Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
143. Pria Melankolis


__ADS_3

Lelaki itu berdiri mondar-mandir tak tentu arah, dia cemas setengah mati dengan apa yang terjadi kepada istrinya. Jadwal penerbangan masih beberapa jam lagi, dan kini dia diliputi kecemasan yang nyata. Apalagi sejak tadi panggilan teleponnya diabaikan oleh perempuan itu.


"Kamu bisa tenang tidak? Papa tidak bisa bekerja melihatmu mondar-mandir seperti ini."


Papa Agus menggeleng, kesal dengan perilaku Alvaro yang justru membuatnya ikut bingung. Dia juga cemas, tetapi bisa bersikap tenang dan dewasa, sangat berbeda dengan Alvaro.


"Gimana bisa tenang, dia di sana sendiri, Pa. Tidak ada yang menjaga dan merawat. Aaah! Tahu begini Varo tidak usah pulang saat itu." Dia mengacak rambutnya, merasa menyesal meninggalkan Azlina sendiri di sana.


"Alvaro, cukup! Hubungi orangmu lagi, apakah kamu sudah bertanya sakit apa istrimu?" Merasa tak sabar dengan sikap putranya, lelaki itu akhirnya mengambil sikap.


Alvaro menggeleng, dia tak sempat menanyakannya karena terlampau panik akan kabar bahwa Azlina telah pingsan di kampus. Dia bergegas menghubungi utusannya itu, dan hanya dalam hitungan detik, panggilan Alvaro terjawab sudah.


"Bagaimana kondisi istriku sekarang?"

__ADS_1


"Nyonya sudah diantar pulang setelah melakukan serangkaian tes di klinik kesehatan kampus."


"Serangkaian tes?" Kerutan terlihat seperti gelombang-gelombang kecil di dahi Alvaro. Sebegitu parahkah yang terjadi pada Azlina sehingga melakukan banyak tes untuk memeriksa kondisinya? Perasaannya semakin tidak enak mendengar kabar itu.


"Ya, dan Nyonya dinyatakan positif ... hamil."


"A-pa? Hamil?"


Alvaro tak salah mendengar, bukan? Azlina hamil, dia akan menjadi seorang ayah. Dia menatap langit-langit dengan mata yang sudah berembun akan rasa haru itu. Dadanya terasa membuncah diliputi kebahagiaan. Dia akan menjadi ayah. Dia akan menjadi seorang lelaki yang sesungguhnya, laki-laki yang berhasil berumah tangga membentuk keluarga kecilnya sendiri.


Sehingga lelaki paruh baya itu beranjak dari meja kerjanya, melangkah mendekat ke arah Alvaro yang masih tersenyum dan hampir menangis. Putranya itu lebih tepat disebut sedikit stres dan gila setelah melalukan panggilan teleponnya dengan seseorang yang dia jadikan utusan untuk memantau Azlina di Eropa.


Dia melangkah mendekat, lalu mengguncang tubuh Alvaro agar lelaki itu sadar dengan sikap absurd yang dia lakukan.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" Tangannya tak melepas dari bahu Alvaro, menatap lurus ke kedua mata sang anak yang sudah hampir meloloskan cairan bening. Kembali dia guncangkan bahu lelaki itu, tak sabar akan jawaban yang belum juga dilontarkan sejak tadi.


"Apakah begini rasanya?"


"Apa?" Papa Agus semakin tak mengerti dengan perkataan Alvaro. Sikap putranya itu semakin aneh saja. "Apa maksudmu? Katakan yang jelas!" perintahnya.


"Apa Papa dulu merasakan hal ini juga ... ketika mendengar ada aku di perut Mama?"


"Maksudmu?"


Alvaro tak bisa menyembunyikan senyum di bibirnya. Air mata kebahagiaan itu berlinang begitu saja. Dia menjadi pria melankolis yang gampang menangis dan terharu setelah mendengar kabar dari pesuruhnya itu.


"Iya, Pa. Zizi hamil. Dia dinyatakan positif hamil. Varo akan jadi seorang ayah. Papa akan jadi seornag kakek. Varo ... bingung harus bereskpresi bagaimana. Semua terasa aneh, membahagiakan, dan sulit diartikan."

__ADS_1


"Dasar bodoh!" Papa Agus tertawa setelah melepaskan kedua tangannya dari bahu Alvaro. "Papa juga bersikap bodoh sepertimu ketika mendengar Mama hamil. Setiap laki-laki yang mencintai istrinya pasti akan merasakan hal yang sama sepertimu. Pergilah! Dia membutuhkanmu. Dia butuh perhatian seorang suami saat ini, apalagi dia berada jauh dari keluarga. Awal-awal kehamilan biasanya sangat sulit bagi seorang wanita. Kau harus menjaga menantu dan calon cucu Pap agar bisa melahirkan dengan sehat dan selamat. Ayo, cepat! Bersiap diri."


Alvaro mengangguk mengiakan. Dia sudah tidak sabar bertemu Azlina, memeluk perempuan itu dan mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya karena telah memberikan kebahagiaan yang tak terkira untuk keluarganya.


__ADS_2