Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
101. Perdebatan Sengit


__ADS_3

"Alvaro!"


Suara Mama Rani sedikit meninggi begitu Alvaro memasuki pintu utama. Lelaki itu baru pulang dari menjenguk sang mertua, lalu memilih kembali ke rumahnya untuk segera menyelesaikan misi.


Kepalanya menoleh ke arah Mama Rani, menghela napas kemudian. "Yaa!"


"Mama ingin bicara."


Dengan santai dan tanpa emosi lelaki itu mengangguk. Bagaimanapun juga dia ingin mengambil hati mamanya agar bisa menerima Azlina kembali. Diikutinya langkah Mama Rani yang mengarah ke ruang tengah di mana Papa Agus sudah menunggu di sana.


Perempuan paruh baya itu duduk di samping suaminya, sementara Alvaro memilih berseberangan dengan kedua orang tuanya. Kini, hening tak dapat dihindari. Suasana terasa menegangkan dengan wajah dari semua orang terlihat begitu serius tanpa ada gurat basa-basi.


Pria paruh baya itu membungkuk, meletakkan kedua tangannya menyangga dagu. Matanya menatap lurus ke arah Alvaro, menunjukkan betapa seriusnya masalah yang akan mereka perbincangkan.


"Apa benar yang semua Mama katakan?"


Sebelum Alvaro bicara untuk menjawab pertanyaan Papa Agus, Mama Rani menyelanya. "Papa enggak percaya sama Mama?" Dia bertanya dengan kesal, menganggap sang suami meragukan informasinya.


Gelengan kepala dilakukan, lelaki itu masih bersikap tegas. "Papa hanya ingin mendengar sendiri dari mulut Alvaro. Mama mendengar informasi hanya dari satu orang, bukan? Dan Papa lebih memercayai anak Papa daripada narasumber Mama." Kembali Papa Agus menatap ke arah Alvaro, lalu mengedikkan dagu. "Jelaskan semua yang terjadi!"


Alvaro mengangguk. Ini adalah kesempatan untuknya memperjuangkan cinta, kehidupan, dan masa depannya. Lelaki itu mulai bersuara menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Terlihat betapa seriusnya kedua orang tua Alvaro menyimak apa yang lelaki itu jelaskan, hingga suara Mama Rani menyela perbincangan itu.

__ADS_1


"Apa kamu yakin jika Almeera yang salah paham? Kamu tidak bisa jika hanya menyalahkan Almeera. Mama sudah mengenalnya. Dia wanita baik-baik, terpelajar, sopan, dan berkelas. Tidak mungkin perempuan seperti itu bisa menghasut orang lain." Dia mengarahkan pandangannya ke arah sang suami, lalu melanjutkan kalimatnya. "Papa lihat sendiri, kan, bagaimana Almeera?" Mencoba mencari pembelaan dengan meyakinkan Papa Agus, Mama Rani akhirnya meneruskan perkataannya. "Mama lebih setuju kamu menikah dengan Almeera seperti rencana awal daripada melanjutkan pernikahanmu dengan Azlina."


"Mama!" Papa Agus tak setuju, menggeleng dengan sedikit membentak. Bagaimanapun siapa yang akan dipilih Alvaro adalah urusan anaknya. Mereka sebagai orang tua hanya bisa memberi restu serta dukungan agar rumah tangga sang anak bisa berjalan baik hingga maut memisahkan. Namun, perkataan Mama Rani membuat lelaki itu tak bisa berkata apa-apa.


"Pa, Mama yang melahirkan Alvaro. Mama tahu apa yang terbaik buat anak kita. Mama setuju menikahkan Alvaro dengan Zizi karena mereka mengatakan saling mencintai. Dan itu membuat Mama ingin segera mengambil Zizi sebagai menantu kita. Mama tidak ingin kejadian Salwa saat itu terulang lagi. Papa ingat, 'kan, bagaimana anak kita stres setelah dipukuli oleh Sean rekan bisnis Papa itu." Mama Rani berkata dengan nada berapi-api, membuat Papa Agus terdiam.


Emosi wanita itu masih memuncak, tak terima melihat anaknya dipukuli di depan mata oleh kakak ipar Azlina. Apalagi mengingat kejadian masa lalu, yaitu ketika Alvaro sampai masuk rumah sakit karena ulah Sean Paderson. Mama Rani masih belum bisa melupakan kejadian terpuruknya Alvaro saat itu.


Melihat suasana tak kondusif dengan emosi Mama Rani yang tidak stabil, Alvaro beranjak dari duduknya, melangkah ke arah Mama Rani, lalu menekuk kaki dengan berlutut. Tangannya meraih kedua tangan sang Mama, lalu menatap manik bulat yang mulai menua itu dengan tatapan sendu.


