
"Pa, Alvaro kabur!"
Setelah menguasai keadaan, Mama Rani memutuskan menghubungi suaminya. Tangisnya masih tak berhenti ketika panggilan teleponnya telah tersambung.
"Bagaimana bisa?" Suara Papa Agus terdengar berteriak dari seberang sana, terkejut dengan apa yang baru saja Mama Rani ucapkan.
Mama Rani hanya bisa menangis, merasa semua yang terjadi begitu cepat hingga dirinya tak sanggup untuk mencegahnya. Dalam hati dia semakin merutuki Azlina, membenci gadis yang tak bersalah itu karena telah memubuat anaknya menjauh dan tak memercayainya lagi. Jelas Mama Rani melihat kemarahan di wajah Alvaro yang tertahan karena mungkin lelaki itu masih menganggap dirinya sebagai ibu yang telah melahirkan dan merawat dia sejak bayi.
Kini, perempuan itu hanya bisa menangis dan menyesali semua yang telah terjadi, termasuk menikahkan Alvaro dengan Azlina.
...***...
Masih dengan pakaian rumah sakit, lelaki itu berjalan sempoyongan mencari taksi di depan rumah sakit. Dalam pikirannya kini ingin segera mencari dan menyusul Azlina, membawa perempuan itu untuk kembali pulang.
Hingga sebuah taksi telah melintas dengan seseorang penumpang yang baru saja keluar dari dalamnya, Alvaro segera masuk ke dalam mobil itu.
"Jalan, Pak!"
"Oh, iya, Tuan!"
Taksi melaju kemudian, sembari menunggu instruksi dari Alvaro selanjutnya.
Lelaki itu tampak berpikir. Dia tak membawa apa-apa saat kabur dari rumah sakit. Bagaimana dia bisa membayar jasa taksi itu setelahnya?
Hingga pada akhirnya, Alvaro memutuskan pulang ke rumahnya terlebih dulu untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Dia tak ingin membuang banyak waktu, karena takut jika Azlina akan berpaling darinya. Mereka baru saja saling mengutarakan cinta, menyatukan mimpi dan harapan yang sama, tetapi harus terpisah secepat ini.
Matanya menatap ke samping jalan yang menampilkan pemandangan kota yang penuh dengan gedung-gedung bertingkat juga pusat perbelanjaan, tetapi pandangannya sama sekali tak menikmati itu semua. Pikirannya sangat kacau dengan penuh sesak masalah yang membebaninya. Dia tak sempat bertanya kepada Mama Rani apa yang telah terjadi karena terlalu mencemaskan Azlina.
Bagaimana mungkin mamanya tega mengusir gadis belia yang sebelumnya terlihat begitu disayang dan diperlakukan dengan hangat?
__ADS_1
Ke mana kasih sayang yang sebelumnya dipertunjukkan di depannya?
Alvaro masih tak bisa menelaah dan menguraikan segala hal yang berhubungan dengan itu semua. Kepalanya begitu pusing dengan tubuh yang memang belum pulih benar, tetapi keinginan untuk menjemput kembali Azlina, membawa sang istri bersamanya sangatlah kuat. Dia tak boleh lemah karena ada seorang yang harus dia lindungi dan diperjuangkan.
"Zi, tunggu aku!"
Dua puluh menit perjalanan telah berlalu. Kini taksi itu berhenti tepat di depan gerbang depan rumah Alvaro. Kepala lelaki itu menyembul keluar, meminta Pak Security untuk segera membukakan pintu pagar rumahnya.
"Pak, cepat buka!"
Melihat wajah Alvaro yang sedang memanggilnya, membuat Pak Security tergopoh membuka pintu gerbang itu. Taksi pun bisa masuk ke dalam kediaman rumah besar Agus Cahyono dan berhenti tepat di depan pintu utama.
Alvaro meminta sopir taksi itu untuk menunggu sebentar. Dia ingin mengambil uang tunai yang ada di kamarnya.
