
Mereka mulai makan dengan tenang. Alvaro mengambil ikan bakar yang menghitam itu. Tak baik rasanya jika tak mencicipi masakan yang sudah susah-susah dimasak oleh Azlina untuknya. Lagi pun hanya bagian luarnya saja yangg hitam, jadi masih bisa di makan.
"Kenapa harus makan yang gosong, Al?"
"Tidak apa. Aku hanya penasaran dengan rasanya."
Almeera tak setuju. Mengapa Alvaro begitu baik dengan Azlina? Bukannya marah kepada Azlina, lelaki itu justru mencicipi makanan yang dianggap rusak itu tanpa ada rasa jijik di saat melahapnya.
Sementara Azlina sudah sangat gugup ketika Alvaro menyuapkan ikan bakar menghitam itu ke mulutnya dan dia baru bisa menghela napas lega begitu bibir Alvaro mengucap satu hal. "Enak, sangat enak. Lain kali buatkan yang gosong lagi, ya."
Azlina tertawa dengan menunduk. Mana mungkin enak, pasti Alvaro sengaja mengatakan itu agar tak membuat dirinya kecewa. "Yeah, jika Kakak mau."
Makan siang berlangsung dengan tenang, tiada drama yang memusingkan, sehingga Alvaro ingin mengajak Almeera keluar untuk membicarakan sesuatu.
"Kamu bawa mobil?"
Almeera menggeleng. Sejujurnya dia memang tak berniat membawa mobil, berharap pulangnya nanti diantar oleh Alvaro. "Kebetulan tadi nebeng teman."
"Aku ingin bicara empat mata denganmu. Terserah nanti kamu mau pilih tempat di mana."
Almeera melirik ke arah Azlina yang masih mengunyah makanan. Ternyata perempuan iti tampak tak peduli dengan perkataan Alvaro kepadanya, tiada rasa curiga ataupun marah sehingga membuat Almeera menerka jika Alvaro sudah membereskan masalahnya terkait pernikahan settingannya dengan Azlina.
Ya, tentu saja Azlina tidak terkejut dengan penuturan Alvaro, karena ketika di dapur tadi saat mengambil masakan bersama, lelaki itu telah mengutarakan rencananya kepada Azlina sembari meminta izin kepada perempuan itu untuk berbicara empat mata dengan Almeera.
"Aku tahu. Aku kemari juga karena hal itu." Almeera tak bisa menyembunyikan senyum di bibirnya, tak menyangka jika Alvaro berani membahas hubungan mereka di depan Azlina. Ya, meskipun dia sudah tahu bagaimana besarnya perasaan Alvaro kepadanya, tetapi dia cukup terkejut ketika Alvaro tak menutup-nutupi hal itu dari Azlina.
"Sepertinya ini enak. Kenapa kamu repot-repot sekali membuat kudapan untuk makan siang?" Alvaro mengambil siomay yang masih hangat itu menggunakan sumpit, lalu mencocolkannya di saus sambal yang diletakkan di piring kecil dan kemudian melahapnya.
"Gimana? Enak enggak, Kak? Aku tadi mencoba resep baru yang ada di internet." Mata Azlina tampak berbinar menunggu jawaban dari Alvaro yang masih mengunyah siomay itu. Senyumnya seketika mengembang setelah melihat Alvaro menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Enak. Ternyata kamu pinter masak, ya!"
Wajah Azlina bersemu merah mendengar pujian Alvaro. Melihat Alvaro ternyata begitu lahap dengan makanan yang dia buatkan membuat hati Azlina senang. Lelaki itu bahkan tak berhenti mengunyah siomay hangat buatan Azlina. Ya, bahagia seorang istri ternyata sangat sederhana.
Namun, hal itu sangat berbeda dengan raut kesal Almeera yang merasa tidak suka mendengar Alvaro memuji Azlina. Tentunya masakannya pasti jauh lebih lezat dan sempurna dibanding dengan masakan Azlina. Dia mampu menelan masakan itu juga karena segan kepada Alvaro yang telah repot-repot mengambilkannya. Jika tidak, tentu saja dia dengan segera mungkin memuntahkan kembali masakan yang rasanya kurang manusiawi itu.
Namun, belum sempat Almeera menilai masakan Azlina dengan bibirnya, tatapnnya beralih kepada Alvaro yang terlihat kesakitan.
"Kakak, kamu kenapa?!"
Azlina panik begitu melihat Alvaro menekan dadanya. Lelaki itu sesak napas seolah-olah pasokan udara di paru-parunya menipis secara tiba-tiba. Hingga Alvaro sudah tak kuat lagi, lelaki itu ambruk dari atas kursi, luruh ke bawah.
"Kakaak!"
"Al!"
...***...
