Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
46. Ciuman Pertama


__ADS_3

"Ish, kenapa bilang begitu? Tidak tahu malu." Kian meronalah wajah Azlina, memukul ringan dada lelaki itu.


"Apa yang harus aku malukan? Bukankah kita suami istri?"


"Hemm, begitulah. Bukannya Kakak menganggapku adik? Kakak selalu menyebutku Bocil. Tidak pernah sekalipun aku mendengar Kakak memanggil namaku."


Alvaro sedikit terkekeh, lalu mengusap kepala gadis itu, membelai rambut hitamnya yang menjuntai di atas bantal, menyelipkan anak-anak rambut yang menutupi wajah Azlina ke belakang telinga gadis itu.


Sejenak dia termenung menatap wajah polos itu, lalu terfokus pada satu tempat, bibir. Itu adalah bibir yang sempat menempel di bibirnya beberapa menit yang lalu.


Bibir mungil dengan tebal bagian bawahnya itu tampak mengulum, seolah ada satu hal yang urung dikatan Azlina, hanya tertahan di bibir.


"Jadi, kau ingin aku menganggapmu apa, heem? Istri? Apakah kau yakin sudah siap menjadi seorang istri?"


"Maksud Kakak?"


Alvaro terlihat makin menundukkan wajah, mendekatkan wajahnya ke wajah Azlina, mengikis jarak keduanya dengan kening hampir saling menempel. "Kau ingin tahu bagaimana menjadi seorang istri yang sesungguhnya? Aku bisa mengajarimu jika kau mau."


Azlina hanya bisa meneguk ludah tatkala napas Alvaro menerpa wajahnya. Degup jantungnya sudah tak sanggup dikondisikan lagi, lelaki itu semakin mendekatkan wajahnya. Sementara tangan kirinya meraih tengkuk Azlina, menahan kepala gadis itu agar tak berpindah tempat, menguncinya dengan tepat.


Azlina merasakan bibirnya telah terjamah untuk pertama kalinya. Dia membelalakkan mata tatkala Alvaro menekan dengan lidah permukaan bibirnya, membuat gadis itu membuka mulut.


Tangan Azlina mencengkeram kuat piyama Alvaro, merasakan lelaki itu menjelajah rongga mulutnya dengan liar. Bahkan Azlina tak sanggup untuk menguasai diri, dia benar-benar awam soal ini. Antara terkejut, aneh, malu, dan juga nikmat bercampur menjadi satu. Azlina tak bisa menguraikan rasa yang telah diberikan oleh Alvaro saat ini.


Makin liar lelaki itu menciumnya, makin erat Azlina mencengkeram pakaian Alvaro. Tubuhnya terasa meremang dan menegang secara bersamaan. Hanya sebuah ciuman di bibir sudah memberikan sensasi luar biasa bagi gadis itu.


Tak pernah terbayangkan sekalipun bahwa dia akan berciuman dengan lelaki dewasa yang usianya terpaut jauh di atasnya.


"Kak!"


Azlina memanggil Alvaro di sela ciuman itu, membuat Alvaro menghentikan semuanya. Lelaki itu hampir lepas kendali. Dia tak menyangka akan melakukan itu kepada Azlina. Bahkan napas keduanya sudah tersenggal dan terengah-engah. Cukup panas apa yang baru saja dia lakukan, membuat dirinya hampir berpikir untuk melakukan hal lebih.

__ADS_1


Alvaro menghirup napas dalam, lalu menghelanya perlahan. Dia mengulurkan tangan, mengusapkan ibu jarinya ke bibir Azlina yang tampak lembab dan sedikit bengkak itu.


Napas Azlina juga terlihat naik turun, tak siap menerima perlakuan Alvaro yang tiba-tiba menerjangnya. Pengalaman pertama yang begitu asing dan tak pernah dia dapatkan sebelumnya membuat perasaan Azlina tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dia malu, takut, tetapi ingin tahu.


Sebagai seorang remaja yang pastinya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi membuatnya ingin mencoba apa yang belum pernah dia lakukan. Hingga ketika Alvaro menciumnya untuk pertama kali, Azlina sama sekali tak menolak. Dia penasaran bagaimana rasa dua buah bibir yang saling menempel dan menyapu seperti apa yang baru saja dilakukan Alvaro kepadanya.


Informasi yang sering dia dapatkan dari teman-temannya mengenai enaknya berciuman membuat Azlina hanya bisa menerima sambil mencerna apa yang diperbuat Alvaro kepadanya.


Dan rasa penasarannya kali ini terjawab sudah. Wajahnya kian merona ketika ibu jari Alvaro tak berpindah dari bibirnya, mengusapnya beberapa kali di tempat yang sama.


"Kau baru pertama kali melakukannya?" tanya Alvaro setelah itu.


Azlina hanya mengangguk mengiakan. Matanya masih saling bersitatap dengan mata lelaki itu.


"Bagus. Jika kau menginginkannya lagi, kau bisa mengatakannya kepadaku. Jangan mencoba melakukannya dengan pria lain. Kau mengerti?"


