Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
54. Berlari dari Kenyataan


__ADS_3

Maaf, siapkan tisu banyak-banyak mulai bab ini dan bab-bab selanjutnya. Karena novel ini akan tamat beberapa puluh bab lagi.


Terima kasih.


***


Alvaro gegas menegakkan tubuhnya yang sedari tadi tidur di pangkuan Azlina. Dia masih terkejut menyadari Almeera tiba-tiba datang ke rumahnya, padahal sebelumnya perempuan itu tak sekalipun mau jika diajak bertandang ke rumahnya untuk bertemu dia kenalkan kepada Mama Rani.


Sementara Azlina hanya menatap Almeera dengan mengerutkan kening, tak suka. Entah sejak perempuan itu memeluk Alvaro di hotel, Azlina sudah tidak menyukai Almeera. Instingnya sebagai sesama wanita membuat gadis itu menjadi antipati kepada sosok perempuan berbaju seksi itu.


"Kenapa Kak Meera datang?" Azlina mulai membuka suara setelah kebungkaman mereka yang tak kunjung berkesudahan.


"Aku ingin bertemu dengannya." Tampak Almeera mengarahkan pandangan kepada Alvaro, "Tetapi sepertinya kalian sedang sibuk. Aku pergi dulu."


Melihat Almeera meninggalkan tempat tanpa menunggu dirinya bicara, membuat Alvaro segera bangkit mengejarnya, tetapi Azlina tampak tak setuju. Gadis itu menggenggam tangan Alvaro, mencoba menahan lelaki itu supaya tidak pergi. Dalam sekejab rasanya waktu bersama dengan lelaki itu terasa begitu sedikit.


"Kak, ...." Azlina menggeleng, matanya menunjukkan permohonan agar Alvaro tak perlu mengejar Almeera. Akan tetapi, Alvaro seakan tak mengerti. Lelaki itu membungkuk, menghadiahi kecupan hangat di kening Azlina, lalu melepaskan genggaman tangan gadis itu setelahnya.


Alvaro buru-buru beranjak dari posisinya, setengah berlari keluar rumah guna mengejar Almeera.


Tanpa disadari, air mata itu sudah lolos di sudut mata Azlina. Entah mengapa dia tidak rela jika Alvaro pergi meninggalkannya hanya demi mengejar Almeera. Setelah apa yang mereka lakukan bersama, gadis itu menganggap Alvaro adalah miliknya. Hingga ketika lelaki itu memutuskan untuk mengejar Almeera, dia merasa tak rela.


Tangan Azlina tampak terkepal dengan menggenggam ujung sofa yang sedang didudukinya. Matanya menatap ke depan meja di mana cokelat yang sebelumnya mereka perebutkan kini tergeletak di sana. Harusnya dia bahagia karena tak lagi berebut cokelat dengan Alvaro, tetapi tidak. Cokelat itu tampak tak menggiurkan lagi saat ini. Seolah pesona dan kenikmatannya telah lenyap seiring perginya Alvaro mengejar Almeera.


Azlina beranjak dari sofa itu, ingin menyusul ke mana Alvaro pergi. Hatinya merasa berhak memperjuangkan lelaki itu, lelaki yang akhir-akhir ini tanpa disadari telah masuk ke dalam hatinya, membuat rasa nyaman yang sama sekali tak ingin dia tinggalkan.


Langkah Azlina semakin melebar untuk keluar dari rumah. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari ke mana Alvaro mengejar Almeera pergi. Dan dia memilih menuju ke jalan keluar yang akan membawanya ke gerbang utama.

__ADS_1


Azlina tampak menghentikan langkahnya yang sempat terayun cepat untuk mencari Alvaro ketika melihat hal yang menyakitkan di depan mata.


Almeera terlihat memeluk Alvaro dengan membenamkan wajahnya di dada lelaki itu. Meskipun Azlina tak melihat Alvaro membalas pelukan itu, tetap saja ada perasaan kesal di hatinya. Dia tak mengerti, mengapa sangat membenci kejadian di depannya itu.


Bukannya dia tidak mencintai Alvaro?


Bukannya dia masih mengharapkan Elang?


Lantas, mengapa dia merasakan sakit ketika melihat lelaki itu dipeluk oleh wanita lain?


Pandangan Azlina tak beralir dari dua orang manusia di depannya yang tampak tak tahu malu berpelukan meskipun mereka bukan mukhrim. Dia mencoba tersenyum dengan bibir yang tiba-tiba terasa kaku.


"Kak!"


Suara Azlina begitu lirih, tetapi Alvaro sempat mendengarnya barang sekilas. Tanpa menguraikan pelukan Almeera, lelaki itu menoleh kepada Azlina.


Hingga gadis itu memilih berjalan mendekat, tak peduli dengan apa yang dia lihat di depan matanya. Dia berhenti tepat di samping Alvaro, lalu membisikkan sesuatu. "Kalian lanjutkan saja." Mengusap sudut matanya yang tampak berair, dia melanjutkan kalimatnya. "Aku ... akan keluar."


