Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
58. Pengintaian Part 3


__ADS_3

Kedua orang itu terlihat keluar dari pusat perbelanjaan. Elang sepertinya membawa motor untuk mengajak Azlina jalan-jalan. Pemandangan di depan Alvaro berhasil membuat lelaki itu kesal. Azlina memang tak memeluk Elang, tetapi gadis itu meletakkan tangannya di pinggang lelaki itu yang kini membawa motor sport yang pasti membuat seseorang yang menumpang di belakangnya akan membungkuk memeluknya.


Alvaro masih mengejar dengan menggunakan mobil, bersikap hati-hati agar kedua ornag itu tak menaruh curiga dengannya. Mereka berhenti di sebuah pasar malam yang tampaknya baru ada belakangan ini.


Kencan anak remaja memang aneh, tetapi bisa terasa manis ketika dijalani.


Azlina turun dari motor, menunggu Elang memarkirkan motor itu. Keduanya masuk setelah membayar tiket masuk.


Di sana telah tersedia berbagai wahana yang sepertinya lebih cocok dikunjungi anak-anak daripada pria dewasa sepertinya. Alvaro tak menyangka jika selera Azlina masih seputar permainan anak-anak. Sangat wajar mengingat usia sang istri masih tergolong remaja. Berbeda dengan isi kepala Alvaro yang sudah tak jauh dari adegan ranjang saja.


Dia duduk di sebuah kursi berbahan semen sambil melihat kedua remaja itu bersenda gurau. Entah apa yang sedang keduanya bicarakan, tetapi cukup membuat hati Alvaro kepanasan.


Gadis itu tampak menunjuk bianglala yang sudah berderet calon penumpang yang mengantre dibawahnya. Namun, dia menggeleng kemudian.


"Enggak usah, Lang." Wajah Azlina tampak kecewa karena keinginan untuk menaiki bianglala itu tak terwujud, tetapi sssaat setelahnya dia terkejut ketika Elang memegang kedua tangannya.


Pandangan keduanya saling bertemu bersamaan embusan angin malam yang mengiringi dua insan yang sedang berusaha mengutarakan perasaan.


"Na, aku ingin mengatakan sesuatu."


Manik bulat berkilauan itu masih menatap Elang dengan serius, menunggu kalimat selanjutnya yang akan lelaki itu ungkapkan kepadanya.


"Sejak awal aku sudah merasakan ini. Akan tetapi, aku tidak percaya diri untuk mengungkapkannya." Elang menatap lurus ke arah Azlina, mengunci tatapan gadis itu agar tak beralih kepadanya. "Aku senang ketika kita menghabiskan waktu bersama. Aku senang ketika bisa berdekatan denganmu, menyentuh tanganmu seperti ini, membuatmu tertawa." Elang menghela napasnya kemudian, menjeda kalimatnya sesaat, lalu melanjutkannya. "Aku ... sayang sama kamu, Na. Kamu mau, kan, jadi pacarku?"


Azlina tampak terkesiap dengan perkataan Elang yang tiba-tiba mengutarakan perasaannya itu. Dulu, dia memang tertarik kepada Elang, berharap cowok di depannya itu suatu saat akan menjadi kekasihnya. Namun, perasaan itu seolah-olah terkikis sedikit demi sedikit sejak Alvaro hadir dalam kehidupannya. Memaksanya mempelajari hal baru yang belum pernah dia lakukan dengan pria mana pun.


Bekas-bekas cumbuan Alvaro kepadanya, masih terasa sampai saat ini. Dia ingin menghilangkan itu, menghapus semua jejak lelaki itu yang pernah menyentuhnya, menjamah dirinya. Akan tetapi, bagaimana caranya?


Hingga ketika Elang masih menunggu jawaban atas permintaannya membuat Azlina tampak berpikir ulang. Mungkin inikah jawabannya, membiarkan Elang masuk kembali dalam kehidupannya, melepaskan Alvaro untuk menjemput wanita yang dicintainya.


Mungkin Elang adalah takdir sesungguhnya, bukan Alvaro yang masih berstatus sebagai suaminya. Meski di hati Azlina nama Alvaro sudah menancap terlalu kuat, hingga sulit tergeser lagi keberadaannya.

__ADS_1


"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Aku akan sabar menunggu." Elang menundukkan wajah, menyembunyikan raut kekecewaan karena Azlina terlihat tak menanggapi dan membalas perasaannya.


"Aku mau."


"Apa?"


Azlina mengangguk dengan menyunggingkan senyum. Mungkin ini memang pilihan hidupnya, membiarkan Elang masuk kembali ke dalam hatinya, mengikhlaskan Alvaro untuk bersama wanita lain.


"Aku mau menjadi pacarmu. Aku ingin mencobanya. Apakah ... kamu bersedia membantuku memulainya dari awal?"


Senyum seketika mengembang di bibir Elang. Dia tak menyangka perasaannya disambut dengan baik oleh Azlina. Dia mengangguk dengan senang. "Aku akan membantumu untuk bisa mencintaiku, Na. Terima kasih mau menerimaku."


Tangan Elang terulur menyentuh rambut Azlina, merapikan anak-anak rambut yang menutupi wajah gadis itu dengan menyelipkannya di belakang telinga.


