Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
90. Mencarinya


__ADS_3

Rasa rindu yang sudah menggebu tak bisa ditahan lagi begitu mobil yang dikendarai oleh Alvaro berbelok ke area perumahan keluarga Azlina. Dia sudah menyiapkan martabak telur dan martabak manis sebagai oleh-oleh. Tak mungkin jauh-jauh ke rumah mertua tak membawa apa-apa, paling tidak dia ada alasan untuk bertandang ke sana apabila Azlina sebenarnya belum pulang ke rumah mertua.


Alvaro menghentikan mobilnya tepat di depan pintu pagar rumah Azlina yang tampak terbuka sedikit. Dia turun setelah menepikan mobil karena yang digunakan sebagai tempat parkirnya adalah gang masuk perumahan.


Tanpa mengetuk pintu pagar, Alvaro membuka lebar pagar tersebut untuk kemudian memasukkan tubuhnya ke dalam. Langkahnya memelan tatkala rasa ragu timbul di hati. Dengan menenteng kantung plastik berisi dua box martabak manis dan martabak telur, lelaki itu mengetuk pintu utama yang tertutup, meskipun dirinya tahu jika pintu itu tak terkunci hanya ditutup alakdarnya, tetap saja dia harus meminta izin untuk memasukinya.


"Assalamu'alaikum," ucap Alvaro dengan sedikit berteriak sembari mengetuk pintu itu. Tiga kali dia mengulangnya barulah terdengar suara orang menyahut dari dalam.


"Wa'alaikumsalam."


Detak jantungnya terasa berpacu ketika langkah kaki seseorang terdengar mendekat ke arah pintu. Dia menelan ludah begitu kenop pintu terlihat diputar dari dalam.


Muncullah Bu Darmini, ibu mertuanya yang kini tengah menatapnya dengan kening berkerut.


Alvaro semakin merasa tak percaya diri melihat ekspresi mertuanya yang tampak tak biasa ketika melihatnya. Bukan itu masalahnya. Jika Azlina sudah menceritakan perihal pengusiran itu, pasti dia akan kena amukan begitu dirinya menampakkan diri, tetapi lihatlah sekarang! Sang mertua tak menatapnya dengan perasaan marah, melainkan dengan tatapan heran juga terkejut.


"Alvaro? Datang sendiri? Di mana istrimu?"


Pertanyaan Bu Darmini jelas membuat Alvaro terkejut. Azlina ternyata tidak pulang ke rumah orang tuanya. Dan masalah pengusiran itu ternyata belum sampai ke telinga sang mertua..


"Masuklah dulu!"


"Oh, eem, ... saya hanya kebetulan lewat. Lalu, saya teringat Ibuk sama Bapak. Ini ada sedikit camilan yang kebetulan saya beli ketika perjalanan ke sini." Alvaro menggaruk belakang kepalanya, merasa gugup bercampur cemas. Gugup karena bingung dengan jawaban yang dia utarakan kepada sang mertua, cemas karena Azlina ternyata tidak ada di rumahnya.


"Tapi, bukannya kamu sedang keluar kota? Apa saat ini sedang dalam perjalanan pulang?" Bu Darmini tampak sedikit menelisik, merasa ada yang tidak beres dengan sikap Alvaro.


"Iya, setelah dari sini saya akan langsung pulang." Dia berpura-pura tersenyum setelahnya.


"Seorang diri? Kau keluar kota seorang diri tanpa sopir menemani?"

__ADS_1


Di luar dugaannya, ternyata sang mertua tak sebodoh yang dia kira. Ibu Azlina ternyata memiliki insting yang kuat sehingga sangat sulit bagi Alvaro untuk menyembunyikan sebuah rahasia. Namun, dia cukup memberikan senyum dan berbicara setenang mungkin.


"Dia sudah kembali ke rumahnya, jadi untuk sisanya saya pulang sendiri."


Bu Darmini tampak mengangguk-angguk meskipun sepertinya tak puas dengan jawaban yang diberikan Alvaro kepadanya. Karena tak ada Azlina, Alvaro pamit pulang lebih cepat dengan alasan ingin segera berjumpa dengan sang istri. Lelaki itu tak ingin banyak bicara lantaran takut jika sikapnya terasa aneh dan membingungkan dan pastinya akan mengundang kecurigaan besar sang mertua.


Kini, Alvaro sudah berada dalam mobil sembari memikirkan ke mana Azlina pergi. Jika tidak pulang ke rumah orang tuanya, maka ke mana lagi dia pergi?


Lulu, ya, Lulu.


Seketika Alvaro teringat Lulu sahabat Azlina. Mungkin saja sang istri sekarang menginap di rumah gadis itu sehingga tanpa banyak berpikir dan membuang waktu, Alvaro segera melajukan mobilnya untuk menuju rumah Lulu malam itu juga.