Tanpa menunggu jawaban dari Alvaro, Azlina berjalan setengah berlari untuk keluar dari rumah itu. Pikirannya hanya ingin lebih tenang jika tak melihat Alvaro lagi. Padahal dia terlupa jika tidak membawa apa pun saat ini. Dia hanya berjalan mengenakan dress selutut tanpa lengan dengan memakai sendal rumahan sebagai alas kaki.


Berlari melewati trotoar yang berada di depan rumah, Azlina masih belum juga berhenti dalam pelariannya. Tak ingin Alvaro mengejar, dia tak menoleh sedikit pun ke belakang.


Mengejar? Mana mungkin, karena lelaki itu sudah bersama wanita pujaannya.


Azlina duduk di samping tiang listrik setelah agak jauh berlari meninggalkan rumah itu. Dia mengusap kasar air mata yang mengalir tipis di sudut mata.


Mengapa harus ada tangisan? Harusnya itu adalah hal yang biasa melihat Alvaro memeluk wanita pujaaannya. Bukannya memang dari awal lelaki itu sudah memberi penjelasan bahwa dia sangat mencintai Almeera? Lantas, mengapa saat ini dirinya harus menangisi hal itu?

__ADS_1


Namun, pelukan yang dia dapatkan tiap malam, tiap pagi, dan ciuman itu. Ya, ciuman yang setiap hari Alvaro lakukan kepadanya membuat gadis itu terpedaya. Alvaro telah mengambil ciuman pertamanya, bahkan lelaki itu menciumnya berkali-kali dan setiap hari tanpa jeda.


Seharusnya Azlina bisa menolaknya jika memang hubungan yang ditawarkan oleh Alvaro hanyalah sandiwara, tetapi dia justru terbuai oleh pelukan itu, ciuman itu. Hatinya tak menampik rasa nyaman yang diberikan oleh Alvaro ketika tubuhnya berada dalam dekapan lelaki itu.


Tangan kekar yang mendekapnya, memeluknya erat di kala tidur, merapatkan diri tanpa celah sama sekali, membuat Azlina merasa terbiasa akan hal itu. Rasa biasa yang menjadi sebuah kebutuhan dan berakhir menjadi ketergantungan membuat Azlina tak ingin kehilangan lelaki itu.


Dirinya terbelenggu dengan kondisi dan perasaannya sendiri. Terasa terombang-ambing dengan kebingungan dan harapan yang seharusnya tak sedikit pun dilabuhkannya karena tahu jika hubungan itu akan berakhir bagaimana.


Sepertinya bukan hanya takdir yang sedang mentertawainya, langit pun kini tampak sedang mengolok-oloknya.


Azlina bisa mendengar guntur mulai menggelegar bersamaan embusan angin malam yang terasa berdesir di tubuhnya yang hanya terlindung dress tipis selutut. Dia mengusap lengannya berkali-kali untuk sekadar menghalau hawa dingin yang menerpa tubuhnya.


Dia ingin pulang, tidur di ranjang hangat dengan membalut tubuhnya menggunakan selimut tebal. Akan tetapi, dia masih mengingat Almeera berada di rumah itu. Mengapa begitu tepat perempuan itu datang di saat mertuanya sedang tiada? Andai Mama Rani dan Papa Agus ada di rumah, pastilah Alvaro tak akan berani menemui Almeera di rumahnya.


Gerimis mulai turun menghunjam bumi, membasahi tubuhnya yang kedinginan. Gadis itu menengadah ketika air hujan itu menerpa wajahnya. Air mata yang sedari tadi ditahan, seakan tak sanggup lagi tertampung di pelupuk matanya. Hingga ketika dia mengerjapkan kelopak mata sekali, air mata itu luruh mengalir membasahi pipi yang kemudian menyaru dengan derasnya rintik hujan.


Tubuh Azlina mulai terasa menggigil. Dia beranjak dari duduknya, memilih berteduh di bawah pohon yang tampak rimbun. Akan tetapi, hal itu tak mampu membuat tubuhnya menghangat.


Azlina memeluk tubuhnya sendiri. Giginya gemeretuk merasakan hawa dingin yang teramat sangat. Di depannya tampak banyak pengendara motor sedang berhenti sejenak, lalu sibuk mengeluarkan jas hujan untuk dikenakannya, kemudian melajukan motornya kembali tanpa menoleh lagi.


Semua orang tampak sibuk dengan dunianya, tak menyadari jika di bawah pohon itu ada seorang gadis yang sedang dilanda sepi. Sekujur tubuhnya terasa dingin, tetapi tetap tak bisa mendinginkan hatinya sekali.


Dia bersandar di pohon itu, meski tahu jika pantangan bagi seseorang berlindung di bawah pohon ketika petir menggelegar. Namun, Azlina sama sekali tak peduli.


Entah apa yang membuatnya tak bisa berpikir panjang, gadis itu masih setia memeluk tubuhnya tanpa berniat untuk segera pulang, kembali ke rumah Alvaro. Hingga sayup-sayup terdengar suara seseorang memanggilnya, tetapi tak bisa dengan jelas didengar olehnya.


Azlina memejamkan mata, tak menyadari siapa yang kini tengah berdiri di sampingnya, membawa payung hitam lebar di tangan kanan, sementara tangan kiri meraih tubuh gadis itu yang sudah limbung tak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2