Di bawah pohon kenanga yang tampak teduh dan rindang itu, Azlina bisa merasakan napas Elang menerpa wajahnya. Lelaki itu mendekatkan wajahnya dengan mata yang terpejam, mempersiapkan diri untuk mencium gadis yang baru saja resmi menjadi kekasihnya.


Detak jantung Azlina berpacu, menyadari jika lelaki itu ingin menciumnya. Azlina ingin menolak, tetapi tekadnya untuk menghapus jejak-jejak Alvaro membuatnya berani menerima ciuman itu. Dia ikut memejamkan mata ketika bibir Elang hampir mendarat ke bibirnya. Namun, sebelum bibir itu sempat bersentuhan, tangan Azlina ditarik ke belakang, membuat gadis itu tersentak terkejut.


Azlina berontak, mencoba melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan Alvaro. Akan tetapi, semuanya tampak sia-sia belaka. Tak sedikit pun Alvaro mau melepaskan genggaman tangannya dari lengan Azlina.


Hingga ketika mereka sudah berada di parkiran mobil, Alvaro membuka pintu mobil itu dan mendorong Azlina agar masuk ke dalam.


Azlina ingin menolak, tetapi tatapan Alvaro yang tampak dingin dan menyeramkan membuat dirinya takut, sehingga memilih memeluk tubuhnya sendiri dengan air mata yang luruh tiada henti.


Alvaro segera menyalakan mobil itu, pergi dari area pasar malam.


Ingatan di mana Azlina hendak berciuman dengan pria lain membuat dia tak terima. Berkali-kali setir mobil itu dia pukul, melepaskan rasa kesal dan amarah yang membuncah. Dia sudah memperingatkan Azlina agar tak melakukan kontak fisik dengan lelaki lain, tetapi apa yang baru saja dia lihat. Azlina bahkan dengan sengaja berciuman dengan pria lain tanpa rasa bersalah.


Mobil itu berjalan ngebut, membuat Azlina mencengkeram sabuk pengaman yang sudah terpasang erat di tubuhnya. Dia tak mengerti mengapa Alvaro begitu murka dengannya. Dia ingin menangis, takut, dan merasa sedang dalam bahaya. Namun, mulutnya bungkam tak bisa berkata apa-apa. Hanya sesenggukan yang bisa keluar dari bibirnya bersamaan air mata yang luruh membasahi pipi.


Alvaro menghentikan mobilnya tepat berada di tempat sepi yang jauh dari keramaian. Lelaki itu masih menampilkan wajar marah dengan tatapan dingin menusuk ke siapa saja yang sedang sial menghadapi tatapannya. Azlina bahkan bisa merasakan aura dingin itu, membuat tubuhnya gemetar karena takut.

__ADS_1


"Kau berciuman dengannya?!"


Azlina hanya menunduk, tak menjawab pertanyaan Alvaro.


"Kenapa kau menjadi gadis murahan seperti itu? Apakah kau lupa jika statusmu masih seorang istri?!"


Azlina seketika menegakkan kepalanya, mendapat sebutan murahan sangat melukai harga dirinya. Dia menjadi murahan juga karena Alvaro. Jika saja lelaki itu sadar dengan perbuatannya, tak mungkin mengatakan hal menyakitkan itu kepada Azlina.


"Ya, aku memang murahan. Kau baru tahu bukan jika aku wanita murahan? Maka dari itu, cepat ceraikan aku!"


Tangan Alvaro terkepal, memukul dashboard mobil dengan keras, membuat Azlina terkejut ketakutan.


Dia menajamkan sorot matanya, membungkuk ke arah Azlina setelah melepaskan sabuk pengaman di tubuhnya.


"Kau mau apa? Perceraian?!"


Azlina hanya bisa menatap mata itu, tak berani mengangguk ataupun menggeleng. Hingga ketika Alvaro menyentuh dagunya, gadis itu memejamkan mata karena takut.


Azlina merasakan bibir lelaki itu membungkam bibirnya, menekan, dan melumàtnya tanpa ampun. Azlina bahkan tak mengerti apa yang dia rasakan, ciuman kasar itu sukses melukai hatinya. Dia merasa seperti wanita murahan sesungguhnya melihat bagaimana Alvaro memeperlakukannya.


Lelaki itu menciumnya bukan dengan perasaan sayang dan cinta, tetapi layaknya sebuah hukuman dan penghinaan. Begitu kasar dan tak berbelaskasihan.


Hingga ketika tangan lelaki itu dengan lancang menelusup di balik pakaian Azlina, merèmas benda yang selama ini hanya pernah dia lihat saja tanpa berani menyentuhnya.


Mata Azlina membulat meraskan Alvaro telah lancang melakukan itu kepadanya. Hatinya menjerit, bagaikan wanita kotor yang disentuh secara paksa dan kasar tanpa ada rasa cinta dan kasih sayang yang tercurahkan kepadanya. Lelaki itu masih saja tak melepaskan Azlina yang telah berontak menahan tangan lelaki itu yang sudah berhasil menyentuh miliknya.


Air mata Azlina mengalir tiada henti, merasakan dirinya begitu kotor kendati yang menyentuhnya adalah suami sendiri. Hingga ketika Alvaro sedikit sadar dengan apa yang telah dia lakukan, Azlina berhasil mendorong dada lelaki itu, lalu menghadiahi tamparan keras di pipi Alvaro.


》Bersambung ...


Makasih yang sudah menibggalkan jejak. Selamat membaca ...

__ADS_1


__ADS_2