Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
55. Yang Indah Ternyata Penuh Luka


__ADS_3

Hawa dingin yang sebelumnya dirasakan, kini berubah menjadi panas yang membuat tak nyaman. Azlina membuka mata begitu merasakan sesuatu yang basah dan sejuk mengenai dahinya. Dia merabanya kemudian dan baru menyadari bahwa itu adalah handuk basah yang dijadikan kompres.


Azlina tampak menggigil, tetapi tubuhnya terasa panas. Dia memperhatikan sekeliling di mana dia tengah berbaring saat ini. Ya, dia kembali lagi ke kamar ini, kamar Alvaro. Dan pakaiannya sudah berganti dengan piyama berkancing depan. Sekali lagi dia bisa menebak bahwa Alvarolah yang telah mengganti pakaiannya.


Mengapa lelaki itu mengganti pakaiannya?


Seharusnya Alvaro tak boleh melakukan itu meski hubungan mereka adalah suami istri. Bukankah dia sudah mulai dekat dengan jodoh yang sesungguhnya? Mengapa lelaki itu harus membuka pakaian Azlina tanpa izin?


Seketika bayangan Almeera memeluk erat Alvaro dengan lelaki itu tak berusaha menghindarinya membuat hati Azlina merasa sakit. Apakah dia mulai menyukai Alvaro? Apakah lelaki itu sudah menggeser nama Elang di hatinya?


"Kau sudah siuman?" Suara itu mengalihkan perhatian Azlina dari lamunan yang sempat tercipta. Alvaro tampak meniup sesuatu yang berada di mangkuk yang masih terkepul asap di atasnya. "Makan dulu, ya?"


Azlina menggeleng menanggapi. Entah mengapa dia masih merasa kesal melihat Alvaro, terutama dengan sikap lelaki itu yang selalu semena-mena memperlakukannya.


"Makan sedikit saja, setelah itu minum obat."

__ADS_1


Dia masih menggeleng, bersikap keras kepala dengan mata tak ingin menatap Alvaro.


Lelaki itu tampak mengulas senyum melihat sikap penolakan dari Azlina. Dia tidak marah ataupun tersinggung akan tingkah istrinya itu.


Alvaro meletakkan mangkuk itu di atas nakas, lalu duduk di sisi kiri Azlina. Dia membungkuk dan menundukkan wajah, meletakkan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri tubuh Azlina.


"Apakah kau marah?"


Azlina memalingkan muka, tak ingin beradu pandang dengan Alvaro. Karena dia yakin jika itu terjadi, maka dirinya akan kalah sebab terkena rayuan maut lelaki itu yang selalu membuatnya tak bisa berkutik lagi.


"Apakah karena Almeera yang memelukku sore tadi." Alvaro masih mempertahankan posisinya, mengunci pergerakan Azlina. "Kau tidak suka jika ada wanita lain memelukku?"


Ingin sekali Azlina berkata iya, mengakui bahwa semua yang dikatakan Alvaro benar adanya. Akan tetapi, dia takut jika semuanya memang benar dan dia tak bisa berpaling lagi.


"Kak, kapan kau ... menceraikanku?" Bersamaan dengan perkataan Azlina itu, sebuah air mata tiba-tiba menetes di sudut matanya. "Kapan kita mengakhiri permainan ini? Aku sudah tidak sanggup lagi."

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Terlihat gurat kekecewaan di wajah Alvaro mendengar Azlina membicarakan tentang perceraian.


"Aku takut, Kak. Aku takut ... tak bisa mengendalikan hatiku ini." Bibir Azlina tampak bergetar bersamaan dengan air mata yang mengalir di pipi. Dia merasa telah kalah dengan permainan hati. Dia ingin menyerah, tak ingin semakin sakit hati.


"Apa yang kau rasakan saat ini?" Alvaro bertanya tanpa melepas pandangannya dari mata bulat Azlina. Tatapannya begitu tajam, tetapi terlihat lembut dan menuntut. Azlina tak mampu menguraikan arti dari tatapan Alvaro kepadanya. Yang dia mengerti adalah tatapan itu sangat berbahaya bagi kondisi jantungnya.


"Buat apa Kakak bertanya hal itu kepadaku? Seharusnya aku yang bertanya kepadamu. Mengapa kau melakukan semua ini kepadaku, di saat hatimu masih ada wanita lain? Kau menganggapku apa, Kak? Apakah hanya sebuah pelampiasan nàfsumu saja dengan dalih bahwa kau suamiku?"


Mata itu tak bisa menghentikan air mata yang sebelumnya sempat ditahan. Azlina tampak menggigit bibirnya, tak ingin dirinya terlihat lemah di depan lelaki itu. "Aku ingin segera terbebas darimu. Memulai kehidupanku yang sesungguhnya dari awal." Dia sudah bertekad untuk mengakhiri semua, tak ingin berlarut-larut dalam belenggu hubungan yang tidak jelas yang telah Alvaro tawarkan kepadanya.


Namun, masih ada penyangkalan yang ingin Azlina dengar dari bibir lelaki itu, mengharap apa pun yang Azlina katakan adalah sebuah ketidakbenaran. Dia masih mengharap jika Alvaro memilih dirinya yang benar-benar adalah istri sahnya, bukan Almeera. Akan tetapi, perkataan Alvaro selanjutnya cukup membuat Azlina kecewa dan terluka.


"Tunggu sampai Mama dan Papa pulang. Kita akan mengakhirinya setelah mereka datang." Perkataan Alvaro disambut senggukan tangis oleh Azlina. Ada rasa tak rela ketika pernikahan itu benar-benar sudah di ujung tanduk. Seharusnya Azlina tahu dan mengerti sebelumnya jika semua ini suatu saat akan terjadi. Akan tetapi, dia tak mengerti jika rasanya sesakit ini. "Sebelum itu terjadi, aku ingin bertanggung jawab kepadamu seperti suami pada umumnya. Bisakah kau bertahan sampai Mama dan Papa kembali?"


Azlina hanya bergeming tak ingin menanggapi perkataan lelaki itu. Sekelumit rasa pedih di hati telah telanjur khusuk dan masyuk menyelimuti diri.

__ADS_1


Lelaki itu seakan tak peduli dengan keheningan Azlina. Dia masih sama, memperlakukan gadis itu seperti biasanya, mencium keningnya, lalu tersenyum kepadanya.


Indah, benar-benar indah. Namun, di balik keindahan yang mengintai, tampaknya begitu sulit untuk digapai. Ya, sesuatu yang memang tak tergapai ternyata sanggup membuatnya tersenyum, meskipun diam-diam bisa menusuk batin lewat kenyataan bahwa dia tak akan pernah bisa dimiliki.


__ADS_2