
Tak selang berapa lama, ponsel Azlina berbunyi dan terlihatlah nama sopir taksi yang dia pesan telah menghubunginya.
"Aku pergi dulu, ya! Mungkin akan pulang dini hari, karena sekarang sudah pukul sepuluh malam." Azlina tersenyum penuh ironi, mengingat harus kucing-kucingan untuk melihat kondisi suami sendiri.
Dia takut ketahuan Mama Rani yang sekarang beralih membencinya. Ya, dia tak menyalahkan perempuan berusia kepala lima itu, karena memang segala informasi yang didapatkan wanita itu begitu menyudutkannya.
Hanya Alvarolah yang mampu menguraikan benang kusut yang telah terbentuk akan sebuah kesalahpahaman. Azlina hanya berharap Alvaro segera sembuh dan mengatakan semuanya, tentang hubungan yang mereka jalani, kesepakatan itu, dan cincin itu.
Hatinya merasa sakit mengingat cincin desain yang telah dibuatnya telah dimiliki Almeera. Sebuah cincin yang sengaja dipesan khusus bukan diberikan Alvaro kepadanya, melainkan justru diberikan kepada Almeera.
Azlina buru-buru menggelengkan kepala, berusaha membuang segala pikiran buruk terkait Alvaro. Pasti semuanya adalah salah paham. Dia masih memercayai Alvaro. Tatapan penuh cinta dan bagaimana cara lelaki itu mengungkapkan perasaannya malam itu, seolah menampik semua kenyataan yang dipaparkan Almeera kepadanya.
Apakah dia masih ada kesempatan untuk bersama?
Entahlah, yang terpenting saat ini adalah kesembuhan lelaki itu. Azlina berharap alergi yang diderita Alvaro cepat teratasi agar dia bisa melihat senyumnya lagi, mendengar tawanya lagi.
__ADS_1
Lamunan Azlina terhenti ketika sopir taksi itu menghentikan roda empatnya di depan lobi rumah sakit. Azlina segera membayarnya dengan sedikit melebihkan jumlahnya kepada sopir taksi baik hati itu.
Dengan sopan lelaki yang tampak berusia kepala empat itu membukakan pintu mobilnya untuk Azlina. Perempuan itu keluar dengan mengucapkan terima kasih secara tulus.
Kini, setelah Azlina sudah berada di rumah sakit, hatinya ragu. Apakah dia bisa menjenguk Alvaro jika Mama Rani berada di sana?
Azlina bertanya kepada resepsionis dengan menyebutkan nama lengkap Alvaro dan memperkenalkan dirinya sebagai istri Alvaro. Dari informasi yang didapatkan Azlina, Alvaro telah dipindahkan di ruangan privat khusus yaitu VVIP atau ruangan untuk golongan menengah ke atas.
Azlina mengangguk dan tak lupa mengucapkan terima kasih setelah mengantongi nomor kamar perawatan Alvaro.
Dia melangkah dengan sedikit berlari, menaiki lift yang akan membawanya ke lantai atas di mana Alvaro dirawat. Degup jantungnya berdetak lebih cepat seiring benda besi yang ditumpanginya naik secara perlahan. Begitu lift berdenting, Azlina segera menghela napas, mencoba mengusir kegugupan yang tengah melanda diri untuk bertemu dengan Alvaro.
Langkah Azlina begitu hati-hati, perlahan karena tak ingin meninimbulkan suara. Gadis itu berhenti tepat di sebuah jendela kaca yang tak tertutup secara penuh tirainya. Telapak tangannya menyentuh permukaan kaca itu dengan mata yang mulai berair.
Azlina melihat wajah Alvaro tertutup oleh masker oksigen bertekanan tinggi dengan tubuh yang terpasang banyak kabel-kabel mengerikan. Hatinya menangis pilu melihat kondisi sang suami ternyata mengenaskan. Dia hanya bisa menatap Alvaro dari luar, tak bisa menyentuhnya, atau sekadar mengusap kepalanya. Dia ingin di sana, menemani lelaki itu layaknya seorang istri yang berbakti kepada suaminya.
__ADS_1
Akan tetapi, sepertinya itu akan sulit karena di sana, Azlina bisa melihat Mama Rani tidur di ranjang khusus penunggu.
Namun, keinginan untuk berada di samping Alvaro sangatlah besar. Dia masih berdiri dengan menempelkan telapak tangannya di kaca itu. Matanya tak beralih sedikit pun dari sosok yang terbaring tak berdaya di sana, yang tak kunjung membuka mata.
"Kak, aku merindukanmu."
》Note :
Terima kasih telah mengikuti kisah Alvaro.
Btw, jika ada yang kurang suka sama alur yg sy buat mohon maaf, ya.
Sebelum menulis kisah Alvaro, sy sudah menyusun plot dan outlinenya dr awal sampai tamat. Jd apa yang sy tuliskan ini sama sekali tak keluar jalur. Bagi yang baru mengenal karya saya, mungkin kurang tahu ciri khas kisah yang biasa saya buat. Jadi, mari kita berkenalan.
😊😊😊
__ADS_1
Saya terbiasa memberikan konflik terberat di akhir cerita, jd intinya klimàks cerita baru dimulai dan akan banyak kejutan nantinya. Karena sy ingin membuat kisah yang selalu diingat pembaca apa pun Genre-nya dengan berbagai konfilk yang tentunya berbeda di setiap kisah yang sudah saya buat. Jadi, nikmatilah apa yang bisa saya suguhkan kepada Kakak-kakak yang mau berbaik hati mengikuti kisah ini hingga selesai.
Terima kasih, salam sayang dari Author.