Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
75. Pindah ke Rumah Lulu


__ADS_3

Taksi itu berhenti di kawasan perumahan menengah, bukan perumahan elite yang rumahnya terlihat besar-besar dan menjulang tinggi. Sopir taksi itu menurunkan semua barang bawaan Azlina keluar dari bagasi mobil, membantunya memasukkan koper-koper itu ke dalam rumah yang telah dibukakan pagarnya oleh seorang gadis berambut sebahu.


Azlina mengangguk dan mengucapkan terima kasih kepada sopir taksi itu, lalu memberikan uang jasanya sekaligus sedikit melebihkan sebagai ucapan terima kasih karena bersikap sopan.


Azlina segera memeluk Lulu yang sedari tadi berdiri tanpa mengucapkan seapatah kata. Lulu masih bingung dengan apa yang terjadi terhadap Azlina.


"Masuk dulu, Na!" Lulu membantu menyeret koper Azlina setelah menutup kembali pagar rumahnya. "Ayo, kita bicara di dalam!"


Kedua perempuan itu masuk secara beringan dengan tangan sama-sama menyeret koper milik Azlina.


"Sekarang katakan kepadaku, apa yang telah terjadi? Mengapa kau seperti orang yang sedang kabur dari rumah?" Lulu bertanya secara beruntun setelah menyodorkan secangkir teh hangat kepada Azlina.


Lulu memang terbiasa tinggal sendiri, kedua orang tuanya bekerja sebagai tenaga kerja asing di negera tetangga. Lulu memang sengaja bersekolah yang jauh agar bisa hidup mandiri, tak ingin bergantung kepada kakek neneknya dalam menyiapkan kebututhan hariannya.


Meskipun rumah itu terkesan kecil, tetapi Lulu tampak pandai menatanya. Tak terlihat satu barang pun yang diletakkan di tempat yang tidak seharusnya, sehingga rumah kecil itu terlihat cantik dan rapi, sedang dipandang mata.

__ADS_1


Azlina menghela napas panjang, bersiap menceritakan kejadian sesungguhnya kepada Lulu, berharap sahabatnya itu mau memberi tumpangan untuk sementara waktu hingga Azlina telah siap kembali ke rumahnya dan mengatakan semua masalahnya.


"Aku diusir ... oleh mertuaku."


"Apa? Mertua? Sejak kapan seorang Azlina memiliki mertua?!" Lulu bertanya dengan setengah berteriak, terlampau terkejut dengan apa yang baru saja Azlina katakan. Apa yang sebenarnya terjadi dengan sahabatnya itu?


Hingga Azlina mulai menceritakan satu per satu kejadian yang hanya ditanggapi oleh anggukan dari Lulu. Perempuan itu tampak tak berkedip karena terlalu fokus dengan apa yang diceritakan Azlina kepadanya.


"Jadi, kau ... mencintainya. Kau telah menyerahkan perasaanmu lebih dulu kepada Om tampan?"


Lulu yang tidak tega dengan sahabatnya itu beranjak dari duduknya, lalu melangkahkan kaki untuk duduk di sofa yang sama dengan Azlina. Dia memeluk gadis itu, menepuk-nepuk punggungnya untuk menenangkan tangisnya.


"Sabar, Na! Kau boleh tianggal di sini selama yang kau mau. Aku justru senang kita tinggal bersama, jadi aku ada teman ngobrol setiap hari."


Azlina mengusap air matanya lagi, lalu berusaha menyunggingkan senyum meskipun terlihat kesulitan untuk melakukannya. "Terima kasih, Lu. Kamu memang sahabat yang tak pernah mengecewakanku."

__ADS_1


***


"Kau yakin tidak perlu aku temani?"


Azlina menggeleng lemah. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis kepada Lulu agar tidak terlalu mencemaskannya.


"Aku hanya sebentar. Aku hanya ingin tahu kondisinya. Dia begitu karena ulahku. Aku mencemaskannya."


Gadis berambut panjang yang mengikat rambutnya dengan kuncir kuda itu menunduk, melihat daftar kontak untuk mencari nomor telepon sopir taksi langganannya itu agar segera menjemputnya.


"Jika kau butuh apa-apa, segera hubungi aku! Bahaya gadis cantik sepertimu keluar malam-malam sendiri."


Azlina mengulum senyum, lalu mengucapkan terima kasih kepada Lulu atas perhatian sahabatnya itu.


》Next!

__ADS_1


__ADS_2