
"Turunin di situ saja, Kak! Enggak perlu sampe gerbang." Azlina menunjuk tempat di bawah pohon rindang yang ada di sisi kiri jalan. Pohon itu terletak agak jauh dari pintu masuk sekolah, sehingga Azlina harus berjalan kaki dulu beberapa meter agar bisa mencapai gerbang sekolah.
Alvaro menghentikan mobilnya tepat di mana Azlina meminta. Gadis itu sibuk merapikan rambut yang telah dipakaikan bando di atasnya. Dia menyibakkan rambut yang menutupi leher ke arah belakang. Dan pandangan Alvaro terpaku pada leher putih itu. Di sana jelas terlihat bekas ciumannya tadi malam. Bukan hanya satu, tetapi dua dalam posisi berjajar.
Bagaimana bisa membekas begitu? Padahal dia merasa tak berlebihan melakukannya. Hingga ketika Azlina akan membuk tuas pintu, Alvaro menahan tangannya.
"Tunggu!"
"Eh!" Azlina menoleh, menatap penuh tanda tanya ke arah Alvaro.
Lelaki itu mengambil sesuatu yang terselip di laci dashboard mobil, lalu memberikannya pada Azlina.
"Ini, pakailah!" perintahnya yang disambut kebingungan oleh Azlina.
Alvaro memberi sebuah plaster luka berwarna coklat tua tanpa alasan. Memang siapa yang sedang terluka?
"Lehermu terluka. Kau harus memakai ini."
Azlina tampak mengernyit heran mendengar perintah Alvaro, lalu berkata, "Aku tidak merasa sakit leher."
"Tapi kau terluka. Sudah biar aku yang pakaikan!"
Azlina menggeleng. Dia tidak merasa bermasalah dengan lehernya. Lantas, mengapa Alvaro memaksa dia memakai plester luka?
Lelaki itu menghela napas kasar seraya merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel. Dia membuka menu kamera di ponsel itu dan mengaturnya dalam mode selfie untuk ditunjukkan kepada Azlina.
__ADS_1
"Lihat pakai ini!"
Azlina menurut. Gadis itu mengamati lehernya di layar ponsel milik Alvaro. Azlina menatap tak percaya dengan apa yang baru saja dia temukan.
"Sejak kapan ada tanda ini?" Azlina mencoba mengingat-ingat sejenak. Dia tak merasa menggaruk atau digigit sesuatu di bagian lehernya, tetapi malah ada dua tanda yang berjajar di sana. Memilih abai, gadis itu akhirnya tak memusingkan kedua tanda di leher itu. "Ah, sudahlah, Kak. Hanya luka kecil, tidak sakit. Bentar lagi juga sembuh."
Oh, bukan masalah semubuh atau tidak. Justru Alvaro takut jika tanda itu dilihat oleh teman-teman Azlina atau bahkan gurunya. Pasti akan sangat memalukan, bukan?
"Kau harus menutupnya! Jangan dibiarkan terbuka begitu."
"Memang kenapa kalau terbuka. Bukankah memang lebih baik agar lukanya cepat kering?"
Alvaro mendesàh kasar. Sulit sekali memberi tahu Azlina. Berkata jujur juga tidak mungkin bagi Alvaro. Gadis itu pasti tidak akan mempercayainya lagi. Hingga dia memilih dengan memanfaatkan statusnya untuk memaksa.
"Eehh! Apa?" Azlina melihat keseriusan dari sorot mata Alvaro, sehingga dia memilih mengangguk. "Baiklah, aku akan menggunakannya."
Azlina akhirnya mengalah. Perkataan sang Ibu terkait kewajiban seorang istri untuk mematuhi perintah suami membuat Azlina tak ingin mendebat permintaan aneh Alvaro.
"Ehmm, aku ... kesulitan memakaikannya. Aku akan meminta Lulu saja nanti di kelas." Dia berkata setelah melihat-lihat posisi kedua tanda itu di lehernya.
"Tidak perlu! Aku bisa membantumu," sergah Alvaro cepat. Mana mungkin dia membiarkan orang lain tahu tentang tanda itu.
__ADS_1
Azlina mengangguk menyetujui. Dia menyibakkan kerah seragam pramukanya, memberikan akses lebar-lebar Alvaro untuk memudahkan menempelkan plester itu di lehernya.
Alvaro tampak berdehem sejenak. Leher itu tampak menggoda, tangannya bahkan gemetar ketika hendak menempelkan plester luka itu ke tempat yang benar. Dia teringat kejadian semalam yang membuatnya tak bisa mengontrol diri hingga sempat melecehkan gadis di depannya itu. Dia bahkan masih mencium aroma alami tubuh yang membuatnya bisa lepas kendali.
"Kak, ayo lakukan!"
Alvaro tersentak mendengar teguran Azlina. Bisa-bisanya dia melamun di saat begini hanya karena memandang leher putih jenjang nan menggoda itu. Lama-lama dia merasa akan gila sendiri jika terlalu memperhatikan bocil yang ternyata cukup berbahaya untuk kesehatan biologisnya.
Segera Alvaro menempelkannya dengan tepat, kendati banyak halangan serta membutuhkan perjuangan ketika jemarinya menyentuh leher itu.
"Sudah!" ucapnya kemudian.
"Terima kasih." Azlina merapikan kembali seragamnya, lalu bersiap keluar. Dan lagi-lagi Alvaro menahannya. "Ada apa lagi, Kak?" tanyanya sedikit malas. Dia bisa terlambat jika ditahan-tahan terus.
"Uang sakumu. Kau ... melupakannya," ucap Alvaro sembari mengangsurkan satu lembar uang seratus ribu kepada Azlina.
"Serius segini?" Wajah Azlina tampak berbinar. Dia membolak-balikkan uang itu dengan tak percaya.
"Apakah masih kurang?" Alvaro menyerahkan dua lembar lain kepada Azlina, tetapi gadis itu menahannya.
"Cukup. Terima kasih." Azlina tampak tersenyum manis dengan memperlihatkan lesung pipitnya yang ada di sebelah kiri. "Ehmm, salim dulu," ucapnya kemudian.
Alvaro terkekeh dibuatnya. Dia mengulurkan tangannya, lalu disambut oleh Azlina dengan mencium punggung tangan lelaki itu. Sebuah kecupaan singkat di dahi yang tertutup poni dilabuhkan oleh Alvaro kepada gadis itu. Entah mengapa dia menikmati perannya sebagai suami kali ini, seolah dia terlupa hubungan apa yang ditawarkan Alvaro kepada Azlina sebelumnya.
Gadis itu keluar dari mobil, menyeberang jalan untuk kemudian berjalan menuju gerbang sekolahnya.
__ADS_1
Alvaro tak kunjung pergi. Dia masih menatap punggung Azlina yang semakin menjauh itu. Dia menghela napas berat kemudian, menyandarkan punggungnya di sandaran jok mobil. Hingga gadis itu sudah berbelok memasuki gerbang sekolah, Alvaro mulai menyalakan mesin mobilnya untuk segera berangkat bekerja.
》Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca. Silakan lanjut beberapa chapter lagi.