
Bukannya merasa bersalah karena mengusir Azlina, Mama Rani justu datang menemui Almeera, meminta bantuan perempuan itu untuk membujuk Alvaro agar mau keluar dari kamarnya.
Setelah bertemu di salah satu rumah makan sekaligus makan siang, kedua wanita itu keluar bersamaan dengan sesekali melempar canda. Almeera sepertinya sudah berhasil mendapatkan hati Mama Rani. Melihat bagaimana perempuan itu saling tertawa dan tampak akrab seperti layaknya teman bisa membuktikan kepiawaian Almeeera dalam menaklukan hati sang calon mertua.
Tentu bukan pekara sulit bagi Almeera jika hanya memenangi hati Mama Rani. Dia tipikal wanita yang mudah bergaul, semua orang dengan mudah menyukainya. Wanita yang ramah, sopan, dan anggun. Mama Rani pasti sangat bangga memiliki menantu seperti Almeera.
Secara fisik dan kepribadian, Almeera adalah wanita yang sempurna. Akan tetapi, nasib percintaannya tak semulus wajahnya. Orang yang telah dekat dengannya justru lambat laun selalu merasa tak nyaman akan sikapnya, sehingga seringkali perempuan itu putus cinta lantaran ditinggalkan atau dikhianati secara terang-terangan.
Pun dengan Alvaro yang sempat terpedaya dengan pesona Almeera. Lelaki itu berakhir tak nyaman dengan perempuan itu dan memilih Azlina yang hanya seorang gadis SMA untuk menjadi pendamping masa depannya dibandingkan sosok Almeera yang sudah matang serta berpengalaman.
Merasa tak terima karena kalah bersaing dengan gadis SMA, Almeera memutuskan untuk menyetujui ide Mama Rani yang ingin mendekatkan dirinya dengan Alvaro lagi. Seolah-olah rasa malu dalam dirinya telah pergi setelah ungkapan terang-terangan yang dilontarkan Alvaro kepadanya saat itu, Almeera masih saja ingin membuktikan kepada semua orang bahwa dia bisa mendapatkan apa pun yang dia inginkan, bagaimanapun caranya.
__ADS_1
Tepat ketika Mama Rani dan Almeera keluar dari rumah makan tersebut, mereka tanpa sengaja berpapasan dengan Sean yang sedang menggendong putra ketiganya bersama Salwa juga kedua anaknya di depan pintu masuk rumah makan tersebut.
Belum sempat Mama Rani menyelami rasa keterkejutannya itu, di belakang Sean dan Salwa sudah berdiri kedua besannya yang di antara mereka ada Azlina ikut menyertai.
Azlina yang melihat sang ibu metua di depan mata segera menghampiri perempuan paruh baya yang masih terlihat awet muda itu untuk mencium tangannya. Akan tetapi, tepat di saat tangan Mama Rani diraih oleh Azlina, perempuan paruh baya itu segera menepis tangannya kasar.
Peristiwa menyakitkan itu tak luput dari perhatian Sean Paderson dan juga anggota keluarga Azlina yang lain, membuat perempuan itu malu kepada mereka.
"Singkirkan tanganmu! Kau bukan lagi menantuku."
Rasanya bagai dihantam puluhan batu padas yang kasar, hati Azlina tersayat perih akan penolakan Mama Rani yang dilakukan di depan banyak orang terutama di depan kedua orang tuanya. Matanya mulai berembun tak bisa menyembunyikan rasa sakit itu. Apalagi dia melihat Almeera sedang tersenyum mengejek yang sengaja ditujukkan kepadanya.
__ADS_1
Melihat bagaimana akrabnya sang mertua dengan Almeera cukup membuktikan bahwa harapan Azlina untuk mendapatkan hati mertuanya menipis sudah. Hatinya sakit sekaligus perih, sesak menghantam di dada. Hingga perekataan Mama Rani selanjutnya yang dilontarkan tanpa rasa bersalah membuat hati Azlina kian terluka.
"Mumpung kalian semua di sini, aku perkenalkan dengan calon istri Alvaro. Dia adalah Almeera, wanita karier yang cerdas dan berpendidikan tinggi. Dia sangat cantik bukan? Alvaro memang pintar mencari calon istri." Mama Rani bersikap pongah dengan mengimplisitkan sesuatu dari kalimat yang diutarakannya.
Sean yang melihat harga diri adik iparnya dihina seperti itu merasa tidak terima. Mama Rani berkata buruk tidak melihat situasi karena siapa yang dihadapinya bukanlah orang yang bisa diam saja ketika harga dirinya diinjak-injak.
"Wanita karier? Di mana dia bekerja? Apa jabatannya?"
Seketika Almeera yang semula tersenyum penuh kemenangan mendapat pujian dan dukungan dari Mama Rani mendadak pasi mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Sean Paderson dengan iris biru lelaki itu menatap tajam ke arahnya.
>> Lanjut lagi ...
__ADS_1