Langkah Alvaro kian melebar, menuju lantai dua rumahnya untuk kemudian masuk ke dalamnya. Sejenak dia terdiam, menatap secara keseluruhan ruangan yang beberapa waktu lalu membuat dirinya hampir melakukan malam pertama dengan sang istri, memaduk kasih dengan saling menghangatkan, mencumbuinya tanpa ampun. Tangan Alvaro terkepal kuat mengingat kejadian-kejadian itu. Mengapa cepat sekali kebahagiaan direnggut darinya?
Dia mandi terlebih dulu, menghilangkan bau rumah sakit yang sepertinya menempel kuat di tubuhnya, menyegarkan tubuh yang telah beberapa hari tak tersentuh air secara langsung.
Alvaro tak bisa berlama-lama menikmati kucuran air hangat di tubuhnya, sehingga dia mempercepat mandinya untuk segera bersiap diri mencari Azlina. Bathrobe yang ada di rak besi segera diambil untuk dikenakan dengan cepat. Lelaki itu bergegas keluar dari kamar mandi setelahnya.
Dia melangkah menuju lemari pakaian, tetapi ekor matanya tergelitik untuk melihat lemari pakaian Azlina. Apakah benar jika istrinya itu sudah tidak berada di rumah ini lagi?
Meskipun Alvaro sudah tahu akan jawabannya, tetapi tetap saja dia tak bisa menahan diri untuk tidak membuka pintu lemari Azlina.
Rasa penasran yang begitu kuat membuat lelaki itu ingin melihat dengan mata kepala sendiri, apakah pakaian-pakaian Azlina masih berada di tempat atau sudah kosong tak tersisa?
Begitu pintu lemari Azlina terbuka, Alvaro segera memejamkan mata. Lemari itu kosong sama persis dengan dugaannya. Namun, ada satu hal yang menarik perhatiannya. Azlina meninggalkan sepucuk surat dan ... kalung pemberiannya yang dia jadikan sebagai kado ulang tahun di malam terakhir mereka bertemu.
Segera dibukalah sepucuk surat itu dengan tak sabar, berharap ada secercah petunjuk yang bisa memudahkan dirinya menemukan sang pemilik hati. Akan tetapi, itu hanyalah sebuah pengharapan karena Azlina sama sekali tak membahas tentang ke mana dirinya akan pergi. Di dalam surat itu hanya berisi ucapan selamat dan kekecewaan.
__ADS_1
...○○○...
Kak, bagaimana kabarmu? Aku yakin saat ini kau sudah sadar dan membaca pesan dariku dalam kondisi jauh lebih baik. Aku harap begitu.
Aku hanya ingin mengucapkan selamat, selamat karena Kakak telah berhasil mendapatkan hati Kak Meera. Itu impian Kakak, bukan? Yeeay, akhirnya mimpi itu terwujud. Aku ... ikut senang mendengarnya.
Maaf, hadiah ini terpaksa aku kembalikan. Bukannya tidak menghargai, tetapi jika Kakak memang melupakan hari ulang tahunku, Kaka tidak perlu meminta Kak Meera untuk mencarikan kado untukku.
Aku merasa lebih baik tanpa kado daripada mengetahui jika kado yang Kakak berikan adalah dari orang lain. Maaf, ya, Kak! Hatiku terlalu kecil untuk mampu menerima kenyataan yang ada.
Dan aku cukup senang, ternyata Kakak menyukai desain perhiasan yang telah aku kirimkan ke perusahaan. Desain cincin yang aku buat dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati ternyata mampu mendapat perhatian dari si pemilik perusahaan. Meskipun pada akhirnya cincin itu ternyata Kakak berikan kepada Kak Meera.
Aku tidak tahu jika hubungan kalian ternyata sudah sejauh itu, tetapi mengapa Kakak malah mengatakan jika Kakak mencintaiku?
Apabila itu hanya sebuah gurauan dan candaan, mungkin Kakak merasa lucu, tetapi tidak denganku. Candaan Kakak sama sekali ... tidak lucu.
Selamat tinggal. Semoga Kakak bahagia selalu dengan Kak Meera.
Adikmu
Zizi
...○○○...
Alvaro segera meremas surat itu dengan kasar. Mengapa menjadi seperti ini?
"Almeera, apa yang telah kau katakan kepada istriku?" ucap Alvaro sembari meremas rambutnya dengan kasar.
》Masih diketik lanjutannya...
__ADS_1