
Cokelat panas itu disesap sedikit demi sedikit oleh Alvaro sembari mengurangi suhunya agar tidak terlalu panas. Rasa hangat yang nikmat melewati mulut, turun ke tenggorokan, lalu meluncur menghangatkan lambung. Kehangatan itu bertambah-tambah begitu pandangannya menatap ke arah Azlina.
"Oh, ya, Kakak dengar kamu awal-awal di sini ditemani sama cowok, ya?" Alvaro akhirnya menanyakan perihal informasi yang ia dapatkan dari Alfatih.
"Ehem, namanya Leon. Memang ada apa, Kak?" Azlina bertanya sembari menyesap cokelat panas itu, meniup uap air yang bergelung di atas cangkir putih berbahan keramik itu.
"Dia pernah masuk ke sini? Apa kalian dekat? Tinggal di mana dia sekarang?" Alvaro memberikan pertanyaan secara beruntun kepada Azlina. Air mukanya berubah kesal setelah mengucapkan itu semua. Entah hatinya tiba-tiba merasa marah dan cemburu membayangkan sang istri berduaan di dalam apartemen dengan pria lain.
Azlina tak langsung menjawab pertanyaan Alvaro. Perempuan itu tampak tenang dengan menghabiskan cokelat panas di cangkir itu. Jelas saja Alvaro menjadi marah, merasa diabaikan oleh sang istri padahal dia sudah menahan kekesalannya sejak Alfatih mengatakannya saat itu.
"Zi, kenapa diam saja?"
Azlina meletakkan cangkir itu di atas meja bar, memandang Alvaro yang wajahnya tak menampilkan senyum sama sekali. "Kakak ingin aku jawab apa?"
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Ya, yang Kakak katakan semua memang benar. Dia pernah masuk ke apartemen ini, duduk di meja makan. Kami beberapa kali sarapan bersama di sini. Kebetulan aku masak lebih dan kutawari dia makan. Dan ternyata dia menyukai masakanku." Tanpa peduli dengan raut kesal Alvaro, Azlina terus saja mengatakan semua hal yang pernah dia lakukan bersama lelaki itu.
"Lalu, apalagi?"
Azlina menaikkan bola matanya, berpikir sejenak dan mengingat-ingatnya. "Dia mengajakku jalan-jalan, mengajari percakapan bahasa Prancis, dan memberi pelajaran tentang ...." Azlina menggantungkan kalimatnya, menatap wajah Alvaro yang sudah merah padam lantaran cemburu dengan cerita Azlina yang ternyata banyak menghabiskan waktu dengan pria bernama Leon itu.
"Mengajarkanku hal penting, yaitu ... merindukanmu."
Azlina tertawa kecil sembari menunduk. Dia terlalu malu jika mengutarakan perasaan secara langsung seperti saat ini. "Ya, setiap dia datang, aku justru merindukanmu. Dia pria dewasa, tetapi sedikit kekanak-kanakan. Aku jadi teringat denganmu."
Alvaro menjulurkan kedua kakinya ke kaki barstool yang diduduki Azlina, lalu menariknya dengan kekuatan kaki sehingga jarak mereka kini semakin dekat dengan barstool tersebut dalam posisi hampir berimpit.
__ADS_1
"Siapa yang kekanak-kanakan? Kakak enggak mau, ya, disama-samakan dengan pria bernama Leon itu. Jelas Kakak jauh lebih tampan dan lebih dewasa daripada dia." Tangan kirinya diletakkan di bahu Azlina, sedangkan tangan kiri menyentuh dagu runcing perempuan itu. "Buktinya dia belum menikah sampai sekarang, tapi Kakak sudah memilikimu sebagai istri."
Bersamaan dengan kata itu terucap, Alvaro menundukkan wajahnya tak bisa menahan diri untuk tidak menikmati bibir itu. Bagaikan sebuah morfin yang mencandukan, Alvaro tak bisa menghentikan perilakunya, sampai Azlina memukul dada lelaki itu agar segera berhenti, menjauhkan wajah sang suami dari wajahnya.
"Kebiasaan banget," protes Azlina sembari menyentuh bibirnya yang terasa semakin tebal saja. Tentu bisa ditebak apa yang baru saja Alvaro perbuat kepadanya.
"Bagaimana lagi, kalau enggak nyium kamu, Kakak nyium siapa?" Alvaro tertawa melihat perempuan itu menekan-nekan bibirnya sendiri.
Azlina menghela napas berat, tak ingin mendebat perkataan Alvaro. Ya, lelaki itu memang sudah bucin akut, tak bisa menahan diri jika sudah dalam posisi berdua seperti saat ini. Mereka masih saling berhadapan dengan Azlina menunduk ke bawah. Tiada yang dia perhatikan, hanya tiba-tiba saja perasaan sedih itu muncul di hatinya.
"Kak, apakah Kakak setelah ini akan kembali ke Indonesia? Berapa hari Kakak di sini? Apakah kita hanya bisa berhubungan jarak jauh?"
》Cicilan kedua. đŸ¤
__ADS_1