Di sana Azlina tak mampu berpikir lagi. Dia menunduk, menunggu pintu ruangan itu terbuka. Pasalnya hampir satu jam dia di ruang tunggu tanpa ada kepastian. Tak ada satu orang pun yang bisa dimintai keterangan. Beberapa perawat yang keluar masuk di ruangan itu juga tak memberikan penjelasan yang berarti. Mereka hanya mengatakan "Sabar, Dokter sedang berusaha."
Begitu takutnya Azlina kehilangan Alvaro. Hubungan mereka baru saja berjalan dengan baik semalam, merasakaan cinta seorang suami yang telah tulus kepadanya. Baru saja dia merasakan keahagiaan dalam menjalani ikatan pernikahan. Dia ingin lebih lama, lama, dan sangat lama lagi hidup bersama Alvaro, merajut mimpi-mimpinya dengan ditemani suami tercinta. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Alvaro? Mengapa tiba-tiba merasa kesakitan dan sulit bernapas?
Sementara Almeera kini duduk di kursi yang berbeda. Dia juga merasa sedih melihat apa yang terjadi dengan Alvaro. Jelas lelaki itu tengah mengalami sesuatu yang sangat mengerikan. Alvaro kesulitan bernapas, seolah-olah saluran pernapasannya tiba-tiba menyempit sendiri. Andai mereka tak membawa Alvaro ke rumah sakit dengan cepat, mungkin nyawa Alvaro tak tertolong lagi.
Mata Almeera menatap sesuatu yang dia temukan ketika Alvaro terjatuh tadi. Perlahan dia membuka kotak berbentuk hati berwarna merah marun dengan lapisan emas di bagian ujungnya. Air matanya luruh seketika melihat begitu indahnya sesuatu yang berada di dalamnya. Sebuah cincin dengan berlian warna merah jambu yang mengagumkan mata.
Almeera tentu tahu berlian apa itu. Tidak mudah mendapatkan berlian berwarna merah jambu itu, tetapi Alvaro bisa mendapatkannya. Almeera yakin jika cincin itu akan diberikan Alvaro untuknya di saat mereka berdua berbicara empat mata. Namun, keadaan yang terjadi sekarang membuatnya kehilangan momentum romantis itu.
"Keluarga pasien?"
__ADS_1
Seorang dokter baru saja keluar dari ruangan itu. Azlina segera berdiri sembari mengusap air mata yang sejak tadi membasahi pipi.
Namun, sebelum perempuan itu menjawab pertanyaan sang dokter, seseorang yang sangat dikenalnya tiba-tiba menyela. "Saya, Dok. Saya mamanya."
"Ma!"
Azlina segera menghambur memeluk Mama Rani. Ya, sangat kebetulan sekali Mama Rani telah sampai di Indonesia saat ini. Perempuan itu membalas pelukan Azlina dengan mengusap-usap punggungnya.
Kedekatan Azlina dengan Mama Rani cukup membuat Almeera tidak senang. Harusnya dia yang berada di posisi itu, karena yang dicintai Alvaro adalah dirinya bukan Azlina.
"Tenang, Sayang. Semuanya akan baik-baik saja."
Dokter itu mengangguk, lalu mengatakan sesuatu yang cukup membuat mereka semua terkejut.
"Apakah ada sesuatu yang dimakan pasien hari ini?"
Azlina menengadah, menatap sang dokter yang mananyainya.
"Kami makan ikan, Dok. Apakah ada yang salah? Kami sering makan ikan yang sama sebelumnya."
Dokter itu mengangguk-angguk, lalu mengatakan, "Ada yang lain?" Matanya menatap secara bergantian antara Azlina dan Mama Rani, tetapi keduanya terlihat bungkam tanpa suara sehingga dokter itu melanjutkan kalimatnya. "Pasien mengalami syok anafilaktik. Ada alergen yang memicu kondisi pasien mengalami seperti ini. Saat ini tim dokter sedang menangani agar dia bisa bernapas kembali. Bantu doa untuk keselamatan pasien, karena kami akan berusaha sekuat tenaga." Dokter itu berlalu setelah memberikan informasi kepada mereka.
Mama Rani memeluk erat Azlina, keduanya menangis secara bersamaan, tak kuasa jika memang Alvaro tiada secepat itu. Apalagi dia adalah anak tunggal dan Azlina juga baru saja dinikahinya. Mengapa semuanya bisa terjadi dan kesenangan dalam keluarganya begitu cepat direnggut seperti ini?
Azlina pun tak bisa menghentikan tangisnya. Semalam dia tak sempat melayani sang suami yang menginginkan dirinya. Dia belum sempat membuat Alvaro bahagia. Kisah cintanya baru saja dimulai, mereka baru saja merajut asa untuk memulai mimpi-mimpi masa depan keluarga kecil mereka nanti.
》Konflik terakhir, ya.
Bentar lagi tamat. Terima kasih yang sudah meninggalkan jejak. Terima kasih mau mengikuti kisahnya hingga tamat. Selamat membaca dan sehat selalu.
__ADS_1