Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
37. Pingsan


__ADS_3

Airin tertawa terbahak-bahak, melihat Azlina yang sepertinya kesusahan untuk bisa menggapai permukaan air.


Gadis itu tak bisa berenang. Dia menjulurkan tangan ke atas meminta bantuan.



"Na! Apa yang terjadi?" Lulu tampak panik ketika melihat Azlina terjatuh di kolam. Dia menatap ke arqh Airin yang terlihat senang dengan apa yang terjadi dengan Azlina.



"Kau yang mendorongnya, kan?!" Lulu berteriak kepada Airin, tetapi gadis itu mengelak.



"Aku tidak melakukan apa-apa. Jangan asal menuduh!"



"Cih, aku tidak asal menuduh." Lulu hampir mendorong Airin ke kolam juga, tetapi suara Azlina mengalihkan perhatiannya.



"Tolong! Aku ... tidak bisa berenang."


Lulu yang melihat sahabatnya dalam bahaya segera berteriak meminta bantuan. "Tolong! Azlina tenggelam."


Para laki-laki yang mendengar teriakan Lulu segera maju ke tepian kolam. Sementara Alvaro yang masih berbincang dengan Almeera seketika melompat dan berlari ketika mendengar teriakan Lulu menyebut nama Azlina.


Dia melihat tangan Azlina menggapai-gapai permukaan dengan kepala tenggelam di bawah. Kolam itu memiliki kedalaman dua meter dan pastinya orang yang tidak bisa berenang akan dengan mudah tenggelam di dalamnya.



Tak ada banyak waktu, tanpa melepaskan sepatu, Alvaro segera menyusul Azlina, menceburkan diri ke dalam kolam itu. Bukan hanya Alvaro, tampaknya Elang juga sudah berancang-ancang masuk ke dalam kolam. Kedua lelaki berbeda usia itu berenang ke dalam kolam untuk saling berusaha menggapai tangan Azlina. Namun, sepertinya pergerakan Alvaro lebih cepat, sehingga tubuh Azlina ditarik olehnya berenang ke tepian.



Alvaro mengangkat tubuh Azlina yang terkulai lemah. Gadis itu sepertinya sudah tak sadarkan diri. Alvaro segera naik ke tepi kolam dan disusul Elang yang juga telah basah kuyup oleh air kolam.



Bisik-bisik semua orang tampak menatap penuh tuduhan ke arah Airin, begitu pula dengan Elang. Dia merasa dibodohi di sini, memberikan peluang bagi Airin untuk mencelakai Azlina. Bagaimana Azlina bisa tercebur dalam kolam jika tidak ada yang sengaja mendorongnya?



Alvaro tak peduli dengan semua itu. Dia menekan-nekan perut Azlina dengan menengadahkan kepalanya menghadap ke atas. Tampaknya gadis itu gerlalu banyak menelan air kolam, hingga Alvaro harus segera mengeluarkan air itu dari dalam tubuh Azlina.



Alvaro hendak memberikan napas buatan untuk gadis itu, tetapi Elang segera mencegahnya. "Hai! Apa yang Anda lakukan! Jangan mengambil kesempatan!"

__ADS_1



Alvaro hanya menatap tajam ke arah Elang. Dia tahu jika sejak tadi Azlina berbicara berdua dengan Elang di tepian kolam. Dan apa yang telah terjadi dengan Azlina saat ini juga pasti ada sangkut pautnya dengan Elang. Hingga alvaro memilih mengabaikan teguran pria itu dan melanjutkan memberi napas bantuan. Elang tampak tak terima, tetapi Lulu segera mencegahnya. "Dia saudara Azlina. Kami datang bersama."



"Apa?!"


Butuh beberapa kali pemberian napas buatan dengan tekanan di perut untuk membuat Azlina tersadar. Mulutnya mengeluarkan banyak air setelah beberapa kali rongga perutnya ditekan dengan dibantu napas buatan oleh Alvaro. Gadis itu terbatuk-batuk kemudian, matanya berkunang-kunang. Dia tak sanggup untuk menegakkan tubuhnya.


Alvaro membantu Azlina duduk dengan menopang punggung gadis itu menggunakan lengannya. Dia menepuk-nepuk pipi Azlina perlahan, menyadarkan gadis itu. Hingga ketika mata Azlina terbuka, gadis itu berhambur memeluk Alvaro.



"Kak!" Azlina menangis, memeluk Alvaro, mengabaikan tatapan semua orang akan tindakannya. Seolah-olah hanya Alvarolah yang saat ini dibutuhkannya dan menjadi pelindungnya. Lelaki itu membalas pelukan Azlina dengan mendekap gadis itu, memeluk bak sepasang kekasih yang sedang menenangkan pasangannya.



