
Azlina mengerjapkan kelopak matanya dua kali tatkala suara alarm dari ponselnya tengah berdering. Lagu lawas dari Adelle yang berjudul Sky Fall terdengar semakin meningkat frekuensinya membuat perempuan itu memaksakan matanya yang masih terasa berat untuk terbuka. Bibirnya menyunggikan senyum ketika mendapati seseorang tengah memeluk tubuhnya. Namun, sejurus kemudian dia tersadar.
Siapa?
Dia menengadahkan wajahnya, menatap siapa yang saat ini sedang tidur di sisinya sembari mengeratkan pelukan hangat itu.
Tepat ketika Azlina memandang wajah itu, seseorang yang sedang memeluknya juga tengah menatapnya. Senyuman itu membuat Azlina tak percaya bisa melihatnya lagi.
"Ka-kakak?"
"Selamat pagi!" Lelaki itu melabuhkan kecupan di dahi Azlina. Kecupan ringan yang selama sebulan belakangan ini begitu dirindukan oleh perempuan itu.
"Tidak, aku sedang bermimpi. Ini hanya mimpi." Azlina menggeleng, masih belum bisa memercayai kenyataan di depan mata.
Lelaki itu hanya tersenyum, menikmati ekspresi kebingungan sang istri yang sedang menatapnya. Sungguh menggemaskan, wajah itu yang sejak beberapa hari yang lalu membuatnya tak bisa tenang dan tidur nyenyak. Dan kini, dia bisa memandang wajah itu sepuasnya.
__ADS_1
"Iya, kamu sedang bermimpi. Apakah kamu sangat merindukan suamimu sampai bermimpi senyata ini?"
Wajah yang semula cerah, mendadak redup seketika. Azlina tak bisa menyembunyikan rasa sedih itu. Sebegitu menyedihkannya dirinya sampai berhalusinasi Alvaro berada di dekatnya.
Dia mengangguk lesu. "Apakah kamu malaikat penyamar? Apakah kamu sedang menghiburku saat ini? Pergilah! Aku tidak mau melihatmu. Kamu hanya membuatku semakin merindukannya. Kamu tahu, dia tidak bisa dihubungi dua hari ini. Pasti dia sedang berselingkuh. Pergilah! Aku tidak mau melihatmu. Aku hanya ingin suamiku yang asli."
Azlina berbalik, memunggungi lelaki itu. Wajahnya begitu sedih, jika benar ini hanya halusinasi, sangat parah kah kerinduannya? Ataukah dia terlalu stres memikirkan kondisi janin dan dirinya yang sendirian di negeri orang?
Alvaro merasa tak tega juga jika membiarkan Azlina berpikir ini semua tidak nyata dan sekadar halusinasi, sehingga lelaki itu segera menarik bahu Azlina, membalikan tubuh istrinya itu kembali menghadapnya.
Air mata yang semalam sudah berhenti mengalir, kini tampak berderai kembali. Azlina membenamkan wajahnya di dada lelaki itu. Dia menangis, menangis sepuasnya. Rindu, tentu rindu itu pasti ada, tidak perlu ditanyakan lagi. Sehingga perempuan itu tak bisa menyembunyikan lagi perasaannya. "Kenapa lama sekali, Kak. Kenapa lama sekali datangnya?"
Alvaro hanya bisa memeluk perempuan itu. Tangan kekar itu mengusap punggung Azlina lembut, menenangkan perempuan itu dari emosi yang sepertinya telah lama ditahan. "Maafkan Kakak, ya?" Kembali kecupan itu berlabuh di pucuk kepala Azlina, menciumnya penuh sayang sebagai seorang suami yang melindungi istrinya.
"Hemm, aku mau nunjukin sesuatu."
__ADS_1
Pelukan itu terurai setelah Azlina bergerak untuk mengambil sesuatu di laci nakas. Perempuan itu sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, setelah mendapatkan barang yang diinginkan, dia segera kembali menghadap lelaki itu, menyodorkan benda lonjong dengan sedikit pipih itu.
"Lihatlah!"
Alvaro menerima benda itu dengan senyum mengembang. Meski dia sudah mengetahui kabar kehamilan Azlina, tetapi masih menunjukkan sikap terkejut dengan syukur yang luar biasa. "Ini punyamu?"
Azlina mengangguk bersemangat, seperti seorang anak yang sedang menunjukkan nilai ujian kepada orang orang tuanya, perempuan itu menunggu tanggapan dari Alvaro.
Lelaki itu menarik kepala Azlina, mendekapnya sembari mencium wajah itu berkali-laki. "Terima kasih, Sayang. Kakak akan menjagamu, menjaga kalian berdua. Jangan takut, ya. Kita akan menjaganya bersama-sama."
Azlina mengangguk patuh. Ketakutan yang dua hari ini dia rasakan sekaramg hilang sudah. Dia sudah memiliki seorang penjaga, pelindung yang akan membantunya melewati semuanya dengan baik.
...***...
》Ke bawah lagi ... 🤭
__ADS_1