
"Kalian menjijikkan!"
Almeera hendak pergi dari ruangan itu, tetapi Alvaro menahan lengannya.
"Jaga ucapanmu, Almeera!"
"Jaga ucapan? Kau yang harus menjaga perilakumu yang seperti hewan itu. Pantas saja kau begitu peduli dengannya, karena kalian ternyata adalah pasangan gelap yang menjijikkan!"
"Cukup!" Alvaro meninggikan suara.
Almeera tersenyum sinis, mengabaikan raut kemarahan di wajah Alvaro. Entah mengapa dia merasa kecewa dengan apa yang baru saja terlihat oleh matanya. Bayangan Alvaro adalah sosok pria baik-baik yang seperti selama ini dia kenal hancur sudah. Meniduri sepupu sendiri menurut Almeera hanya bisa dilakukan oleh orang bèjat. Apalagi gadis yang ditiduri itu masih bersekolah.
Dia ingin menghempaskan tangan Alvaro yang saat ini menahan lengannya, tetapi perkataan Alvaro selanjutnya membuat perempuan itu terkejut tak percaya.
"Kau harus tahu. Azlina, gadis SMA itu adalah ... istriku."
"A-pa?! Kau bercanda." Almeera berkata lirih, menyangkal akan perkataan Alvaro.
"Aku serius. Kami sah secara agama, Meera. Dia istriku."
Azlina yang mendengar perkataan jujur Alvaro masih mematung di tempat, tak menyangka jika lelaki itu mau mengakui hubungannya meskipun Azlina tahu jika Almeera adalah wanita impian Alvaro. Pengakuan itu sama saja membunuh impian Alvaro untuk mendapatkan wanita itu.
Apabila Alvaro ternyata memilih pernikahannya daripada cintanya kepada Almeera, mungkin Azlina juga akan mempertimbangkan hubungan itu, merelakan Elang untuk dimiliki orang lain dan mulai menerima Alvaro. Karena sepertinya hidup dengan pria jauh lebih dewasa seperti Alvaro bukanlah hal yang buruk, Azlina mulai merasa nyaman dengan lelaki itu.
"Sejak kapan kalian menikah?" Pertanyaan itu keluar dari bibir Almeera dengan mimik muka penuh ketegangan.
"Dua hari yang lalu."
"Jadi, selama ini kau membohongiku?"
Alvaro masih mempertahankan tangan Almeera, menahan perempuan itu agar tidak kabur darinya. Hingga dia menghela napas berat, mulai mengakui hal yang seharusnya dia rahasiakan.
__ADS_1
"Kami terpaksa menikah karena suatu alasan. Aku dan Azlina tidak memiliki hubungan serius. Mungkin kami akan berpisah jika Azlina sudah menemukan lelaki yang tepat yang mencintainya dan dicintai olehnya."
Azlina yang semula menunduk dengan hanya menjadi pendengar, kini menengadah menatap ke depan di mana Alvaro dan Almeera sedang berdebat. Dia mengepalkan tangannya yang tersembunyi di sisi kiri. Azlina tak menyangka jika Alvaro telah membeberkan rahasia pernikahan mereka kepada Almeera. Seharusnya itu tetap menjadi rahasia mereka berdua, bukan? Akan tetapi, lelaki itu dengan mudahnya mengatakan semuanya kepada Almeera.
"Aku ... mencintaimu, Ra. Selama ini aku masih menantimu, tetapi sepertinya kau tak peduli denganku. Kau memilih Ren yang sama sekali tak memedulikan perasaanmu. Ya, aku marah ketika Ren memperlakukanmu seperti itu, tetapi tak ada yang bisa aku lakukan karena kita tak lebih dari sekadar teman."
Azlina mendengar pengakuan Alvaro kepada Almeera tampak menunduk. Entah mengapa dia merasa sangat kecewa dengan lelaki itu. Mengingat bagaimana semalam lelaki itu telah melihat tubuhnya, lalu memeluknya erat ketika tidur bersama, membuat hati Azlina sakit. Apakah dirinya hanya dianggap sebagai anak titipan yang kemudian hari akan dikembalikan kepada orang tuanya?
Entah apa yang dirasakannya saat ini, Azlina sama sekali tak mengerti. Rasanya sangat tidak nyaman, sakit bercampur kecewa. Hingga dia memilih semakin menundukkan wajah, tak ingin melihat apa yang mungkin akan terjadi di depannya.
"Al, maafkan aku." Wajah Almeera tampak sendu, matanya mulai berkaca-kaca. Dia merasa salah menilai Alvaro, lelaki itu ternyata sangat mencintainya meski dia telah dimiliki pria lain.
"Tidak perlu meminta maaf. Kau berhak memilih siapa pun yang kau mau. Karena itu pilihanmu, masa depanmu." Alvaro berkata tanpa menatap ke arah Almeera. Pandangannya kosong setelah mengakui perasaannya kepada perempuan itu.