Seperti anak kucing penurut, dia hanya bisa mengangguk dan patuh tanpa sedikit pun menyela apa pun yang Alvaro katakan.


Sekali lagi Azlina menjawab dengan anggukan. Dia terlampau malu setelah ciuman itu terjadi. Azlina hanya bisa menurut tanpa banyak bicara membuat Alvaro semakin gemas kepadanya.


Lelaki itu mengecup kening Azlina kemudian, membawa tubuh gadis itu ke dalam dekapan, membiarkan Azlina agar kembali terbuai ke alam mimpinya.


Tepat ketika Alvaro mengusap punggung gadis itu, Azlina tiba-tiba melakukan sesuatu yang berhasil membuat Alvaro terkejut. Dengan tanpa berdosa gadis itu menanyakan sesuatu sambil mencengkeramnya.


"Kak, apakah ini milikmu? Singkirkanlah! Ini menggangguku." Dipeganglah milik Alvaro yang mengeras itu. Dia merasa 'itu' menekan bagian bawahnya, hingga membuat Azlina tak nyaman ketika lelaki itu memeluknya.


"Hai, lepaskan! Itu bisa membuatmu hamil." Alvaro berkata dengan wajah merah padam, sedikit membentak Azlina. Bisa-bisanya gadis itu mencengkeramnya tanpa rasa bersalah.


"Sungguh! Benarkah?" Azlina langsung melepaskannya, takut jika dia benar-benar akan hamil gara-gara menyentuh 'itu'. Akan tetapi, kendati masuk ke kelas IPS, Azlina tak terlalu bodoh mengenai sistem reproduksi manusia. Pasti Alvaro membohonginya, mana mungkin dengan menyentuh milik Alvaro dia langsung hamil.


Tunggu! Azlina baru sadar jika sesuatu yang keras tadi adalah aset pribadi lelaki itu. Dia menggeleng, tak ingin berpikiran yang tidak-tidak. Biarkan saja, Azlina merasa tidak perlu meminta maaf. Bukannya Alvaro juga pernah melakukan itu kepadanya? Jadi semua telah impas, tidak ada yang perlu meminta maaf.

__ADS_1


...***...


Pagi pun tiba, ketika suara azan Subuh berkumandang. Azlina menepuk-nepuk pipi Alvaro agar segera menyingkirkan tangannya. Dia ingin segera menunaikan salat Subuh di musalah terdekat bersama kedua orang tua dan kakak-kakaknya.


"Kak, bangun! Sudah Subuh."


Tampak Alvaro mengernyitkan kening, lalu menguap. Perkataan Azlina mengenai waktu subuh, membuat Alvaro segera melepaskan pelukannya dari gadis itu.


Merasa tubuhnya terbebas, Azlina segera turun dari ranjang, mengambil kuncir rambut, lalu mengikat rambut panjangnya dengan kuncir kuda. Dia segera keeluar dari kamarnya untuk pergi ke kamar mandi demi menuntaskan hajat buang air kecil kecil dan berwudu. Ya, kamar Azlina tidak dilengkapi kamar mandi sehingga harus turun ke lantai bawah.


Alvaro bangkit dari tidurnya ke posisi duduk. Dia menggelengkan kepala setelah mengingat kejadian semalam. Entah mengapa dia merasa gadis itu makin lama membuatnya tertarik. Bahkan, rasanya dia tak bisa jauh dari sang istri.


Sekali lagi Alvaro menyetujui perkataan bapak mertuanya jika pengantin baru tidak boleh tidur terpisah, karena dia yakin tidak akan bisa tidur senyenyak tadi jika Azlina tak berada di sisinya.


Mata Alvaro menatap ke arah pintu kamar yang terbuka. Terlihatlah di sana Azlina sedang mengusapkan handuk di wajahnya. Alvaro merasa Azlina makin hari kecantikannya bertambah-tambah. Mungkin gadis itu sudah mulai tumbuh dewasa dan lebih matang, sehingga aura dewasa dalam dirinya kian terpancar.


Apakah Alvaro harus mengubah segala kesepakatan yang sempat mereka bicarakan sebelum pernikahan?


Apakah itu artinya Alvaro sudah bisa melupakan Almeera?


Entahlah, Alvaro masih bimbang akan hal itu. Di sisi lain dia masih menginginkan Almeera, wanita dewasa, cantik, dan memesona itu masih terpatri di hatinya. Almeera adalah tipe wanita idaman bagi Alvaro. Namun, lelaki itu tak menampik jika dia mulai nyaman dengan hubungan pernikahannya dengan Azlina, gadis bocil kesayangannya.


"Kak, aku mau salat di musalah. Kakak mau ikut? Nanti aku pinjamkan Bang Ahsan kain sarung dan baju koko."


Alvaro mengangguk. Dia segera turun dari ranjang untuk pergi kamar mandi.


"Aku ikut. Tunggu aku! Kita berangkat bersama."


Azlina tersenyum menanggapi. Dia segera keluar dari kamarnya mencari pinjaman perlengkapan salat kepada kakak laki-lakinya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2