Tubuh Azlina terasa semakin berat, seolah memasrahkan berat badannya bertumpu kepada Alvaro. Merasa ada yang tidak beres, Alvaro segera memeriksa kondisi Azlina yang berada dalam dekapannya. Azlina ternyata sudah tak sadarkan diri.



Dengan pakaian basah kuyup, Alvaro menggendong tubuh Azlina yang telah lemah tak berdaya. Dia menyewa satu kamar untuk Azlina agar gadis itu bisa beristirahat dengan kondisinya yang begitu lemah. Semua orang baik teman sekolah Azlina maupun tamu dari luar ikut melihat bagaimana kondisi Azlina saat itu. Bahkan Airin dan Almeera juga mengikuti ke mana Alvaro membawa gadis itu pergi.



Alvaro meletakkan Azlina di atas kasur yang sudah dialasi oleh handuk kering. Gadis itu masih terpejam dengan bibir kebiruan, belum sepenuhnya sadar dari pingsan. Lulu tampak begitu cemas dengan kondisi Azlina. Dia merangsek maju, menerobos kerumunan teman-temannya yang berada di ambang pintu meski hanya sekadar ingin tahu bagaimana kondisi Azlina.




Alvaro menerima botol minyak kayu putih itu dari tangan Lulu, mengoleskannya di pelipis Azlina serta menghirupkan di hidung gadis itu.



Mata yang semula terpejam kini sedikit demi sedikit mulai terbuka. Kendati begitu lemah, Azlina bisa melihat semua orang tampak mencemaskannya. Elang yang sama khawatirnya menerobos masuk kerumunan itu ingin melihat secara langsung kondisi Azlina. Namun, Alvaro segera mencegah lelaki itu agar tidak masuk ke kamar.



"Sebaiknya kau keluar!" Lulu sempat terkejut ketika Alvaro mengatakan itu kepadanya.



"Tapi, Om. Dia harus berganti pakaian."



"Keluar!"Alvaro menekankan kata itu, membuat Lulu memundurkan langkahnya.

__ADS_1



"Aku tahu kau saudaranya. Tapi dia harus berganti pakaian. Biarkan dia mengganti pakaiannya." Elang yang masih berada di ambang pintu ikut bicara, dia melangkah maju mendekati Alvaro.



Tatapan Alvaro berpindah mengarah kepada Elang. Sorot matanya menusuk tajam, hingga Elang bisa melihat kemarahan yang begitu kentara di wajah lelaki itu.



"Kau! Laki-laki macam apa, hah!" Alvaro mendorong dada Elang dengan satu tangannya, sehingga lelaki itu mundur ke belakang, keluar dari ruangan itu. "Jangan temui dia lagi jika kau tak mampu menjaganya!" imbuh Alvaro lagi.



"Apa?!"



"Ya, aku tahu kau bersamanya saat itu, kan? Kau mengajaknya berdiri di sisi kolam, lalu meninggalkannya sendiri. Apa kau pikir aku tak melihatnya?" Alvaro kembali mencerca Elang dengan berbagai pernyataan yang dia lihat dengan mata kepala sendiri. Kendati dia sibuk dengan Almeera, tetapi tak membuat perhatiannya luput dari Azlina.



"Maafkan aku. Aku ...."



"Pergi!" Alvaro menuding ke sana, menyuruh dengan tegas agar Elang segera meninggalkan tempat. "Dan kalian semua, cepat bubar! Ini bukan tontonan."



"Al! Biar aku yang membantunya." Almeera datang mendekat, tetapi bukan tatapan penuh kasih dan pemujaan yang kali ini dipertunjukkan Alvaro kepada perempuan itu, melainkan tatapan marah yang sama.



"Pergi!"



"Al!"



"Aku bilang pergi semua!"Alvaro berteriak keras, membuat semua orang yang mssih berada di lokasi segera bubar berhamburan. Pun demikian dengan Almeera. Bahkan perempuan itu tak menyangka jika Alvaro bisa berkata kasar kepadanya hanya karena gadis SMA itu.



Lulu yang sebelumnya hanya menumpang tampak menghela napas kasar. Dia tak bisa mengandalkan Azlina untuk kembali pulang, sehingga dia harus mencari tumpangan lain agar bisa kembali ke rumahnya.


__ADS_1


"Semua ini gara-gara Airin," gumam Lulu dengan kesal.


》Lanjut lagi, jangan lupa tinggalkan jejaknya. 😁


__ADS_2