Beruntung dirinya sempat menjemput sahabat Azlina saat itu, sehingga kini dia tak perlu repot-repot mencari alamat perempuan itu. Tatapannya hanya fokus ke jalan, agar secepat mungkin segera sampai ke rumah Lulu sebelum waktu terlalu larut.


Dan kini, ketika waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Alvaro baru sampai di depan rumah Lulu. Dia turun segera dari mobil, berjalan mendekati gerbang, lalu mengetuk pintu pagar dengan menggerak-gerakkan gembok besar yang terpasang di dalamnya.


Gadis itu berjalan setengah berlari menghampiri Alvaro. Tampaknya dia mengerti maksud kedatangan pria itu yang tak lain adalah untuk bertemu dengan sahabatnya, Azlina.


"Om, sudah sehat?" Lulu berkata sembari membukakan kunci gembok pintu pagar rumahnya.


Alvaro hanya mengangguk, tak banyak bicara seperti biasanya. Kesan dingin dan angkuh masih terasa oleh Lulu akan sikap Alvaro, tetapi bukannya cowok seperti itu yang kini sedang digilai wanita?


"Nyari Azlina, ya, Om?" Kembali Lulu bertanya, tetapi kali ini ditanggapi dengan antusias oleh Alvaro.


"Dia di sini? Syukurlah!" Alvaro menghela napas lega, lalu mengusap wajahnya kasar.


"Enggak, Om. Dia sudah pergi dua hari yang lalu." Lulu mengeratkan cengkeramannya di pagar besi sambil menahannya agar tak banyak terbuka.


"Apa? Ya, Allah. Aku harus mencari ke mana lagi?" Alvaro mengacak rambutnya. Dia tampak berantakan dengan raut muka frustrasi. Sejujurnya dia tak memiliki pandangan lain, ke mana mencari Azlina saat ini. Jika tak pulang ke rumahnya, apakah mungkin pulang ke rumah Salwa.

__ADS_1


Tidak, jika itu yang terjadi, pastilah suami Salwa sudah murka melihat adik iparnya diusir dengan tidak hormat oleh keluarganya, tetapi saat ini tampaknya semua masih aman terkendali. Kemudian, dilihatnya Lulu yang masih setia menemaninya. "Dia bilang mau ke mana sama kamu?"


Lulu segera menggeleng karena Azlina tak menyebutkan tujuannya pergi. Reaksi gelengan kepala itu membuat Alvaro kian gusar, bingung harus ke mana lagi mencari sang istri. Dia merasa hampir gila saat ini, kehidupannya seolah-olah sedang menjauh darinya, tak ingin bersamanya.


Sosok yang sebelumnya selalu ada di sampingnya ketika dirinya baru pulang bekerja, kini entah ke mana perginya. Dia begitu merindukan Azlina, merengkuh tubuh mungil itu dalam pelukannya, mencumbui wajah yang selalu tampak lucu dan polos itu tanpa ampun.


Rasa gelisah serta cemas begitu menghantui pikiran Alvaro. Apakah kini dia harus berterus terang kepada keluarga Azlina, terutama sang kakak iparnya yang lebih tepat disebut sosok monster itu?


Tidak, semua akan semakin runyam bila lelaki itu mengetahui apa yang terjadi dengan Azlina.


Pasti bukan hanya pukulan yang akan diterima Alvaro, melainkan sebuah paksaan untuk segera mengembalikan Azlina kepada orang tuanya. Sungguh Alvaro tak sanggup jika harus berpisah dengan Azlina. Dia benar-benar mencintai gadis itu.


Jika dulu dia sempat stres dan hampir gila karena kehilangan Salwa, kini dia merasa tak sanggup melanjutkan kehidupan lagi jika tanpa Azlina di sisinya. Dia menyugar rambutnya secara kasar, seperti seseorang yang kehilangan akal sehatnya.


"Om, ...!" Lulu akhirnya bersuara ketika melihat bagaimana rasa putus asa serta frustrasinya Alvaro.


Lelaki itu mengalihkan perhatiaannya sejenak ke arah Lulu, setelah melepas beban pikiran yang membelenggu di kepala.


"Azlina bilang, jika dia pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri. Saya tidak tahu ke mana tujuannya, mungkin Om sebagai suaminya tahu ke mana Azlina biasa menenangkan diri."


Sejenak Alvaro tak berpaling dari Lulu, tetapi pandangannya terlihat kosong. Lelaki itu mencoba berpikir ke mana Azlina pergi untuk menenangkan pikiran. Dan satu jawaban berhasil dia simpulkan setelah beberapa hal yang menjadi pertimbangannya.


Ya, mungkin dia di sana.


Alvaro mengangguk, lalu tersenyum. Dia mengucapkan terima kasih kepada Lulu seraya pamit undur diri.


Dia akan mencari Azlina di sana, malam ini juga.


》Next ...

__ADS_1


__ADS_2