Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
59. Cemburu yang Tak Disadari


__ADS_3

Tamparan itu berhasil menyadarkan Alvaro dari sikapnya yang lebih cocok disebut sebagai pemerkosa daripada sebagai seorang suami. Lelaki itu melepaskan tubuhnya dari Azlina, lalu mengacak rambutnya kasar.


Dia memejamkan mata, merasakan sakit yang menghantam hati serta jiwanya. Tangannya telah lancang menyentuh apa yang seharusnya tak boleh disentuh. Dia sudah melanggar apa yang telah dia janjikan kepada Azlina.


Melihat raut ketakutan gadis itu ketika dirinya hampir menyetubuhinya dengan sikap kasar, membuat Alvaro menyesal. Tangannya memukul-mukul setir mobil dengan wajah yang dibenamkan di sana.


"Aaaargh!" Lelaki itu berteriak, menyesal dengan sikapnya yang tak bisa dikendalikan. Dia hampir khilaf, tak bisa mengintrol diri. Dia marah, kecewa, tetapi tak tahu harus melakukan apa. Rasa cemburu yang mengakar teenyata tak mampu menyadarkannya jika Azlina telah terpaut dalam hatinya.


Alvaro hanya menganggap itu sebuah pengkhianatan seorang istri kepada suami, tetapi pengkhianatan yang bagaiamana? Sementara dirinya juga melakukan hal yang sama, mencoba mendekati perempuan lain meskipun statusnya adalah pria bersuami. Hingga emosi sesaat telah mengubahnya hampir seperti hewan yang menerkam seorang gadis yang seharusnya dia lindungi.


"Maafkan aku."

__ADS_1


Tangis itu masih terdengar. Mata Alvaro mengarah ke tubuh gemetar yang sedang meringkuk, memeluk lututnya sendiri, mengimpit di pintu mobil, berusaha menjauh sejauh mungkin dari lelaki itu.


Pakaian Azlina tak terpasang dengan benar. Bahkan, Alvaro tak menyadari jika tangannya telah merobek bagian atas gaun Azlina. Gadis itu terlihat sangat kacau dan ketakutan, membuat hati Alvaro semakin teriris pilu.


Merasa begitu bersalah, Alvaro mencoba memeluk Azlina untuk menenangkan gadis itu. Akan tetapi, pelukan itu tak disambut dengan baik oleh Azlina. Gadis itu makin beringsut, menjauh sejauh yang dia bisa kendati tubuhnya sudah tak bisa bergerak lagi lantaran pergerakannya dibatasi oleh kursi dan pintu mobil. Dia takut dengan Alvaro.


***


Dalam senyap, mobil itu akhirnya berhenti tepat di pintu masuk rumah Alvaro. Tak ada sepatah kata pun yang terucap di antara keduanya.


Alvaro tak tinggal diam. Dia takut jika terjadi sesuatu terhadap sang istri. Pikirannya terlampau gamang dengan apa yang baru saja dia lakukan kepada Azlina. Sehingga, ketika perempuan itu berlari kencang, mengabaikan kondisi pakaiannya yang berantakan, Alvaro merasa Azlina akan berbuat nekat dengan mencelakai diri sendiri.

__ADS_1


Ketakutan yang teramat sangat membuat lelaki itu mempercepat langkahnya ketika menaiki tangga. Hingga begitu berada di depan pintu kamar, dia segera membuka pintu cepat untuk melihat kondisi Azlina.


Alvaro masih bisa menangkap Azlina tengah memasuki kamar mandi. Dia ingin mencegahnya, tetapi buru-buru gadis itu menutup pintu dengan sedikit membanting.


Tubuh Azlina luruh dengan bersandar di pintu yang tertutup itu. Dia menangis, merasakan sesak di dada dengan tubuh gemetar karena takut juga benci.


Alvaro hanya bisa mematung di depan kamar mandi dengan duduk menjulurkan ke dua kaki, lalu menekuk salah satunya. Kepalanya menyandar di pintu yang sama dengan Azlina. Beberapa kali dia menghantam belakang kepalanya ke arah pintu. Isak tangis Azlina yang terdengar dari luar kamar mandi terdengar begitu menyayat hati. Alvaro bisa merasakan itu, merasakan betapa rapuhnya gadis itu.


Seharusnya Alvaro melindungi Azlina, menyayanginya hingga perpisahan itu terjadi. Namun, apa yang kali ini dia lakukan, Alvaro bahkan melecehkan gadis itu dengan sadar diri karena dorongan nafsù serta amara.


"Zi, maafkan aku."

__ADS_1


》Next, ya!


Maaf lambat, Noveltoon di HP sering Hang. Mungkin ponselnya yang harus ganti. 🤭


__ADS_2