
Senyap masih mendominasi, lalu-lalang setiap orang yang keluar masuk rumah makan tersebut tak membuat suasana hening di antara mereka semua berubah.
Almeera menunduk, tak sanggup menatap manik biru yang tengah menatap dirinya tajam. Semakin dia melihat dan bersitatap dengan mata itu, rasa takut serta gelisah menyelimuti. Hingga lidahnya kelu untuk bisa menjawab atau sekadar menahan Nynoya Rani agar tak memberi tahu sebenarnya kepada seorang Sean Paderson.
Akan tetapi, perempuan paruh baya itu terlalu percaya diri, merasa apa yang sedang dibanggakannya adalah hal yang luar biasa, sehingga tak memedulikan raut pasi yang terpancar di wajah Almeera.
Dengan lancar Mama Rani menunjukkan di mana Almeera bekerja serta jabatan yang diemban oleh perempuan itu. Hal itu cukup membuat Almeera kesulitan bernapas. Melihat bagaimana seringai mengerikan yang muncul di bibir Sean Paderson berhasil membunuh rasa percaya diri Almeera yang sempat begitu tinggi dan tak terbendung.
Lelaki itu hanya diam, mematri dalam ingatan akan nama, wajah, dan informasi yang didapatkan dari Nyonya Rani. Hingga perempuan paruh baya itu telah puas memamerkan kelebihan calon menantu hayalannya itu, Pak Samsul akhirnya angkat bicara.
"Suruh Alvaro segera menceraikan putriku! Kami tidak akan menuntut apa pun dari kalian. Kami tidak butuh uang kalian." Pak Samsul berkata dengan lantang, tak terima sikap Nyonya Rani yang melukai hati putri bungsunya hingga seperti itu. Dia bisa menerima Azlina kembali tanpa harus direndahkan di depan umun. Apalagi dengan memamerkan calon menantu yang status anaknya masih menjadi suami Azlina.
__ADS_1
Nyonya Rani menarik Almeera, lalu mengangkat dagu. "Secepatnya itu akan terjadi. Aku sudah tidak sabar lepas dari keluarga seperti kalian."
Perkataan Nyonya Rani begitu memilukan, membuat Azlina harus menahan tangis yang hampir lolos dari pelupuk mata. Bibirnya bergetar, tak mampu mengucapkan sepatah kata. Hatinya hancur melihat bagaimana sang mertua begitu menginginkan perceraian antara dirinya dan Alvaro kendati keduanya saling mencintai.
Harapan untuk diterima kembali itu masih ada, tetapi sepertinya ini akan menjadi semakin sulit melihat bagaimana wajah marah orang tuanya akan sikap Nyonya Rani yang terang-terangan tidak menganggapnya.
Sebelum kedua orang itu kabur dari pandangan, Sean mencegah Almeera dengan hanya mengucapkan satu kalimat, tetapi mampu membekukan diri perempuan itu.
Almeera menahan Nyonya Rani agar menghentikan langkahnya. Tanpa menoleh ke arah Sean Paderson, Almeera menanti kalimat apa yang selanjutnya diucapkan oleh lelaki itu.
"Jadi, namamu Almeera. Ya, persiapkan dirimu karena kita bertemu di ruang pimpinan besok pagi." Sean menjeda kalimatnya sejenak, lalu melanjutkannya sebelum kedua orang itu memutuskan pergi. "Dan untukmu Nyonya Agus, Azlina tak membutuhkan anakmu. Jika kamu bisa menyuruh Alvaro melepaskan Azlina, itu lebih baik. Tapi, jika kamu tidak bisa memaksakan kehendakmu kepada putra semata wayangmu, maka tunggulah kehancuran putramu atas keegoisanmu sendiri."
__ADS_1
Nyonya Rani diam membisu, bergeming dari tempatnya. Perkataan Sean Paderson mampu menusuk hatinya. Dia hanya ingin kebahagiaan untuk Alvaro, tetapi dia tak menyadari bahwa keikutcampurannya terhadap rumah tangga sang anak justru membuat mala petaka bagi anaknya sendiri.
Pun demikian yang terjadi dengan Almeera, perempuan itu tak sanggup melangkahkan kakinya. Entah ini adalah hal buruk atau hal baik, karena Almeera merasa kariernya akan terancam setelah pertemuannya yang tak disangka-sangka dengan Sean Paderson.
Lelaki itu mengajak keluarganya masuk ke dalam rumah makan tersebut, tak memandang lagi kepada dua orang wanita berbeda usia itu. Namun, ada satu hati yang masih tak bisa mengendalikan perasaan sakit setelah tragedi itu berlalu.
Bu Darmini yang sejak tadi diam, merasakan kekecewaan yang teramat sangat akan sikap mama Alvaro yang sebelumnya terlihat begitu menyayangi Azlina, kini berubah seperti monster. Dia tak menyangka kisah rumah tangga anaknya menjadi seperti ini, sehingga ada penyesalan dalam dirinya telah menyetujui pernikahan Azlina dan Alvaro kala itu.
"Maafkan Ibuk, Nak!"
》Lanjut, ke bawah lagi ...
__ADS_1