
Azlina bisa merasakan seseorang mengusapkan sesuatu di hidung serta pelipisnya. Rasanya sejuk, tetapi membuatnya segera membuka mata. Beberapa kali kelopak mata itu mengerjap ketika kesadaran sudah mulai merasuk dalam dirinya. Pandangan pertama dia disuguhkan dengan langit-langit ruangan berwarna putih bersih dengan bolham lampu menempel di tengahnya.
Azlina menoleh ke samping, menatap ke sekililing. Seorang wanita bersneli putih tampak tersenyum kepadanya. Bola mata hazel indah itu menatapnya dengan menyipit, seiring senyum yang melebar bertengger di bibir.
Dia menghela napas dalam, mencoba mengingat akan apa yang terjadi. Namun, tak sempat mengumpulka informasi di kepalanya, wanita di sebelahnya berkata, "Bagaimana rasanya? Apakah masih pusing, Nyonya?"
Sedikit tak percaya Azlina mendengarnya. Perempuan itu memanggil dirinya Nyonya, padahal biasanya setiap mahasiswi pasti dipanggil Nona, bukan? Tapi, Azlina tak memusingkan hal itu.
Dia menggeleng dengan tersenyum, mencoba bersikap ramah dengan sikap lembut wanita itu. "Apa yang terjadi? Apakah Anda dokter?"
Wanita bersnelli itu masih belum melepas senyum di bibir. Dia berucap lembut. "Ya, saya dokter di klinik ini. Apakah Anda ada keluhan lain? Sepertinya saya hatus meresepkan obat untuk nutrisi Anda dan janin yang sedang Anda kandung."
"A-apa? Janin?"
__ADS_1
Wanita itu mengangguk. "Iya, Anda akan menjadi Ibu. Selamat, ya?"
Azlina hanya mengangguk sambil mengucapkan terima kasih dengan lirih. Memandang punggung sang dokter yang telah undur diri darinya, Azlina mengusap perutnya yang masih rata tak berbentuk.
"Hamil?" Matanya berkaca-kaca, merasakan gemuruh di dada. "Apa yang harus aku lakukan? Kak, aku harus bagaimana?"
Dia masih belum siap akan kehamilan itu. Akan tetapi, Alvaro justru tak sabar melihat dirinya mengandung. Sangat berkebalikan dengannya yang ingin menikmati masa kuliahnya dengan benar, lebih fokus belajar agar bisa mendapatkan nilai yang bagus dan membanggakan keluarganya. Namun, Azlina harus memutar otak lebih keras ketika dihadapkan dengan kondisinya yang hamil di saat masa pendidikan seperti ini. Dan Alvaro sedang tidak ada bersamanya.
...***...
Ini adalah program terakhirnya sebelum dirinya memilih mengundurkan diri dari jabatan sebagai Manager Pemasaran. Semua orang yang mendengarkan dan memperhatikan apa yang dipaparkan oleh lelaki itu tampak mengangguk-angguk dengan memfokuskan mata serta pikiran. Setelah lelaki itu menyelesaikan kalimat terakhirnya, terdengar tepuk tangan dari beberapa orang yang ada di ruangan itu.
Dia tersenyum simpul, hanya mengangguk sembari menghela napas dalam. Menatap ke arah depan yang mana pria paruh baya tengah mengangguk kepadanya, dia melempar senyum. Sejenak lelaki itu menikmati suasana yang mungkin akan dia rindukan suatu saat nanti, tetapi sebuah getaran terasa di saku jasnya di mana ponselnya berada mengalihkan lelaki itu.
__ADS_1
Terlihatlah nama seseorang yang sangat dikenalnya. Seorang laki-laki yang dia tugaskan untuk menjaga dan memantau wanita yang begitu berarti untuknya yang sedang mengenyam pendidikan di tempat jauh, kini melakukan panggilan kepadanya. Tidak biasanya itu terjadi karena lelaki itu selalu menghubunginya terlebih dulu jika ingin menanyakan suatu hal. Dan kali ini terlihat seperti suatu hal yang darurat, membuat kening lelaki itu berkerut.
"Ya, ...."
"Apa?!" Dia berkata dengan berteriak, membuat semua orang yang masih berada di ruangan itu ikut panik memperhatikannya.
"Apa yang terjadi?" Pria paruh baya berkacamata itu menanyai, nadanya terdengar meninggi kepada lelaki itu.
"Zizi pingsan."
...***...
Ke bawah lagi...
__ADS_1