Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
14. Pinangan


__ADS_3

"Tidak mungkin." Sean juga tak memercayai apa yang telah Alvaro katakan. Apalagi melihat bagaimana pertemuan demi pertemuan Alvaro dengan Azlina yang terlihat hanya sebuah kebetulan saja bisa menumbuhkan cinta secepat itu, bagaimana mungkin?



"Kenapa tidak mungkin?" Alvaro mengangkat dagunya. Meskipun pipinya terasa panas akibat pukulan dan tamparan papanya, dia masih mendongakkan kepala, bersikap sedikit sombong terhadap Sean Paderson. "Kau pikir hanya kau yang bisa dicintai seorang wanita yang usianya jauh di bawahmu? Aku juga bisa melakukannya."



Azlina semakin ternganga dengan ucapan Alvaro, tak mengerti dengan apa yang dibicarakan antara dua orang pria dewasa itu. Lelaki itu menggenggam tangan Azlina, lalu mengangkat genggaman tangan itu ke atas, memamerkan kepada semua orang. "Aku akan menikah dengan Azlina, tanpa menunggu kelulusannya karena kami ... saling mencintai," ucap Alvaro lantang tanpa memedulikan ekspresi terkejut Azlina.



Azlina ingin menyangga, mengelak perkataan Alvaro. Akan tetapi, genggaman tangan itu terasa makin erat dengan sorot mata Alvaro yang menatapnya penuh kesungguhan seolah-olah memberi isyarat bahwa semuanya akan diatasi oleh lelaki itu dengan baik asalkan Azlina mau menuruti perkataannya.



"Jadi, ini alasanmu selalu menolak dijodohkan dengan wanita lain, karena kau mencintai gadis di bawah umur?" tanya Agus yang juga terkejut dengan kenyataan yang ada. Dia tak menyangka jika Alvaro justru tertarik dengan gadis muda yang bahkan belum lulus sekolah.



"Iya, aku tidak bisa menikah dengan wanita lain karena di hatiku sudah ada dia. Jadi, kami sembunyi-sembunyi berhubungan ....." Belum sempat Alvaro menyelesaikan perkataannya, Salwa maju dan menamparnya.



Satu tamparan keras telah berhasil memanaskan tangannya, juga pipi Alvaro hingga telapak tangannya berbekas di sana. "Sembunyi-sembunyi berhubungan? Kau pikir adikku apa, hah?! Berani sekali kau melakukan ini kepada adikku! Dia punya cita-cita besar yang ingin dia raih, bukan gadis yang tidak tahu malu menjalin cinta secara rahasia dengan pria dewasa! Apakah kau pernah menanyakan keinginannya sebelum kau melakukan ini kepada adikku, hah?!"

__ADS_1



Salwa yang terkenal penuh kesabaran justru tak terima dengan perkataan Alvaro. Laki-laki itu sudah tercoreng namanya di hati Salwa. Sempat memiliki kenangan buruk dengan Alvaro membuat Salwa yakin jika lelaki itu mengincar adiknya hanya untuk kesenangan saja, bukan sebuah cinta seperti apa yang sempat lelaki itu deklarasikan kepada semua orang.



Salwa tidak ingin Azlina terkurung dalam pernikahan seperti itu. Azlina memiliki cita-cita besar menjadi designer terkenal. Dia ingin bergabung dengan Aurora Event Organizer untuk merancang gaun pengantin suatu saat nanti. Hingga kejadian tak diinginkan ini terjadi membuat Azlina pasti akan kesulitan meraih cita-citanya itu.



Sean menahan Salwa ketika perempuan itu ingin menyerang Alvaro lagi. Dia memeluk Salwa, menenangkan istrinya itu. Sean mengerti bagaimana perasaan Salwa sebagai kakak tertua. Dia merasa bertanggung jawab melindungi adik-adiknya terutama Azlina yang merupakan adik paling kecil yang menjadi kesayangan Salwa dan kedua saudara laki-lakinya.



Sean menggiring Salwa untuk keluar dari ruangan itu, mencoba merundingkan hal tersebut kepada Salwa dengan pikiran tenang dan kepala dingin. Perkataan Alvaro yang mencintai gadis di bawah umur membuat Sean mengingat dirinya sendiri. Dia pun melakukan hal yang sama, mencintai gadis di bawah umur dengan langsung menikahinya tanpa menunggu usianya bertambah matang.




Istri Agus, Rani, yang sedari tadi hanya diam membisu menyaksikan putranya dihakimi oleh banyak orang ikut maju mendekat. Dia menatap Alvaro juga Azlina secara bergantian. Gadis itu hanya menunduk dengan wajah pasi bercampur malu. Lalu, Rani menyentuh bahu Azlina penuh kelembutan membuat gadis itu menengadah menatap wajahnya.



"Sayang, apakah kamu tidak keberatan menjadi bagian keluarga kami?"

__ADS_1



Sikap penuh kelembutan itu membuat Azlina bingung harus berkata apa. Keluarga? Tidak mungkin, dia masih ingin sekolah. Dia masih ingin merasakan kebebasan. Dia tidak mau seperti Mbak Salwa yang menikah di usia muda dengan mengalami banyak penderitaan. Dia ingin menjalani masa mudanya seperti teman-temannya. Hingga perkataan Tante Rani kembali tercuat membuat Azlina tidak bisa memikirkan hal lain selain ... menyetujui. "Tante tahu jika kamu masih ingin sekali melanjutkan pendidikanmu, tetapi Tante sebagai Mama Alvaro juga tidak ingin kehilanganmu. Kami akan mendukung apa pun yang akan menjadi keputusanmu dengan melanjutkan cita-citamu meski kamu sudah menikah dengan Alvaro. Tante mohon, terimalah pinangan ini!"



Bukan hanya Azlina, Papa Agus dan Alvaro, juga kedua kakak Azlina, Ahsan dan Alfatih ikut terkejut dengan permintaan Tante Rani.



"Tante ...." Azlina ingin mengangis, tetapi pergerakan Tante Rani cukup cepat dengan memeluk gadis itu penuh kelembutan.



"Jangan menangis! Tante hanya ingin melihat kalian bahagia. Kamu tahu, Alvaro tidak pernah mau menikah dengan wanita mana pun yang Om dan Tante pilihkan, dan ternyata dia memilihmu. Tante yakin anak Tante akan membahagiakanmu, Sayang."



Mengingat bagaimana Alvaro sempat depresi ketika kehilangan Salwa membuat Tante Rani lebih gigih membujuk Azlina agar mau menikah dengan anaknya. Dia tidak ingin Alvaro kembali menjadi putus asa seperti dulu sehingga ketika Alvaro mengatakan mencintai Azlina, Tante Rani berusaha keras untuk bisa membawa Azlina masuk ke dalam keluarganya, apa pun caranya.



"Untuk kedua orang tuamu, Om dan Tante akan mengurusnya. Kami janji akan mendapatkan restu orang tuamu secepat mungkin," ucap Tante Rani lagi dengan membelai rambut Azlina.


__ADS_1


Alvaro yang melihat kedekatan mamanya kepada Azlina hanya bisa meringis, menyadari bahwa keputusannya ini akan menjadi bumerang untuknya sendiri. Oh, tidak, sepertinya dia akan sulit untuk membawa Almeera masuk ke dalam keluarganya.


__ADS_2