering menghubunginya setelah putus dari Ren.
__ADS_1
Ya, rencana mereka untuk mendapatkan kekasih impian tampaknya berjalan mulus sesuai rencana. Akan tetapi, mengapa rasanya tak seindah dulu? Mengapa ketika cinta yang mulai tersambut justru terasa hambar dari hari ke hari. Alvaro tidak merasakan kebahagiaan yang harusnya sangat luar biasa ketika Almeera lebih intens menghubunginya. Dia justru terganggu melihat kedekatan Azlina dengan Elang. Apakah itu artinya dia sedang cemburu?
Lelaki itu melangkahkan kakinya menuju ranjang, merebahkan Azlina di sana, lalu mencium kening gadis itu. Wajah damai Azlina bisa menular pada ketentraman hatinya. Bahkan, alvaro tak menyadari jika sejak beberapa menit lalu dia masih membungkuk dengan menatap lekat wajah istri kecilnya.
Hingga mata itu terbuka ketika merasakan terpaan hawa panas dari embusan napas Alvaro yang ternyata begitu dekat dengan wajahnya.
"Kak, apakah aku ketiduran?"
Alvaro menegakkan tubuhnya, duduk di samping Azlina. Dia masih mengenakan handuk dengan bertelanjang dada, membuat wajah Azlina kian merona menatapnya.
"Kakak baru ... mandi?" Sedikit terbata Azlina mengucapkannya, dia ikut menegakkan tubuhnya untuk duduk dengan bersandar di kepala ranjang.
Alvaro tak menanggapi. Dia menatap ke arah depan, tanpa menoleh ke arah gadis itu.
"Zi, besok kau sudah mulai ujian, 'kan?"
"Hemm, begitulah!"
"Itu artinya sebentar lagi kau akan lulus?"
Azlina mengangguk mengiakan. "Doakan bisa lulus dengan baik, ya!"
Sebuah senyuman terlihat di ujung bibir Alvaro yang tampak dari samping. Lelaki itu menunduk setelahnya.
"Lima hari lagi kau sudah sembilan belas tahun, bukan?" Dia menoleh ke arah Azlina, lalu mengatakan, "Aku ingin merayakan ulang tahunmu berdua. Apakah kau mau? Anggap saja sebagai permintaan terakhirku."
"Kak!"
Azlina melihat sorot mata Alvaro berbeda. Lelaki itu tampak sedih dan rapuh. Apakah karena pernikahan yang hampir selesai ini? Tidak, pasti karena hal lain karena perpisahan adalah keinginan Alvaro. Dialah yang menginginkan akhir dari pernikahan ini, bahkan skenarionya sudah direncanakan jauh-jauh hari sebelumnya.
"Aku ingin menghabiskan malam itu denganmu, berdua."
"Menghabiskan malam? Berdua?"
Wajah Azlina mendadak pasi ketika mendengar permintaan Alvaro kepadanya. Apa yang sebenarnya direncanakan lelaki itu sesungguhnya?
__ADS_1
》lanjut lagi