Namun, siapa sangka jika sikap Almeera selanjutnya membuat Alvaro luluh saat itu juga.
Perempuan itu memeluk Alvaro, membenamkan wajahnya di dada lelaki itu. "Maafkan aku, Al. Aku tidak ingin kehilangan teman sepertimu. Ren selalu menyakitiku, tetapi aku tidak tahu mengapa aku sulit terlepas darinya. Aku ingin pergi menjauh darinya, tetapi aku tak mampu. Aku harus bagaimana?"
Melihat Alvaro membiarkan Almeera memeluknya, dan lelaki itu tampak menerima pelukan itu dengan suka cita, cukup membuat Azlina geram. Alvaro meminta Azlina untuk tidak melakukan kontak fisik dengan pria lain, tetapi apa yang saat ini Alvaro lakukan di hadapannya? Lelaki iti justru berpelukan dengan wanita lain tanpa tahu malu.
"Bodoh, bodoh, bodoh!" Azlina memukul-mukul pintu yang disandarinya sembari memejamkan mata. Dia merasa dipermainkan. Kendati Alvaro tidak pernah menyentuhnya seperti layaknya sepasang suami istri, tetapi dia merasa telah kehilangan hal yang berharga. Lelaki itu telah melihat tubuh polosnya, bahkan lelaki itu menyeka setiap inchi tubuhnya dengan handuk hangat. Bukankah itu sudah keterlaluan?
Seharusnya hubungan pura-pura tak boleh sejauh itu. Lelaki itu mengambil kesempatan dalam ketidakberdayaan Azlina. Apa yang akan dia katakan kepada calon suaminya nanti jika ternyata ada pria lain yang sudah pernah melihat dirinya dalam kondisi bùgil.
"Dasar, pria tua menyebalkan!" teriaknya kemudian.
...***...
"Aku ingin pulang."
"Iya, kita akan pulang." Alvaro menyetir dengan senyum bahagia. Sepertinya hubungan Almeera dan Alvaro ada kemajuan, sehingga lelaki itu tampak ceria saat ini.
__ADS_1
"Aku ingin pulang ke rumah Ibuk. Aku ingin menginap di sana."
"Apa? Baiklah, nanti malam kita menginap ke rumah orang tuamu." Alvaro menuruti keinginan Azlina. Hatinya sedang senang, sehingga tak mempermasalahkan permintaan istrinya itu.
"Tidak perlu. Hanya aku yang menginap. Aku ingin tidur dengan Ibuk. Aku ... merindukan Ibuk. Kakak pulang saja setelah mengantarku."
"Apa?" Kini Alvaro tampak bingung, dia memperhatikan Azlina yang biasanya ceria dan banyak bicara mendadak dingin dan pendiam. Bicara pun seperlunya saja.
Hening. Azlina tak ingin menjawab pertanyaan Alvaro. Gadis itu menoleh ke samping, melihat ke arah bangunan dan pohon-pohon yang tampak bergerak ke belakang seiring mobil yang dia tumpangi berjalan.
Tak ingin banyak bertanya, Alvaro mengikuti apa yang Azlina inginkan. Dia menyadari jika Azlina masih begitu belia. Apalagi gadis itu adalah anak bungsu yang mana sebelum menikah gadis itu pasti mendapatkan begitu banyak limpahan kasih sayang dari keluarganya.
"Aku antar masuk, ya?" Alvaro hendak melepas sabuk pengamannya, tetapi Azlina melarangnya.
"Aku bisa masuk sendiri. Kakak pulang saja." Azlina mengulurkan tangannya kepada Alvaro, mencium punggung tangan lelaki itu untuk sekadar berpamitan.
Sebelum Alvaro meraih kepala Azlina untuk mencium kening gadis itu, Azlina menghindar. "Assalamu'alaikum," ucap Azlina kemudian dengan membuka pintu mobil. Tanpa menunggu salamnya dijawab oleh Alvaro, Azlina melangkah pergi.
Sikap dingin yang ditunjukkan Azlina begitu mengganggu. Gadis itu berubah sikap seketika setelah keluar dari hotel. Alvaro menurunkan kaca mobilnya, menggeser duduknya, lalu sedikit membungkuk mengeluarkan kepala.
"Aku akan menjemputmu besok pagi."
Azlina menghentikan langkahnya. Dia berbalik kemudian, kembali mendekat ke mobil. Tatapan Azlina begitu datar, terlihat enggan beradu pandang dengan Alvaro.
"Tidak perlu, Kak. Aku akan pulang pagi-pagi sekali untuk mengambil buku dan seragamku. Kakak tidak perlu repot-repot. Bersenang-senanglah tanpaku!"
Azlina segera pergi setelah mengatakan hal itu, membuka gerbang rumahnya, lalu menutupnya kembali tanpa menatap ke arah mobil Alvaro.
》Bersambung...
Terima kasih yang sudah bersedia membaca. Jangan lupa tinggalkan jejak, ya. 😁😁
__ADS_1