Dia tahu jika mamanya begitu menyayanginya. Apa pun yang Mama Rani lakukan, meskipun sedikit salah, tetapi semuanya itu dianggap demi kebaikannya. Sehingga, jalan satu-satunya hanya meyakinkan wanita itu untuk memercayainya, mendukung keputusannya.


Mama Rani sempat tersenyum ketika itu. Namun, di saat Alvaro memohon kepadanya untuk meminta maaf pada keluarga Azlina, dia segera menarik tangannya yang digenggam oleh tangan Alvaro.


"Tidak! Mama tidak akan mau meminta maaf." Wanita itu berucap tegas tanpa satu pun keraguan dari perkataannya.


"Tapi, Ma ...."


"Istrimu itu memang kecentilan. Sudah tahu memiliki suami masih saja berpacaran dengan laki-laki lain. Seharusnya kamu sebagai suami sudah menalaknya sejak dulu. Mana harga dirimu sebagai kepala rumah tangga?!"


"Ma, itu semua bukan kesalahan Zizi. Varo sudah mengizinkannya. Jika Zizi kecentilan, lantas sebutan apa yang pantas untuk Varo sebagai pria beristri yang mendekati wanita lain? Kami tidak ada bedanya, Ma."

__ADS_1


Mama Rani tidak tahan lagi dengan perdebatan itu. Dia beranjak dari duduknya, segera berdiri. "Kamu itu pria, sementara dia wanita. Wanita dipandang akan kesetiannya. Jika baru menjadi istri saja dia berani berbuat seperti itu, bagaimana jika kalian nanti sudah memiliki anak? Mama tidak yakin dia bisa setia mendampingimu."


"Apa, Ma?" Alvaro merasa tak terima dengan perkataan mamanya. Rasa ingin melawan sangatlah besar, tetapi dia masih menahannya. Hanya satu kalimat sindiran yang bisa dia utarakan untuk menyadarkan mamanya akan kalimat yang baru saja wanita paruh baya itu ucapkan. "Jadi, jika laki-laki boleh mendekati wanita lain meski sudah menikah? Apa Mama yakin membiarkan Papa mencari wanita lain di belakang Mama?"


"Varo!" Mata wanita itu melebar, membentak Alvaro. Dia tak menyangka jika anaknya berani berkata seperti itu, membalikkan ucapannya. "Pokoknya Mama tidak sudi minta maaf. Titik. Wanita itu membuatmu menentang Mama."


Tanpa peduli dengan dua orang laki-laki di sekelilingnya, Mama Rani mengentakkan kaki, segera pergi dari ruang tengah menuju kamarnya. Perasaannya sakit mendengar anaknya berbicara yang tidak-tidak mengenai hubungannya dengan suami.


"Ma, Ma, ...." Seakan menulikan telinga, Mama Rani tak menghiraukan teriakan mereka. Dia cukup sakit hati dengan mereka yang sama sekali tak sejalan dengannya.


Alvaro menatap punggung Mama Rani masuk ke dalam kamar utama. Dia mengacak rambutnya frustrasi. Bagaimana cara membuat mamanya sadar bahwa cintanya tidak bisa dipaksakan? Dia tak menyangka jika ide yang dia buat justru menjadi bumerang dalam kelangsungan cintanya.


Papa Agus menepuk bahu Alvaro, memberikan dukungan kepada lelaki itu. "Papa yang akan meminta maaf kepada mereka. Kamu tenang saja, ya?"


Alvaro menggeleng. Bukan masalah meminta maaf, tetapi keluarga Azlina ingin mengetahui apakah seluruh anggota keluarga Alvaro menerima Azlina dengan baik atau justru menolaknya. Sehingga Alvaro menolak usulan papanya.


"Tidak, Pa. Varo yakin Mama akan mau menerima Zizi kembali, suka atau tidak suka." Helaan napas terdengar berembus dari hidung lelaki itu, dia mengangguk untuk sekadar berpamitan. "Varo istirahat dulu, Pa."


Papa Agus mengangguk, membiarkan Alvaro pergi dari hadapannya. Lelaki itu pun tak bisa berbuat apa-apa. Begitu sayangnya sang istri kepada Alvaro, membuat Papa Agus tak bisa berbuat banyak. Sekeras hati seorang perempuan pasti akan luluh dengan sebuah kesabaran. Lelaki itu hanya berharap, Alvaro lebih sabar menghadapi mamanya.


》Lanjut, ya ...

__ADS_1


__ADS_2